Ku Sebut ia Jahanam

50K 540 1
                                        

Aku takut jika harus berhadapan dengan ibu dan ayah tiri ku.

Dihadapan ku, mereka sangat bahagia. Si jahanam itu terlihat sangat memanjakan ibu ku.

"Sayang, kamu pulang jam berapa nanti? ibu mau pulang cepat" disela-sela sarapan. "a aku..a.. ibu emang mau pulang jam berapa? biar aku samakan saja jam pulang ku dengan ibu" jawab ku dengan parau.

"kemungkinan jam 5, kamu langsung saja pulang ke rumah ya" sanggahnya.

hah, jam 5 ? itu masih ada 3 jam kosong, gak mungkin aku pulang dengan waktu kosong 3 jam. aku gak sudi dirumah berdua dengan si jahanam itu lagi tanpa ibu ku.

"hhhmm, ibu aku ada janji ke toko buku sama kaka kelas ku. kebetulan dia mau bantu aku cari buku penting.'' jawab ku dengan muka menahan benci ku terhadap si jahanam itu.

"buku penting? buku apa nak?" tanya ibu dengan rasa penasaran. Aku tak menjawab, aku hanya menghabiskan sarapan ku dan berlalu pamit ke sekolah pada ibu ku.

"Buku penting! Sangat Penting! Buku 'CARA MEMBUNUH JAHANAM DALAM RUMAH SENDIRI' ." batin ku menjawab

*Sekolah*

Memang sudah sifat manusia suka berdiam tanpa sadar atau melamun tak tentu arah jika sedang ada yang difikirkan.

"Kebiasaan ya, kamu suka banget melamun disini" sebuah gelas kaca berisi jus mangga kesukaan ku berada didepan muka ku.

"eh kak bey, tumben disini?" tanya ku bingung.

"iiissshh Syafira Indriani Yudistira... aku yang nanya duluan kenapa kamu malah balik nanya aku ? " jawabnya memelas.

" heii kak Brian Prima Imension, maafkan aku yang balik nanya pada mu. dan tak perlu kamu sebut nama panjang ku itu" sanggah ku sekena nya

"Bay the way, thanks for giving me Mangga Juice ya kak" sambung ku.

"De, kamu kenapa sih? hampir 1 semester aku liatin kamu melamun gak jelas seperti tadi. ada yang bisa aku bantu gak de? please, kasih tau aku kenapa kamu melamun terus.." Setidaknya hanya kalimat itu yang ku ingat saat duduk bersama kak bey di depan kelas.

Sudah hampir jam 2 siang, dan aku gak mau waktu ini bergulir cepat menuju jam 2 dan tandanya aku harus pulang ke rumah.

Aku mana mau pulang kerumah dan ketemu si bajingan itu.

"Ooohhh God, Help me please" terucap dalam hati ku dan krriiiiiiiiiiinnnggggggg........... "Shit, kenapa baru bilang tolong udah harus denger bel pulang?" gerutu ku sambil menghempaskan badan ku ke meja.

Aku menuju gerbang sekolah dengan beberapa pikiran tak menentu.

"Apa aku pergi saja ke toko buku cari buku tips membunuh lelaki jahanam, atau aku pergi ke cafe deket sekolah saja nunggu sampe jam 5 sore" aku membatin sampai akhirnya aku tersentak karna melihat panah dari bunga mengarah ke lapangan upacara.

Belum sampai beberapa detik, aku dikagetkan kembali oleh suara yang berasal dari speaker sekolah.

"Syafira Indriani Yudistira do you want to be my girl ?"

Hening tapi aku kenal suara itu, yaaaa itu suara kak bey.

Tuhan, kenapa kak bey berani ngomong gini ke aku dihadapan temen -temen. "Aduuhh kak bey" batin ku teriak.

Aku memang menyukai kak bey, aku juga merasakan nyaman disamping dia. Tapi aku takut jika harus memiliki ikatan dengan pria. Aku takut dia berubah menjadi pria Jahanam seperti si brengsek ayah tiri ku itu.

"Syafira Indriani Yudistira, Mau kah kamu menjadi pacar Brian Prima Imension ? Kalau kamu mau, kamu bisa berdiri di tengah lapangan upacara, disana sudah ada aku menunggu. kalau kamu menolak, kamu bisa langsung pulang dan abaikan kejadian ini. Tapi kalau bisa, opsi kedua yang ku katakan dilupakan hingga kamu tidak memiliki opsi lain selain menerima ku" Ujarnya

Aku diam ditempat dan memikirkan baik-baik keputusan yang akan aku berikan nanti. "Baiklah, aku akan menghampiri kak bey dan beri jawaban ku."

Aku sama sekali tak melihat kehidupan disekolah ini, apa semuanya sudah pulang? Untunglah, jadi aku gak akan malu untuk hal ini.

Aku menyusuri koridor sekolah menuju lapangan upacara, dan ya aku melihat kak bey sudah disana.

"Akhirnya kamu menerima aku Sha." ucapnya sambil memberikan senyuman manis.

"Kak, sebenernya aku kesini mau bilang kalau aku gak mau memiliki ikatan spesial dengan pria"

Belum usai aku berbicara aku mendengar suara kecewa dari kerumunan orang diatas sana. Ternyata semua teman-teman satu sekolah menyembunyikan diri dibalik tembok.

"Yaudah, gak apa-apa de, someday i'll try it again" suara parau kak bey terdengar jelas ditelinga ku.

"iya kak, aku gak bisa. Tapi berhubung opsi kedua kaka dihapus, mau gak mau aku harus milih opsi pertama kan kak?" jawabku dengan pipi yang mulai memerah.

"Kamu serius kan de? Tapi kamu keliatan banget terpaksa de.."

"Ya kaka sendiri sih kasih opsi cuma satu, ya mau gak mau aku milih opsi itu kak" tersungging senyum manis diantara kita berdua. Dan saat itu kita mulai jadian.

"Aku antar pulang ya de" sambung kak bey pada ku.

"Tapi aku mau ke cafe yang dideket sekolah kita itu kak, aku mau makan banana split dari kemarin tapi belum kesampaian" jawab ku sambil menekuk muka ku karna kecewa.

"yauda, kita kesana yuk. itung -itung sebagai hadiah karna kita jadian" Semangat kak bey bikin aku melupakan niatan beli buku cara membunuh si jahanam itu.

My Suck FatherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang