Bab 7 : First Date

48.5K 4.6K 157
                                        

"Wah, jadi rapi rumahnya sekarang," komentar Mbak Della setelah aku bangun tidur siang.

Bersama Ziva, dia masuk ke rumah sambil membawakan rica-rica. Kelebihan memasak katanya.

"Sebelum aku kesini juga udah rapi, Mbak."

"Enggak, Ra. Aku masih inget kalau kadang main ke rumahnya Awan itu perabotnya nggak ditata serapi ini. Khas rumah bujangan. Kalau ini mah udah keliatan kalo ada perempuan tinggal di dalemnya."

Aku meletakkan air putih ke atas meja lalu ikut duduk di sebelah Mbak Della yang mengawasi Ziva memainkan mainannya di karpet. Dengan adanya mereka berdua, aku jadi tak terlalu bosan.

"Ya bisanya aku cuma bersih-bersih, Mbak. Masak juga belum bisa."

Mbak Della berseru, "Ih sama aja aku juga dulu awal nikah belum bisa masak. Santai aja, sambil belajar nanti. Apalagi kalau udah punya anak."

Hati-hati aku bertanya, "Mbak Della nikahnya dulu umur berapa?"

Hal yang mengganggu pikiranku melihat Pak Handoyo yang sudah lumayan berumur namun Ziva masih berumur lima tahun.

"Pasti kamu bingung ya," dia tersenyum lalu menjelaskan, "Mas Han itu sama aku jarak 15 tahun. Kita udah nikah dari sepuluh taun yang lalu, tapi memang baru dikasih Ziva lima tahun setelahnya. Banyak yang lihat sekilas mungkin ngiranya Mas Han itu kakeknya Ziva. Mukanya boros dia."

Walaupun sambil berkelar, tapi aku bisa melihat sinar sedih dari matanya. Kadang takdir memang tak seindah harapan. Apalagi kalau mau memikirkan pandangan orang lain, membuat hati lebih sakit.

"Eh, kamu sama Awan gimana? Masih mau berdua dulu apa udah mau program hamil?"

Aku mengedipkan mata beberapa kali. Boro-boro program hamil, sejak ciuman Mas Awan pagi kemarin, aku jadi agak menghindarinya. Yah, nggak sampai mendiamkannya. Tapi berusaha meminimalisir kontak fisik. Bahkan saat tidur aku selalu memastikan guling berada di dekatku.

Melihat keterdiamanku, Mbak Della tersenyum, "Maaf ya kalau aku kepo. Nggak usah dijawab. Yang menjalani kan, kalian."

Aku bersyukur dia tak bertanya lebih jauh. Rasanya malu kalau aku memberitahunya tentang peranku sebagai istri Mas Awan hanya untuk sekedar mengurus raganya.

"Oiya, sekalian mau ngasih tau, Ra. Besok kamu ikut senam pagi yaa sama Awan."

Aku teringat apa yang tempo hari diceritakan Pak Wira.

"Kira-kira nanti ngapain aja, Mbak?"

"Cuma senam pagi bareng. Ada camilam gratis juga. Biasanya pada ngobrol bentar abis senam."

Aku mengangguk, "Oke, Mbak."

Mbak Della menatapku sebentar, "Kamu agak pendiam ya, Ra? Atau memang kita belum kenal aja?"

"Memang kayak gini aku, Mbak. Nggak punya banyak cerita juga."

Ziva berdiri dan meminta dipangku, membuat Mbak Della berhenti mengamatiku.

"Eh, terus kalo sama Awan gimana? Kalian nggak diem-dieman, kan?"

Aku nyengir, "Ya gitu, Mbak. Apa adanya."

"Duh, duh." Dia berdecak, "Pasangan unik kalian ini. Kamu teko berani aja sama Awan, Ra. Dia kayaknya kalau nggak dipancing nggak bakalan gerak duluan."

Wajahku memerah, "Eh, apa maksudnya, Mbak?"

Mbak Della tertawa, "Bukan itu maksudku. Kalau itu mah Awan pasti nggak bakal nahan-nahan. Maksudku, kamu kalau mau minta diperhatiin, tinggal bilang aja. Minta ajakin keliling kota, lah. Aku liat kayaknya semingguan ini kalian belum pernah jalan keluar bareng."

Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang