"Mas, kamu beli toaster?" Aku menelpon Mas Awan saat istirahat kerja hari Senin.
"Oh, udah sampai?"
"Udah." Aku meneliti lagi bungkus paket yang tadinya melapisi kardus toaster di hadapanku.
Alamatnya benar dikirim kesini.
"Buat apa dibeli, Mas?"
"Buat bikin roti."
"Ya tau."
"Yaudah kalau udah tau. Baca dulu buku petunjuknya sebelum pakai."
Aku masih terheran-heran dengan paket yang barusan datang ini sampai tak sadar Mas Awan yang lantas menutup telepon.
Buat apa beli, sih? Kayak dia mau bikin roti bakar tiap pagi aja.
Tapi aku lumayan senang. Setelah ini tak lagi memanggang roti di atas teflon, yang tak bisa kutinggal untuk mengerjakan pekerjaan lain. Selama Mas Awan yang bayar juga aku tak masalah.
Aku menyimpan toaster baru itu di lemari dapur. Nanti malam aja nyobanya.
Aku sedang sibuk mencari sekolah yang sedang membutuhkan guru Bahasa Inggris di kota ini. Aku sudah bosan hanya diam di rumah tanpa melakukan aktivitas yang berarti. Rasanya satu Minggu cukup untuk beradaptasi dengan rumah. Rutinitas Mas Awan sudah kuhafal begitu pun dengan makanan kesukaannya. Kuharap setelah nanti aku mengajar lagi, dia tetap bisa kuurus dengan baik.
Setelah menggulir beberapa website sekolah dan tak menemukan satupun yang membutuhkan guru Bahasa Inggris, aku akhirnya menyerah sementara. Kuputuskan tidur siang sebentar lalu mulai memasak untuk makan malam nanti.
Mas Awan pulang seperti biasa. Tapi kali ini membawa martabak manis rasa cokelat. Aku hampir berseru gembira saat memindahkannya ke piring lebar.
"Tumbenan beli oleh-oleh," sindirku.
"Dikasih Tiwi di bawah."
Aku tak jadi mengambil sepotong, "Oh." Bahkan Tiwi tau rasa kesukaan Mas Awan.
Dia melirikku, "Nggak dimakan?"
"Nanti."
Lalu aku ngeloyor pergi ke depan tv. Pekerjaanku melipat kaos Mas Awan belum selesai tadi.
Dia menyusulku duduk di sofa. Aku mencegahnya menduduki bajunya yang belum kusetrika.
"Besok Mama minta kita ke rumah."
Aku meneguk ludah, "Ya."
"Tapi aku nggak mau," ucapnya yang membuatku menoleh.
"Kenapa, Mas?"
"Kapan-kapan aja. Capek kalau besok."
"Nanti Mama marah," kepadaku, lebih tepatnya. Nanti aku dikira yang menghalangi Mas Awan untuk pulang ke rumahnya sendiri.
"Yaudah kalau kamu mau kesana sendiri gapapa."
Refleks aku menggeleng. Yang disambut senyum samar Mas Awan.
"Kok nggak langsung mandi?" Aku meliriknya yang betah duduk di sofa sambil menonton tv. Kemejanya kusut dan dua kancing paling atasnya dilepas. Bahkan dia masih belum melepas kaos kakinya.
"Nanti."
"Keburu malem."
"Masak apa?" Dia malah bertanya, menoleh padaku.
"Nugget."
Aku tau dia suka nugget. Cukup memakannya bersama nasi dan saus. Makanan paling sederhana yang dia bisa makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]
Ficción General(SEBAGIAN BESAR PART DIHAPUS DAN DIPINDAHKAN KE KBM DAN KARYA KARSA PER TANGGAL 1 JUNI 2021) . Aku masih ingat sepenggal ucapan Mas Awan saat melamarku ke Ayah. "Saya membutuhkan seorang wanita yang bisa mengurus saya dengan baik. Saya melihat Nara...
![Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]](https://img.wattpad.com/cover/230105013-64-k237521.jpg)