Johnny memeluk Jaehyun erat-erat, takut dirinya tidak akan mampu melepaskan pemuda manis itu lagi. Dia bisa menghitung saat-saat dimana dia merasa takut atau bahkan sangat ketakutan, tetapi tidak ada yang mampu menyamai ketakutannya saat menunggu Jaehyun berbalik untuk menghadapnya. Seandainya pemuda manis itu tidak memedulikannya, meninjunya, menendangnya dengan jurus martial arts yang dikuasainya, atau mengusirnya jauh-jauh, Johnny tidak bisa menyalahkannya. Sial! Dia memang layak mendapat perlakuan itu, umpatnya dalam hati.
Johnny mengusap lembut punggung Jaehyun, membenamkan wajahnya ke leher pemuda manis itu, memeluknya dengan sekuat tenaga. Dia bisa merasakan tubuh Jaehyun yang gemetar, merasakan air mata membasahi kausnya, dan lengan pemuda manis itu yang balas memeluknya erat.
"Tidak apa-apa," gumam Johnny lembut. "Semua akan baik-baik saja, sayang. Jangan menangis. Aku di sini."
Jaehyun menangis tanpa suara, sejujurnya dia tidak ingin menangis. Dia memang manja, namun dia bukan pria cengeng. Dia benci menangis. Dia benci terlihat lemah. Namun, untuk saat ini, di hadapan Johnny, dia ingin mengeluarkan semuanya, ketakutannya, kegelisahannya, kesedihannya.
Dia menengadah. "Aku tidak percaya kau ada di sini," ujarnya dengan suara parau. Tidak memedulikan jejak air mata yang masih mengotori pipinya.
Tubuh Johnny tiba-tiba mematung. "Kau ingin aku pergi?"
"Tidak!" Jaehyun mencengkeram kaus Johnny. "Jangan pergi! Aku takut sekali, Johnny. Aku takut appa akan meninggalkanku. Dia tidak boleh meninggalkanku. Tidak boleh!" ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.
Johnny menangkup pipi Jaehyun dengan kedua tangannya, dia menatap pemuda manis itu seraya mengusap jejak air mata di pipi Jaehyun dengan ibu jarinya. "Tenanglah. Aku tetap di sini. Menemanimu."
Jaehyun membalas tatapan Johnny. "Aku menyesal. Sangat menyesal. Kata-kata terakhir yang kami ucapkan satu sama lain diwarnai oleh kemarahan."
Johnny tidak tahu dia harus berkata apa saat mendengar pernyataan itu. Dia hanya bisa kembali menarik Jaehyun ke dalam pelukannya. Memeluknya erat-erat.
Jaehyun kembali menengadah. "Aku masih tidak percaya kau ada di sini."
"Aku bergegas ke sini setelah kau meneleponku. Tapi, saat aku ke bandara hanya penerbangan untuk jam 9 malam ke atas yang tersisa."
"Kenapa tidak meneleponku? Aku bisa meminta Pak Kim menjemputmu di bandara."
Johnny menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagi pula, temanku bersedia menjemputku dan meminjamkan mobilnya untukku."
Pemuda manis itu tersenyum tipis, lalu kembali memeluk Johnny. "Aku senang kau ada di sini."
"Ya. Aku di sini. Untukmu," gumam Johnny lembut.
***
Jessica terbangun saat mendengar samar-samar suara orang yang tengah berbincang. Tepat pada saat itu juga Jaemin melangkah ke luar lift, sementara Donghae dan Eunhyuk berjalan membelok di lorong membawa bungkusan makanan dan minuman.
Jaehyun tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana sambil memeluk Johnny, seandainya pria itu tidak berdehem dan mengendurkan pelukannya.
Ibunya menatap Johnny seolah tengah melihat hantu. Paman Donghae, paman Eunhyuk dan Jaemin— yang entah mengapa kembali lagi ke sini, mendadak menghentikan langkah mereka saat melihatnya terperangkap dipelukkan seorang pria asing.
Andai saja Jaehyun sedang tidak mencemaskan kondisi ayahnya, dia pasti sudah tertawa melihat ekspresi di wajah mereka. Ibunya tampak shock. Jaemin terlihat seolah ingin meninju pria asing yang telah lancang memeluknya. Sementara paman-pamannya tampak sedikit bingung dengan situasi yang tengah terjadi. Lalu, ketika dia mengira suasana tidak mungkin lebih canggung lagi, pintu lift kembali terbuka dan Mingyu melangkah keluar, terlihat seolah pria itu baru saja menjelma dari sampul depan majalah Vogue.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dude Ranch Bride (Johnjae)
Fiksi PenggemarJaehyun memutuskan untuk melarikan diri dari pernikahannya dan bersembunyi di Jeju. Namun, disana dia justru bertemu dengan mantan kekasihnya, Johnny Seo. Pria yang sangat dicintainya hingga saat ini. Apakah perasaan pria itu juga tak berubah terhad...
