Suara adzan subuh yang bersumber dari handphone Mas Awan membangunkan tidurku. Handphone nya yang bergetar di atas meja samping kepalaku bergetar lumayan keras. Aku mengecilkan sedikit volumenya sebelum menyibak selimut dan mengikat rambut dengan gelang karet yang selalu terpasang di pergelangan tangan.
Selimut kulipat beberapa kali sampai membentuk persegi panjang tak bersisa.
"Mas, udah subuh."
Aku cukup menyentak pundaknya sekali dan dia langsung terbangun. Butuh waktu beberapa saat untuk nyawanya terkumpul namun berikutnya dia langsung ke kamar mandi.
Pagi hari dengan rutinitas yang sama seperti kemarin, aku menyuguhkan roti bakar. Karena tak ada mesin pemanggang roti, aku hanya membolak-balikan roti tawar di atas permukaan teflon anti lengket yang kuberi mentega. Lumayan pantas.
Kembali kutanyakan selai yang Mas Awan suka. Rasa cokelat.
Kali ini aku tak ikut sarapan bersamanya dan memilih memperbaiki keran wastafel yang tadi agak longgar dan mengalirkan tetesan besar air. Tapi kalau lama-kelamaan dibiarkan, bisa boros tagihannya.
Bunyi pintu rumah yang tertutup memberi tanda kalau Mas Awan sudah pergi. Bersamaan dengan rapatnya keran wastafel setelah kukencangkan beberapa kali.
Beres.
***
Pernikahan adalah satu dari sekian fase hidup yang harus dijalani setiap orang. Bagi orang-orang yang mengikat romantisme dalam hubungan, pernikahan menjadi suatu hal yang bagaikan surga dunia. Menikah dengan orang yang dicintai, memiliki anak, dan hidup bahagia selama-lamanya.
Bagiku pernikahan juga merupakan salah satu fase hidup. Perlu dijalani agar hidup terus berlangsung tanpa terlabeli sebagai wanita gagal. Seorang wanita adalah seorang ibu. Istri dari seorang suami. Wajib mengurus suami hingga mati. Ada atau tidaknya cinta, pernikahan hanya mengenal kesiapan antar wanita dan laki-laki. Selama mereka siap dan mau hidup bersama, pernikahan bisa dilangsungkan.
Aku masih ingat sepenggal ucapan Mas Awan saat melamarku ke Ayah.
"Saya membutuhkan seorang wanita yang bisa mengurus saya dengan baik. Saya melihat Nara bisa mengurus saya jauh lebih dari kata baik. Abdi sering menceritakan Nara yang mengurusnya dan Om dengan telaten. Saya ingin istri yang seperti dia."
Dia mencari istri hanya untuk mengurusi kebutuhan sehari-harinya.
Dan yang kulakukan sekarang adalah pembuktian. Akan kupastikan Mas Awan tak salah memilihku.
Selain itu, aku perlu membuktikan pada keluarga besarku kalau ibuku tak salah membesarkanku.
***
"Gila sih, Ra. Semenjak kamu resign dari sekolah, anak-anak kelas 3 banyak yang bolos waktu diajar sama Belinda."
Fristri bercerita dengan nada horor. Seolah sosok Belinda, guru Bahasa Inggris penggantiku, juga ikut menakutkan dirinya.
"Waktu kutanya salah satu anak cewek MIPA, mereka bilang pergantian Miss Nara ke Miss Belinda bagaikan Obama ke Donald Trump!"
Tak mampu kutahan tawa lebih lama lagi.
"Mesti Odelia yang bilang gitu," tebakku sambil tersenyum geli.
"Bukan. Yang gendut pake kacamata merah itu siapa?"
"Dinda?"
"Oiya, Dinda." Fristri tertawa ngakak, "Gila, pada ketawa semua yang denger."
Aku penasaran, "Siapa emangnya yang tanya?"
"Aku, Bu Helmi, sama Farhan."
Meskipun tak melihatnya, tapi aku bisa membayangkan wajah jujur Dinda yang memang trouble maker kelas IPA 2 itu membuat siapapun yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]
General Fiction(SEBAGIAN BESAR PART DIHAPUS DAN DIPINDAHKAN KE KBM DAN KARYA KARSA PER TANGGAL 1 JUNI 2021) . Aku masih ingat sepenggal ucapan Mas Awan saat melamarku ke Ayah. "Saya membutuhkan seorang wanita yang bisa mengurus saya dengan baik. Saya melihat Nara...
![Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]](https://img.wattpad.com/cover/230105013-64-k237521.jpg)