Bab 5

162 8 2
                                        

Ia gugup. Itu tanggapan pertamaku setelah mendengar sapaan Azka di telingaku. Senyumnya yang ditipiskan dengan menyembunyikan deretan gigi rapi nya membuatku yakin tentang kesimpulanku tersebut. Oh, aku terlalu mengenalnya bila kau tanya mengapa aku bisa seyakin itu. 

"Hei," balas ku akhirnya, kali ini Azka tersenyum lepas, dipamerkannya padaku wajah tampannya seperti saat dulu ia berhasil memikatku.

Anehnya, aku tak lagi merasakan bahwa wajah di hadapanku ini adalah wajah yang ingin aku lihat setiap harinya. Dan anehnya lagi, aku merasa sekarang aku ingin meninjunya karena ia terlalu banyak tertawa sejak aku membalas sapaannya.  i

"Haah, akhirnya aku mendengar suaramu lagi," ujar Azka sambil mengelus dadanya, aku yang masih terpaku pada perubahan suaranya hanya bisa memandanginya dengan aneh,

Ya. terakhir kali aku bertemu dengannya suaranya tidak seberat seperti sekarang ini. Aku juga baru menyadari bahwa tubuhnya kini menjulang lebih tinggi daripada yang ku ingat, ah dan juga matanya, sepertinya ia telah menanggalkan kacamata baca berlensa tebal memalukan itu. Ia berubah. Prancis telah merubah sosok lelaki ini. 

"Apakah aku benar-benar mengenalnya....?" gumamku dalam hati. Rasanya seperti berbicara dengan orang yang benar-benar asing tetapi kau mengenalnya saat itu juga.

Mungkin inilah akibatnya bila kau putus hubungan dengan orang yang dulu pernah kau sayangi dengan tulus, kau di campakkan, kemudian setelah sekian lama, ia berlagak seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin ia lupa akan tangisku yang meraung raung pada hari kelam itu, tetapi aku tidak. 

"Aku hanya mengikuti saran dari Bang Radit buat nerima kamu lagi sebagai temanku, itu aja ngga lebih," ucapku dengan suara yang sedikit ku keraskan, kesal setengah mati karena ucapan yang keluar darinya bukanlah permintaan maaf tetapi komentar tidak bermutu tentang suaraku

"Wow...wow.. Calm down Sweety, bukankah teman harusnya lebih bersikap hangat daripada ini....?" ujar Azka sambil memainkan kedua alisnya, 

Aku tidak peduli lagi dengan ucapannya setelah itu, aku hanya berbalik untuk mengunci pintu rumahku dan segera berjalan menuju pagar. Dalam hati aku terus merutuki keputusanku untuk menemui Azka dan berbicara padanya. 

Sepertinya aku harus mengatur ulang jadwal kepulanganku menjadi lebih awal. 

"Cel, kok buru-buru sih....?" tanya Azka yang kini berdiri di belakangku, menungguku memasangkan gembok pada pagar,

"Cel, jawab pertanyaanku, aku tau kamu denger, Celine.....!" 

Aku sangat benci diteriaki oleh seseorang, maka dari itu aku membalikkan badanku dan mendongakkan kepalaku, mencari kedua matanya dan memberikan tatapan menantang.

"Kalau kamu tidak terbiasa disikapi dingin olehku, mungkin kita bisa kembali seperti kemarin, ya, pergilah lagi, ke tempat yang lebih jauh dari Prancis bila perlu. Dan bila tiba-tiba kamu nemuin email dari aku yang nanyain kabar kamu, cukup baca aja kaya kemarin. Harus aku akuin kalo kamu bener-bener ahli buat orang lain jadi benci sama kamu,"  

Aku mengakhiri umpatan kesalku tadi dengan menghembuskan nafas yang sedari tadi aku tahan, pria di hadapanku ini masih terlihat baik-baik saja meski aku sangat yakin aku telah memilih kata-kata terbaikku untuk menyinggungnya dan membuatnya marah.

"Sudah selesai marahnya....?" 

Hanya itu yang ia ucapkan, pembawaan dirinya yang tenang dengan tatapan meneduhkan itu berbanding terbalik dengan keadaanku sekarang yang masih bernafsu untuk mengumpatnya lebih lama lagi

Aku membalas ucapannya barusan dengan dengusan kesal dan berjalan menjauh darinya. 

"Celine bodoh....! Harusnya kamu tahu dia itu cuma ngegertak doang...! Biar kamu bisa marahin dia dan kemakan sama pancingannya,"  umpatku pada diriku sendiri, sifat tidak sabaranku memang menjadi salah satu dari sekian banyak kelemahanku yang ia tahu, dan ia benar-benar masih mengingatnya dengan baik

MemoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang