"Kau terlihat sangat menawan, Jae."
Jaehyun menatap Mingyu dengan sorot mata buram. Pria itu kelihatan terlalu gembira. "Kata-katamu manis sekali," gumamnya.
Mingyu menatap Jaehyun lekat. "Malam yang buruk?"
Pemuda manis itu mendesah pelan. "Bisakah kita segera pergi dan mencari sarapan? Aku membutuhkan secangkir kopi."
"Baiklah," ucap Mingyu seraya mengangguk.
Mereka berjalan ke penginapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mingyu membukakan pintu untuk Jaehyun dan pemuda manis itu langsung menuju meja terdekat. Setelah duduk, dia baru menyadari jika Johnny berada di meja di seberangnya. Pria itu terlihat tampan seperti biasanya, dia bahkan tidak bisa mengalihkan tatapannya. Dan ketika tatapan mereka bertemu, dia bisa melihat penyesalan? Kelegaan? Atau entah apa yang berpendar di kedua manik tajam itu? Sebelum Jaehyun bisa menelisik lebih dalam, Mingyu duduk dan menghalangi pandangannya.
Jaehyun mencoba mengabaikan arti dari tatapan Johnny dengan mengambil daftar menu yang sudah tersedia di atas meja. Sejujurnya dia sendiri bertanya-tanya mengapa dia dengan mudah menyetujui ajakan Mingyu, sementara yang dia inginkan saat ini adalah mengurung diri di dalam pondoknya dan memikirkan kembali segalanya.
"Selamat pagi. Apa kalian sudah siap untuk memesan?"
Saat dia menengadah, Jaehyun merasakan jemari-jemari rasa cemburu berwarna hitam dengan kuku yang tajam tengah memilin hatinya, mengoyak-ngoyaknya menjadi potongan-potongan tak beraturan. Dia melihat pelayan wanita yang menghabiskan malam bersama Johnny tengah menunggu untuk mencatat pesanan mereka. Dia bisa melihat name tag di dada wanita itu. Jadi, namanya Jennie, batinnya.
"Kau mau pesan apa, Jae?" tanya Mingyu.
"Pancake madu," jawab Jaehyun dengan suara tercekat. "Dan secangkir kopi."
"Aku pesan sandwich tuna dan jus jeruk."
"Baiklah, mohon ditunggu sebentar," ujar wanita bernama Jennie itu dengan senyum ramahnya, sebelum beranjak untuk mengambil pesanan.
Jaehyun mencondongkan sedikit tubuhnya ke samping sehingga dia bisa melihat Jennie yang tengah mengisi ulang cangkir kopi Johnny. Senyum Jennie ke arah pria itu juga tak luput dari pandangannya atau kenyataan jika wanita itu juga menyentuh pundak Johnny.
"Jadi," kata Mingyu. "Menurutku kita mungkin bisa pergi ke kota hari ini dan melihat-lihat. Mungkin sekedar berjalan-jalan, lalu menonton film dan makan malam. Bagaimana menurutmu?"
"Tentu saja. Apapun yang ingin kau lakukan," jawabnya kurang bersemangat.
"Aku perlu segera kembali bekerja." Mingyu tersenyum. "Aku sudah cukup lama membiarkan sekretarisku mengambil alih. Kemungkinan besar dia sudah lupa siapa bosnya. Menurutku kita sebaiknya pergi besok pagi setelah sarapan. Bisakah kau siap saat itu?"
Jaehyun menatap Mingyu. "Aku belum siap untuk pulang."
"Ayolah, kau sudah cukup lama bertingkah seperti anak-anak. Sudah saatnya kau kembali ke dunia nyata, Jae. Orangtuamu menunggu kita untuk makan siang bersama besok." Mingyu meraih tangan Jaehyun yang berada di hadapannya. "Saat itu kita bisa membicarakan ulang pernikahan kita."
Sorot mata Jaehyun berubah tajam. "Mingyu harus berapa kali aku katakan jika hubungan kita sudah berakhir dan aku tidak akan pernah menikah denganmu!"
Mingyu bersikap seolah tidak peduli. "Aku akan menuruti keinginanmu dengan mengadakan pernikahan yang sederhana, tapi kita akan menebusnya saat resepsi nanti."
"Mingyu!" teriak Jaehyun sambil menghantamkan kepalan tangannya ke atas meja, dia sudah diambang batas kesabarannya. Lalu, dia teringat jika mereka tidaklah sendirian, pemuda manis itu merendahkan suaranya. "Bisakah untuk kali ini saja kau mendengarkan aku? Hubungan kita sudah berakhir. Aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku tidak akan menikah denganmu. Tidak sekarang. Tidak kapanpun juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dude Ranch Bride (Johnjae)
Fiksyen PeminatJaehyun memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahannya dan bersembunyi di Jeju. Namun, disana dia justru bertemu dengan mantan kekasihnya, Johnny Seo. Pria yang sangat dicintainya hingga saat ini. Apakah perasaan pria itu juga tak berubah terhad...
