Suasana kampus mulai kembali hidup setelah libur panjang semester. Mahasiswa berseliweran dengan wajah baru semangat dan sebagian lainnya tampak stres karena tugas-tugas yang mulai menumpuk. Alana, yang kini sudah memasuki semester lima, tampak duduk di salah satu sudut kantin fakultasnya. Meja tempat ia duduk berada di dekat jendela yang menghadap taman kecil kampus. Angin sepoi masuk perlahan, menyapu helai-helai rambutnya yang dibiarkan tergerai.
Di hadapannya duduk seorang pria berperawakan tinggi, berkulit sawo matang, dan mengenakan hoodie hitam bertuliskan nama jurusan mereka—Alex. Sosok yang tak asing, apalagi di kalangan teman-teman mereka, Alex dikenal terang-terangan menyukai Alana. Dan meski semua tahu Alana sudah 'berdua' dengan Leon, Alex tetap tak menyerah.
"Jadi kita bagi tugas aja ya, Lex? Nggak usah kerjain bareng-bareng," ucap Alana sambil menyeruput es jeruknya. Suaranya terdengar datar, seperti sedang memasang batas.
Alex mengangkat alis, tersenyum santai, dan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Kok gitu? Nggak seru dong. Mumpung bisa kerja bareng. Sekalian brainstorming, Al."
Alana menatap Alex sebentar lalu kembali fokus ke gelasnya. Ia tahu, Alex bukan cuma mau 'brainstorming'. Alana bisa merasakannya sejak awal mereka ditunjuk sebagai satu kelompok untuk presentasi minggu depan. Itu alasan kenapa ia ingin menyelesaikan tugas secara terpisah.
"Bagi-bagi materi aja, Lex. Lebih efisien juga. Nanti tinggal kita gabungin aja pas udah fix," jawabnya, nada bicaranya tetap tenang tapi tegas.
Alex menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas seolah mengalah. "Lo takut Leon marah, ya?"
Alana berhenti mengaduk sedotan es jeruknya, lalu menatap Alex dengan sorot tajam. "Lo mau muka lo itu hancur sama Leon?" jawabnya, suaranya sedikit meninggi tapi tetap terdengar menggemaskan.
Alex tertawa, tapi tawanya langsung meredup saat melihat sosok tinggi mengenakan kemeja abu gelap dan jeans hitam muncul di pintu kantin. Langkahnya besar dan terarah—menuju mereka. Tatapan matanya tajam, dingin, dan penuh peringatan.
Leon.
Alex menelan ludah. Otomatis ia bersandar lebih tegak. Sementara Alana, yang belum sadar kehadiran pacarnya, masih sibuk menyedot es jeruk sambil mengecek notes di HP-nya.
Leon tiba di belakang Alana tanpa suara. Dalam satu gerakan cepat, ia merunduk dan mengecup pipi kanan Alana dari belakang. Spontan, Alana terkejut, hampir menjatuhkan HP-nya.
"Leon!" pekiknya pelan, memukul dada pria itu refleks. "Bikin kaget aja, ih!"
Leon hanya tertawa pelan. Wajahnya masih menatap Alex, yang kini tampak kikuk. Lalu dengan sengaja, Leon mencium lagi pipi Alana di depan Alex, kali ini lebih lama dan jelas lebih menunjukkan kepemilikan.
Alana, yang menyadari perubahan aura di sekeliling mereka, buru-buru berdiri dari kursinya. "Ayo pulang, Le," ajaknya cepat, tahu jika ia tidak segera menarik Leon pergi, kemungkinan besar Alex akan jadi pelampiasan cemburu.
"Yuk." Leon langsung menggenggam tangan Alana.
Alana berpamitan sopan ke Alex, lalu menggandeng lengan Leon keluar dari kantin. Sepanjang jalan menuju parkiran, suasana canggung. Leon diam. Alana pun hanya memeluk lengan Leon erat, mencoba mencairkan suasana.
Sesampainya di mobil, Leon membuka pintu penumpang untuk Alana seperti biasa. Sikap gentle-nya tidak pernah berubah, tapi kali ini ada nada yang lebih... muram. Ia menutup pintu perlahan, lalu masuk ke kursi pengemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, lalu menutup matanya dengan tangan kanannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
love, Alana (COMPLETED)
Romance"I'm jealous of everybody, who can see you everyday." - Leonardo Soedharman. "It's you. You're the one I want. It's always been you." - Alana Halim ps: tidak ada konflik berat, hanya ada kebucinan Leon dan Alana.
