Bab 10

108 43 7
                                    

Nilam menidurkan dirinya di kasur berukuran King size milik Quena. Hari ini mereka sepakat untuk berkunjung ke rumah Quena berhubung orang tua Quena sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Jadilah mereka dapat bersenang-senang di sana.

Awal nya Quena menolak. Ia tak mau rumahnya hancur porak poranda akibat ulah temannya. Tapi melihat Nilam yang selama berlangsungnya proses belajar itu terus murung. Quena pun tak tega. Ia mengizinkan teman-temannya itu bermain di rumahnya. Dan dengan kurang ajarnya mereka menghabiskan cemilan simpanan Quena hingga membuat sang pemilik mengamuk dan mengeluarkan mode biju-nya. Sungguh teman lucknut!

Tangan Nilam meraba sebuah kotak yang terletak di atas meja belajar Quena yang tak jauh dari tempat tidurnya. Alisnya terangkat menemukan dua mikrofon. Ia bangun dari posisinya. Memperbaiki duduknya. Hendak menyanyi.

"Sepiii hatikuuu, galau jiwakuu, saat kau katakan. Putus dengan akuu" Nilam menyanyi sembari menatap nanar langit-langit kamar Quena.

Quena dan Kristal yang tadinya asik menonton drakor menoleh, Mendapati temannya sedang galau akibat perkataan Genta yang hanya mengganggap-nya sebagai teman.

Tidak mau membiarkan Nilam menyanyi galau sendirian. Quena berjalan ke arah Nilam lalu mengambil satu mikrofon lainnya. Ia berdiri di atas kasurnya lalu menyanyi dengan gila.

"CINTA SATU MALAM OH INDAHNYA, CINTA SATU MALAM. BUATKU MELAYANG. WALAU SATU MALAM TAK KAN TERLUPA!"

Quena menyanyi dengan suaranya yang serak-serak basah itu dengan diiringi oleh goyangan badannya yang bak biduan kampung.

Nilam dan Kristal mengangah melihat tingkah gila temannya itu. Lalu kompak menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Itu temen lu, Nil?"

"Maaf, Bukan teman saya. Mungkin teman lo kali"

Kristal mendellik. "Bukan teman saya juga!"

"Jadi teman siapa, dong?"

"Positif thinking aja, Nil. Mungkin orang gila kesasar,"

Nilam menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Maybe."

"Jadi kita apain biar waras lagi, nih? Dibawa ke rumah sakit Jiwa?"

"Eh, jangan!"

"Panggilin Pak Ustadz? Biar diruqyah, siapa tau lagi kesurupan Jin biduan,"

"Jangan! Gini aja, kita ikutan kegilaan-nya, siapa tau dapat uang."

"HAH?!"

"SAMBALA SAMBALA BALA SAMBALADO!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"SAMBALA SAMBALA BALA SAMBALADO!"

"TERASA PANAS!"

"TERASA PEEDAS!"

"BIBIR BERGOYANG, LIDAH BERGEETAR"

"CINTAMU SEPERTI SAMBALA SAMBALADO! AH AH AH"

Suasana di kamar Quena sudah sangat hancur. Seprai tempat tidurnya terbuka, potongan kertas berceceran di lantai. Seperti kapal pecah.

Quena sendiri masih setia menyanyi seperti orang kesetanan. Ia menyanyikan lagu dari pedangdut ayu ting-ting itu dengan mengibas-ngibas rambut panjangnya.

Disampingnya, Kristal menggesek-gesekkan tangannya pada meja belajar Quena. Seolah-olah dirinya adalah Dj sambil sesekali meminum fanta dengan gaya orang mabok.

"ALAMAOE!"

"DICOLEK SEDIKIT, SEDIKIT SAJA! BIKIN SAKIT HAATI"

Nilam? Jangan ditanya. Dia menjadi penyorak lagu dengan hebo. Lalu menari-nari india menggunakan selendang milik Mama Quena.

Tak satu orang pun asisten rumah tangga Quena yang menegur mereka. Justru mereka juga ikut menjadi penyorak.

Seakan tak mau dikalah, mereka juga melenggak-lenggokan badan. Ke kanan, kekiri, ke depan, ke belakang. Mengikuti irama lagu.

"SAMBALO EH EH EH"

"SAMBALADO!"

"AAZEEK!"

"GOYANG MAANG!"

"SEMUANYA BERGOYAANG! SAMBALA SAMBALA BALA SAMBALADO!

***

Makasih buat yang udah vote:*

Next? 15 vote

Happy Or Sad EndingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang