Ketukan di pintu yang terus menerus membangunkan Jaehyun. Dia bangun dengan enggan, tidak ingin meninggalkan mimpinya dan menghadapi kenyataan. Mimpinya sangat indah. Dia sedang duduk bersama Johnny di tepi sungai yang mengalir tenang dan berliku melewati padang rumput yang disinari matahari. Johnny sedang mencondongkan tubuhnya mendekati dirinya, matanya yang kelam berbinar menyiratkan gairah, terpusat di bibirnya.
Dia melempar selimutnya, lalu melangkah menuju pintu dan membukanya.
"Kau masih di tempat tidur?"
Jaehyun membelalakkan matanya. "Johnny! Apa yang kau lakukan di sini!? Kau tahu sekarang jam berapa?"
"Jam tujuh tepat," jawab Johnny, seraya menarik Jaehyun ke dalam pelukannya. "Aku seharusnya berada di istal. Ada dua belas tamu sedang menungguku, sementara aku di sini menantikan sebuah ciuman."
"Kalau begitu sebaiknya lebih dari satu ciuman," ujar Jaehyun sambil tersenyum ke arah pria itu. "Sehingga penantian mereka tidak sia-sia."
Johnny menciumnya, dan menciumnya lagi. "Ingat kau sudah berjanji untuk merindukanku," ucapnya.
"Aku ingat. Sekarang saja aku sudah merindukanmu."
"Dengan kau berada di sini, menungguku, mereka mungkin takkan menempuh perjalanan sejauh yang mereka inginkan." Johnny mencium Jaehyun sekali lagi, dengan ciuman posesif yang lebih ganas, memeluknya begitu erat, lalu pergi.
Jaehyun masih tersenyum saat kembali ke tempat tidur dan tertidur lagi, kemudian dibangunkan oleh dering ponselnya beberapa saat kemudian.
Dia melihat layar ponsel yang berkedip, menampakkan nama ibunya di sana. "Halo."
"Jaehyun-ah."
Jaehyun bangkit seraya menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. "Eomma?"
"Kau harus segera pulang! Appamu..."
"Ada apa? Apa yang terjadi?" potong Jaehyun ketika mendengar nada khawatir dari suara ibunya.
"Appamu dirawat di rumah sakit... Jantungnya... Kondisinya buruk, sayang."
Jaehyun terkesiap, dadanya mencelos. "A-aku akan menyewa mobil, mencari penerbangan tercepat dan pulang secepatnya!" Dia menghela napas dalam. "Cobalah untuk tidak khawatir, eomma. Di rumah sakit mana appa dirawat?"
"Rumah Sakit Seoul. Cepatlah dan berhati-hatilah di jalan."
"Ya, jaga appa dan sampai ketemu, eomma."
Jaehyun meletakkan ponselnya di atas ranjang dan bergegas turun dari tempat tidur. Dua puluh menit kemudian, dia sudah siap dan menunggu seseorang untuk mengantarnya ke kota. Ayahnya berada di rumah sakit. Jaehyun nyaris tidak memercayai hal itu. Ayahnya selalu tampak begitu kuat dan tangguh. Sejujurnya dia begitu mengidolakan ayahnya. Ayahnya yang pekerja keras. Ayahnya yang lembut, namun tegas dan keras kepala. Ayahnya yang selalu ada untuknya, mengajari banyak hal. Mengajarinya bagaimana cara bermain golf, memilih wine berkualitas, dan mengabulkan apapun keinginannya. Jaehyun berharap seandainya dia sempat memberitahu ayahnya bahwa dia menyayangi pria itu saat mereka berbicara di telepon. Bagaimana jika dia tidak mendapatkan kesempatan untuk mengatakannya?
Jaehyun menghilangkan pemikiran itu, dia kembali mengatur emosinya, dia tidak boleh panik. Dan setelah berada di dalam truk yang sedang melaju menuju kota, dia baru menyadari bahwa dia belum meninggalkan pesan untuk Johnny.
***
Hari menjelang siang ketika Jaehyun tiba di rumah sakit. Dia membenci rumah sakit, penampilannya, aromanya, dan warna cat dindingnya yang suram.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dude Ranch Bride (Johnjae)
FanfictionJaehyun memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahannya dan bersembunyi di Jeju. Namun, disana dia justru bertemu dengan mantan kekasihnya, Johnny Seo. Pria yang sangat dicintainya hingga saat ini. Apakah perasaan pria itu juga tak berubah terhad...
