BAB 9

29.9K 1.1K 40
                                        

Cahaya matahari pagi menyusup masuk lewat sela tirai jendela kamar Alana. Jam di nakas menunjukkan pukul 08.07 ketika gadis itu perlahan membuka matanya. Dengan malas, ia menggeliat di bawah selimut, lalu akhirnya duduk di tepi ranjang, menguap pelan. Setelah beberapa detik mengumpulkan nyawa, ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Air dingin yang membasuh wajahnya cukup membuatnya sedikit lebih segar.

Setelah menyikat gigi dan mencuci muka, Alana mengenakan hoodie tipis dan celana pendek rumah, lalu turun ke lantai bawah dengan langkah ringan, berharap aroma kopi dan roti panggang akan menyambutnya seperti biasa.

Namun, ruang makan pagi itu sunyi. Tak ada suara obrolan khas keluarganya, tak ada suara gelas beradu, bahkan tak ada piring yang terhidang.

Alana mengernyit.

"Kok sepi banget..." gumamnya, matanya menyapu ruangan. Biasanya, Mami dan Papi sudah duduk sambil membaca koran, sementara Kak Daryl sibuk dengan HP-nya.

Alana melangkah ke dapur dan memanggil,

"Bi Imaaah?"

Tak butuh lama, Bi Imah muncul dari arah dapur, mengelap tangan dengan celemek.

"Iya, Non Alana?"

"Mami, Papi, sama Kak Daryl kemana ya? Nggak sarapan?" tanya Alana dengan kening berkerut.

Bi Imah menatap Alana dengan heran.

"Loh? Non nggak dikasih tau ya? Mereka bertiga ke London, Non. Katanya ada masalah penting di cabang perusahaan sana."

Alana ternganga, "Hah? Serius, Bi?" Suaranya meninggi.

Bi Imah mengangguk cepat, "Iya, Non. Tadi malam mereka berangkat. Katanya mendadak banget."

Alana segera berbalik dan berlari kecil ke lantai atas. Panik, kesal, bingung bercampur jadi satu. Ia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Maminya. Dua kali panggilan tak dijawab. Di percobaan ketiga, akhirnya sambungan tersambung.

"MAMI! Kenapa kalian ke London nggak bilang aku?!" suara Alana langsung naik satu oktaf, napasnya memburu.

Dari seberang, suara Maminya terdengar lembut tapi lelah.

"Sayang, maaf ya. Ini memang mendadak sekali. Ada masalah besar di cabang sana, dan Mami, Papi, juga Kak Daryl harus langsung ke sana. Kami nggak sempat ngomong. Kita kira kamu udah tidur."

Alana terdiam, dadanya terasa sesak. "Berapa lama?" tanyanya pelan.

"Sepertinya sebulan, sayang. Tapi kami akan terus kabari kamu. Kamu baik-baik di Jakarta, ya? Kalau kesepian, hubungi Leon atau Kayla."

"Oke... Jaga diri kalian di sana ya, Mi. Jangan lupa kabarin aku terus."

"Of course, sweetheart. I love you."

"I love you too, Mi."

Sambungan diputus. Dan saat itu juga, kesepian menyergapnya. Mata Alana memanas.

Ia membuka kontak Leon dan langsung memulai video call. Tak lama wajah Leon muncul di layar, rambutnya masih berantakan, dan mata sipitnya belum sepenuhnya terbuka.

"Baby? Kenapa pagi-pagi udah nangis?" Leon langsung duduk tegak, panik.

"Mami, Papi, sama Kak Gio ke London, Le... Aku ditinggal sendiri." ucap Alana sambil menyeka air mata. Suaranya pecah.

Leon langsung menghela napas dan menatap layar dengan lembut. "Sini... peluk virtual dulu." ucapnya sambil membuka tangan ke arah kamera, membuat Alana terisak dan tertawa bersamaan.

love, Alana (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang