Jaehyun telah berusaha tapi gagal. Dibutakan oleh kekecewaan, dia kembali ke pondoknya. Di dalam pondok lututnya menabrak sebuah kursi ketika dia meraba-raba mencari tombol lampu, tetapi rasa sakit di kakinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
Johnny tadi bilang jika pria itu tidak menginginkannya, tapi dia tidak bisa begitu saja percaya—menolak untuk mempercayai hal itu. Johnny tadi menciumnya bukan seolah pria itu tidak menginginkannya.
Pemuda manis itu menenggelamkan diri di sofa dan memejamkan mata. Mengapa dia harus kembali ke tempat ini dan bertemu dengan Johnny lagi? Mengapa semua ini harus terasa begitu menyakitkan? Mungkin ayahnya benar. Mungkin dia memang seharusnya menikah dengan Mingyu, mereka berasal dari latar belakang yang sama. Mereka merasa nyaman satu sama lain. Orangtua Mingyu menyukainya begitupun sebaliknya. Mingyu mungkin takkan pernah bernyanyi untuknya, atau bertelanjang kaki menyusuri pantai di malam hari. Pria itu mungkin takkan memberikannya sebuah boneka kelinci—yang menurut pria itu terlalu kekanakan. Mungkin takkan pernah membuatnya patah hati.
Amarah melanda dirinya. Mengapa dia hanya duduk di sini dan mengasihani diri sendiri? Dia masih muda. Lajang. Cerdas. Dan tidak jelek. Jika Johnny terlalu buta untuk menyadari semua itu, pria itu sendirilah yang rugi. Johnny mungkin tidak membutuhkannya, tetapi dia membutuhkan pria itu. Lalu, amarahnya surut dan menghilang dengan cepat. Ada satu hal lagi tentangku, batin Jaehyun sambil menyeringai. Dia seseorang yang ulet, keras kepala, dan terbiasa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan dia menginginkan Seo Johnny. Dia akan mendapatkan pria itu. Dia sudah berkata kepada Johnny bahwa dia belum kalah, dan memang tidak akan kalah.
"Lihat saja kau, Seo! Aku pasti akan mendapatkan kau kembali! Aku pasti akan menang!" ucap Jaehyun penuh tekad.
***
Mingyu sudah berada di depan pintu pondok Jaehyun pagi-pagi sekali keesokan harinya.
"Hai, Jae," sapa Mingyu sembari tersenyum. "Siap untuk sarapan?"
"Ya." Jaehyun mengangguk pelan. Tidak ada gunanya menolak pergi bersama pria itu. Dia lapar dan perlu makan. Dia sedikit lebih ceria, membayangkan kemungkinan mereka berpapasan dengan Johnny di penginapan.
Dan Jaehyun memang menabrak Johnny. Pria itu sedang berjalan keluar dari ruang makan saat mereka masuk, hanya saja pemuda manis itu sedang menatap Mingyu sehingga tidak melihat Johnny.
Johnny menyambar lengan Jaehyun agar pemuda manis itu tidak terjatuh. "Maaf, Jaehyun-ssi," ucapnya dingin.
Jaehyun bisa mendengar nada dingin yang terlontar dari mulut Johnny, namun dia juga bisa melihat kilat gairah di sorot mata pria itu saat menatapnya. "Tidak apa-apa. Salahku," balasnya tak kalah dingin. "Oh, ya, Johnny-ssi, kurasa kau belum berkenalan dengan temanku, Mingyu." Dia menekankan kata 'teman'. "Mingyu ini Seo Johnny. Kau ingat dia? Dia adalah pemandu perjalanan berkuda kita tempo hari."
"Ya, tentu saja aku masih mengingatnya," sahut Mingyu. Dia tidak repot-repot untuk mengulurkan tangannya kepada pria yang Jaehyun kenalkan padanya.
Johnny balas mengangguk, tangannya sendiri mengepal erat disisi tubuhnya.
Jaehyun menatap Johnny dan Mingyu bergantian. Mereka terlihat saling menilai satu sama lain layaknya dua predator yang memperebutkan buruannya. Keheningan merebak hingga susana menjadi tidak nyaman.
"Senang bertemu denganmu, Seo Johnny-ssi. Ayo, Jae," ajak Mingyu, dan seraya menggandeng Jaehyun, pria itu membimbingnya melewati Johnny menuju ruang makan.
Mereka menemukan sebuah meja di samping jendela dan duduk di situ. Pelayan membawakan kopi dan mencatat pesanan mereka.
"Siapa sebenarnya pria itu?" tanya Mingyu, setelah pelayan menjauh dari meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dude Ranch Bride (Johnjae)
ФанфикшнJaehyun memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahannya dan bersembunyi di Jeju. Namun, disana dia justru bertemu dengan mantan kekasihnya, Johnny Seo. Pria yang sangat dicintainya hingga saat ini. Apakah perasaan pria itu juga tak berubah terhad...
