Mungkin aku bisa mengabaikan ciuman Mas Awan pertama kali setelah aku mengeringkan rambutnya. Tapi untuk ciumannya semalam, membuatku tak bisa tidur dengan nyenyak. Mataku memang terpejam tapi nyawaku terjaga. Semoga dia yang tidur di ujung ranjang, tak menyadari tingkahku semalam. Untungnya dia tertidur pulas dengan badan menelungkup seperti biasa.
Mas Awan sudah berangkat kerja beberapa jam yang lalu. Aku juga sudah selesai membersihkan rumah. Sekarang setelah berdiam diri, aku jadi teringat lagi tentang semalam. Apalagi saat selesai menjemur baju di balkon. Tempat kejadian perkara masih terasa panas.
Karena tak betah lama-lama di rumah, aku memutuskan pergi ke rumah Mbak Della. Dia sedang menemani Ziva main di ruang tengah.
Pertama kali aku ke rumahnya, ternyata rumahnya tak jauh beda denganku. Hanya penataan perabot yang menjadi pembeda. Jadi rasanya aneh melihat bentuk rumah dengan suasana berbeda.
Kami mengobrol ngalor ngidul sambil menonton televisi. Lalu Mbak Della mengajakku keluar.
"Nyalon yuk, Ra."
"Boleh, Mbak. Aku minta izin Mas Awan dulu."
"Siap."
Aku menyambungkan panggilan ke nomor Mas Awan sementara Mbak Della bersiap-siap.
"Kenapa?" Tanyanya tanpa basa basi.
"Aku mau ke salon, boleh?"
"Sendiri?"
"Sama Mbak Della."
"Ya."
"Makasih."
Lalu telepon tertutup. Jangan dikira setelah dia menciumku, sikapnya bakal berubah 180 derajat. Dia masih kaku dan tak banyak bicara. Hal yang membuatku lega juga. Syukur kalau dia masih seperti Mas Awan yang kukenal.
Kami ke salon naik mobil Mbak Della. Aku memangku Ziva yang tak mau duduk sendiri di belakang. Anak itu berceloteh riang sambil menunjuk apapun yang dilihatnya di jalanan.
Sesampainya di salon salah satu mall, aku dan Mbak Della langsung meminta perawatan rambut. Awalnya dia hendak mengecat rambutnya, tapi setelah menelpon suaminya, tak diijinkan. Meskipun begitu, kami menikmati sesi hair treatment yang cukup meringankan pikiran.
Saat menunggu rambut dikeringkan di kursi salon sambil mengobrol, Mbak Della tiba-tiba melihatku dari cermin di depan.
"Ra, kamu keturunan cina atau gimana? Mukamu bisa kayak orang cina."
Aku menggeleng, "Engga, Mbak. Keluargaku asli Jawa semua."
"Tapi matamu sipit lho. Hidungmu juga kecil. Awan mentang mentang cakep, nyarinya yang cakep juga."
"Eh, apaan, Mbak. Jelek gini kok dibilang cantik."
"Wealah, kamu ki, Ra. Sok merendah segala. Pasti dulu pas perawan banyak yang naksir ya. Apalagi kamu kalem manis gini."
"Pada mundur semua, Mbak."
"Lho, kenapa? Kamu punya pacar?"
"Engga. Aku blokir semua nomor cowok yang sering tanya-tanya nggak penting."
"Woo. Emang kamu, Ra, Ra. Langka cewek cantik kok cuek."
Aku tertawa kecil. Lalu terbersit satu pemikiran yang perlu kutanyakan ke Mbak Della.
"Mbak, kalau cowok nyium cewek. Apakah cuma ketertarikan secara visual aja?"
Mbak Della berpikir sebentar, "Ya kalau baru kenal tiba-tiba main cium aja, berarti emang intinya ada di visual itu. Tapi kalau udah lama kenal, terus cium, berarti udah main hati. Ada magnet batin yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]
Ficción General(SEBAGIAN BESAR PART DIHAPUS DAN DIPINDAHKAN KE KBM DAN KARYA KARSA PER TANGGAL 1 JUNI 2021) . Aku masih ingat sepenggal ucapan Mas Awan saat melamarku ke Ayah. "Saya membutuhkan seorang wanita yang bisa mengurus saya dengan baik. Saya melihat Nara...
![Cloudy Marriage [KBM & KARYAKARSA]](https://img.wattpad.com/cover/230105013-64-k237521.jpg)