Johnny tidur larut malam dan terbangun dengan suasana hati yang buruk. Dia mengenakan celana jeans, kaus berwarna biru pudar, sepatu moccasin kulit, serta menaruh topi di kepalanya. Sembari berjalan menuju dapur, dia melihat ke sekelilingnya, lalu memutuskan pergi ke penginapan untuk meminum secangkir kopi buatan Ten.
Dia mengangguk ke arah segelintir tamu yang juga menuju ke penginapan. Akan terjadi badai. Johnny bisa mencium bau hujan di udara. "Cuacanya benar-benar sesuai dengan suasana hatiku," gumamnya. Dia lalu memutuskan untuk duduk dibagian belakang, dekat dengan jendela ketika dia sampai di ruang makan.
Jennie menghampiri mejanya. "Kami punya honey pancake dan omelette untuk sarapan." Wanita itu menuangkan secangkir kopi untuknya. Jennie itu wanita yang cantik, rambutnya hitam lurus, sorot matanya menggoda, serta senyuman yang senantiasa menghiasi bibir merahnya. Wanita itu telah bekerja di peternakan kurang lebih delapan bulan, dan tidak menyembunyikan sedikitpun rasa tertariknya kepada Johnny. Tetapi, hingga saat ini Johnny selalu mengelak untuk mengajak wanita itu berkencan. Dia pernah terbakar sekali, jadi lebih baik untuknya jika menghindar.
Setelah memesan sarapan, Johnny meraih cangkir kopi dan menyesap isinya. Bertentangan dengan kehendak hatinya, dia menyadari dirinya kini tengah memikirkan Jaehyun. Dia ingin tahu ada dimana pemuda manis itu sekarang dan apa yang tengah pemuda manis itu lakukan. Johnny mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan dari pemuda manis itu. Apakah Jaehyun sudah sarapan? Batinnya. Mengalihkan tatapan ke luar ruangan, dia melihat langit mulai gelap, kilat menyambar di kejauhan. Sepertinya dia harus membatalkan acara berkudanya siang ini.
"Kau terlambat," ujar Taeil yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Ya." Johnny mengangkat bahu acuh. "Mau bergabung denganku, hyung?" ajaknya.
Taeil tersenyum seraya duduk di hadapan Johnny. "Ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiranmu, Johnny-ah?"
Johnny menatap Taeil malas. "Tidak ada. Memangnya kenapa?" tanyanya sambil menyesap kopinya perlahan. Pandangannya kembali ke luar sana, hujan perlahan turun, tetes-tetesnya memercik jendela, menghiasi kaca jendela itu dengan titik-titik air.
Taeil menggeleng. Pria itu memilih untuk mengelola peternakan ini seorang diri, semenjak kematian ayahnya yang mewariskan peternakan itu untuknya. "Jangan berbohong padaku. Aku sudah mengenalmu seumur hidupmu. Jadi kau tidak bisa merahasiakan apapun dariku. Sekarang katakan apa yang tengah kau pikirkan?" Taeil menatap Johnny lekat saat pria di hadapannya itu tak jua menjawab pertanyaannya. "Ah, hanya ada dua kemungkinan mengapa kau terlihat seperti ini," gumamnya seraya merenung. "Jika bukan masalah uang pasti masalah cinta. Salah satu tebakanku pasti benar."
Johnny mendengus samar. Pamannya itu seperti cenayang yang tahu segalanya.
Jennie meletakkan pesanannya, sebelum Johnny sempat menjawab pertanyaan pamannya itu. Wanita cantik itu memandang Taeil. "Anda memerlukan sesuatu, Taeil-ssi?"
"Tidak. Terima kasih, Jennie." Taeil menunggu hingga Jennie meninggalkan meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Sekarang sudah saatnya kau melupakan masa lalu. Kau terlalu fokus bekerja, berkencanlah sesekali. Kenapa kau tidak mencoba mengajak Jennie? Sangat jelas terlihat dia menaruh hati padamu. Lagi pula, dia sangat cantik dan kalian berdua terlihat cocok."
"Hyung..."
"Kau keluargaku, Johnny-ah," sela Taeil, "Aku punya hak untuk ikut campur urusan asmaramu. Aku tidak suka melihatmu terlalu sering menyendiri dan terlalu fokus bekerja. Kalau kau tidak tertarik dengan Jennie, kenapa tidak mendekati Tuan Jung yang manis itu. Dia sangat cantik dan sexy untuk ukuran seorang pria, terutama bokongnya yang terlihat padat dan kencang."
![](https://img.wattpad.com/cover/234413705-288-k34635.jpg)
KAMU SEDANG MEMBACA
Dude Ranch Bride (Johnjae)
Fiksi PenggemarJaehyun memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahannya dan bersembunyi di Jeju. Namun, disana dia justru bertemu dengan mantan kekasihnya, Johnny Seo. Pria yang sangat dicintainya hingga saat ini. Apakah perasaan pria itu juga tak berubah terhad...