Kota yang baru kusinggahi ini terasa asing bagiku. Dengan lalu lintas yang padat di siang hari, kompleks tempat tinggal Mas Awan berada tak jauh dari pusat kota. Aku berhasil naik jalur bis yang tepat, mengantarku ke supermarket tempat langganan belanjaku kalau di rumah. Kira-kira dua puluh menit kemudian aku tiba di halte di depan deretan bangunan tinggi dan pertokoan di sekitarnya.
Menjelajah sendiri bukan hal baru bagiku. Aku terbiasa melakukan semuanya tanpa ditemani orang lain terutama dalam berbelanja. Sekalipun di tempat asing yang belum pernah kuinjakan kaki sebelumnya.
Supermarket lumayan ramai dengan beberapa ibu-ibu yang mendorong troli ditemani kerabat atau anaknya. Bahkan antrian di kasir memanjang di beberapa tempat. Besar kemungkinan ini supermarket yang memiliki kebutuhan pokok terlengkap.
Aku mengambil bahan-bahan yang masuk catatan di handphone yang sempat kubuat tadi di bus. Isinya seputar produk kebersihan dan makanan cepat saji yang cukup untuk persediaan di rumah. Entah Mas Awan doyan tidak dengan pasta, sosis, nugget, dan ikan kalengan. Tapi aku tetap memasukkannya ke troli untuk variasi masakan. Aku juga membeli beberapa bumbu instan meskipun belum pernah kucicipi. Lalu setelah menambahkan snack ringan dan ice cream, aku siap menuju kasir.
Setelah dari supermarket, aku masuk ke salah satu kedai ayam geprek di dekat supermarket yang lumayan ramai. Tak berlama-lama, aku keluar dari sana menuju halte bus awal. Perjalanan ke rumah lebih singkat daripada berangkat tadi karena jalanan mulai lengang menjelang ashar.
Aku membawa plastik di kanan kiri yang lumayan penuh sambil menyapa satpam yang berjaga di pos satpam di lantai satu. Beliau balas menyapaku.
"Sendirian, neng? Istrinya Mas Awan kan?"
Aku agak terkejut karena beliau mengenaliku hanya dari pertemuan pertama kemarin lusa saat pindahan. Pria paruh baya dengan tubuh kurus pendek itu memiliki senyum ramah namun terlihat galak saat diam. Awalnya kukira dia akan super jutek tetapi saat melihat senyum ramah yang diberikannya bahkan dari kejauhan, aku berubah pikiran. Satpam yang baik.
"Mau saya bantu bawakan naik, neng?" Tanya pak satpam yang ku tak tau namanya itu.
Aku melirik nametag di dadanya.
Wira Agung. Pak Wira.
"Nggak usah, Pak. Ini bisa bawanya. Nggak terlalu berat juga," tolakku dengan halus.
Walaupun sebenarnya tangan kanan dan kiri ku lumayan tegang membawa dua plastik besar belanjaan dari tadi.
"Udah kewajiban saya bantu penghuni sini, neng. Yuk, bapak bantu bawakan, nanti dimarahin Mas Awan saya."
Lalu tanpa bisa membantah lagi, Pak Wira mengambil dua plastik sekaligus dari tanganku. Beliau mempersilahkanku jalan duluan.
"Mas Awan mesti seneng ya, neng. Sekarang udah ada yang masakin makanan kalau pulang, ada yang nyambut. Kasian dari pindah kesini beberapa taun lalu keliatannya sendirian terus. Pulangnya Maghrib, capek. Kadang kalau malam beli nasi goreng atau ayam, dua porsi. Satunya dikasih saya pas berhenti di pos satpam," cerita Pak Wira sambil terkekeh.
Aku menyimak dalam diam. Karena belum lama mengenal Mas Awan, aku belum tau sifat dan kebiasaannya. Selain dia yang jarang bicara, aku tak tau sifatnya yang lain. Wajar, baru dua hari.
Maka aku terus mendengarkan cerita Pak Wira soal Mas Awan saat di lift tanpa interupsi.
"Mas Awan banyak disukai perempuan sebayanya di flat ini, neng. Kudu hati-hati jagainnya. Kalau lagi ada senam hari Minggu pagi, pasti ada aja yang deketin."
Lantas Pak Wira menyebutkan nama beberapa perempuan yang tinggal di lantai satu dan tiga yang katanya suka ngobrol banyak dengan Mas Awan saat senam pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]
Ficción General(SEBAGIAN BESAR PART DIHAPUS DAN DIPINDAHKAN KE KBM DAN KARYA KARSA PER TANGGAL 1 JUNI 2021) . Aku masih ingat sepenggal ucapan Mas Awan saat melamarku ke Ayah. "Saya membutuhkan seorang wanita yang bisa mengurus saya dengan baik. Saya melihat Nara...
![Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]](https://img.wattpad.com/cover/230105013-64-k237521.jpg)