LDR --> Lisa, Dira, dan Rika.
.
.
.
Menceritakan tentang persahabatan antara Lisa, Dira, dan Rika, mereka sama-sama cantik. Namun sayang, mereka tergolong cewek yang 'bad', akan tetapi bukan berarti mereka tidak mempunyai sisi kebaikan di hatinya...
Gue merasa kesal dengan sepupu gue sendiri, bisa-bisanya dia membuat gue menunggu berjam-jam lamanya disalah satu cafe yang letaknya jauh dari rumah gue. Alhasil setelah mendengar azan maghrib, gue segera bergegas pulang.
Sekitar pukul delapan malam, tiba-tiba gue mendapat pesan dari sepupu sialan itu, dia meminta gue untuk balik lagi ke cafe sebelumnya. Dengan ogah-ogahan gue mengambil jaket dikamar gue lalu pergi keluar, tanpa pamit pada kedua ortu gue yang sedang bermesraan didapur. Gue yang melihatnya miris, kenapa sampai sekarang gue belum menemukan cinta yang tulus, yah meskipun mantan gue sudah puluhan.
Rika POV End
• • •「◆」• • •
Ditengah perjalanan tanpa disengaja Rika melihat sebuah mobil yang tak asing baginya, sedang berhenti didepan salah satu pusat perbelanjaan. Saat melihat pemilik mobil itu keluar, Rika segera memarkirkan mobilnya dan beranjak keluar.
"Rik, ngapain lo disini? Mau nyari cogan, nggak disini juga kali tempatnya." Celetuk Lisa.
Pemilik mobil yang Rika lihat adalah Lisa.
"Gue ada janji ama Sarah."
"Bukannya itu sore tadi pas pulsek ya,"
"Lo nggak tahu ceritanya. Oh ya lo abis darimana mau kemana?"
"Gue abis dari rumahnya Dira, ini mau mampir beli camilan."
"Mending lo ikut gue aja Lis, gimana?"
"Boleh deh, skuylah..."
Alhasil Lisa mengurungkan niatnya untuk mampir ke supermarket dan berujung ikut bersama Rika menemui Sarah.
Semilir angin malam kian terasa, saat mereka berdua tiba ditempat tujuan. Seorang cewek melambai kearah mereka.
"Lama amat si lo Rik!"
"Gue lama? ngaca dong! Gue udah nunggu disini tadi ampe berjam-jam tau-taunya lo baru nongol."
"Hehehehe sorry Rik, oh ya katanya kesini sendiri, ternyata berdua ama Lisa."
Tiba-tiba saat Lisa ingin menyahut perkataan Sarah, seorang cowok mengalihkan pandangannya. Lisa menatap lekat wajah cowok itu, bukan karena kagum melainkan sepertinya dia tidak asing dengannya.
"Lo ketos Pelita Harapan bukan sih?" tanya Lisa.
"Lo itu temennya Dira kan? yang tadi siang?"
"Kalian kenal?"
Rika menyipitkan matanya, menatap lekat wajah cowok didepannya. Ganteng? Iya, Putih? Iya, Tinggi? Juga iya, paket komplit lah. Tapi dia heran dengan Lisa, mengapa dia bisa mengenalnya sementara dirinya sama sekali tidak mengenalnya, jangankan mengenal dirinya saja belum pernah bertemu dengan cowok itu.
"Rik, lo harus tahu! Dia itu Tama, temen yang sering Dira cerita itu."
"Jadi Dira sering cerita tentang gue ke kalian?" baik Lisa maupun Rika mengangguk cepat.
"Yah Satria, aku kira kamu belum tahu mereka berdua. Soalnya mereka ini baru pindah ke Pelita Harapan, tau-taunya malah udah kenal."
"Bukan kenal Sar, kebetulan aku baru tahu kalau mereka temenan sama Dira." Jelas Satria.
"Tunggu-tunggu, Aku-Kamu maksudnya apa nih? Kalian pacaran?" entah kenapa Sarah tiba-tiba tersenyum malu mendengar pertanyaan Rika.
Namun mendengar jawaban Satria, senyum diwajahnya hilang. "Kita berdua hanya sebatas sahabat, nggak lebih. Soal Aku-Kamu itu, karena kita udah kebiasaan sejak dulu."
Sekilas info, bahwa Satria sudah mengenal Sarah sejak mereka duduk di bangku SD kelas tiga, tepat setelah dia berpisah dengan Dira.
"Gue kira lo pada pacaran. Oh ya udah pesen makanan belum nih? Gue laper banget."
"Bentar lagi dateng, tapi tadi gue nggak sempet pesen buat Lisa. Lo sendiri sih nggak bilang-bilang mau ikut."
"Biar gue pesen sendiri, tapi lo kan yang bayar?" Sarah menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, mereka berempat fokus pada makanan masing-masing. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit, membuat mereka memutuskan untuk menyudahi pertemuan kali ini.
"Sorry Sar, kamu pulangnya ama Rika yah, aku masih ada urusan."
"Urusan apa malem-malem gini Sat?"
"Kepo amat lo Sar, udah buruan ikut gue ngantuk nih tiba-tiba."
"Tapi... " Tangan Sarah ditarik kuat oleh Rika, meninggalkan area cafe yang mulai sepi.
Saat Lisa beranjak dari duduknya, Satria memegang tangannya dan pandangan mereka bertemu untuk sesaat.
"Gue boleh minta tolong ama lo?"
"Apaan, awas aja lo nyuruh gue yang berhubungan ama Dira. Males gue!"
"Kok lo tahu?"
Lisa menghela nafasnya. "Ya gue tahulah dari muka lo, lagipula gue heran ama Dira, tadi Devan nitipin gue kotak buat dia! Sekarang lo, buruan deh lo mau nitip apaan, nggak usah basa-basi, mumpung gue lagi baik hati."
Satria yang mendengar nama Devan, merasa tidak asing dengan namanya dan benar saja setelah Lisa menjelaskan siapa Devan, ternyata dugaannya sangat tepat. Jika Devan yang Lisa katakan adalah kapten basket Pelita Harapan.
"Gue cuma bilang sama lo, besok istirahat pertama suruh Dira temuin gue di lapangan basket."
"Mau apa lo!"
"Kepo!"
"Yee, udah minta tolong malah ninggalin lagi. Nasib jomblo gini amat sih." Lisa menghela nafas sambil meratapi nasibnya yang jomblo.
.
.
.
Sarah Cheryna Azhari (Sarah) Sepupu Rika + Teman dekat Satria.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.