LANGIT CERAH LUAR biasa, begitu biru dan hanya ditemani oleh kapas-kapas tipis di beberapa bagian. Manhattan seolah sangat ceria, dengan awal angin musim panas yang menghangatkan kulit sampai-sampai menimbulkan sensasi menggelitik akibat para anak rambut menyapu wajah. Seharusnya mereka memiliki aroma yang disebut liburan paling ditunggu, seperti sunscreen, air asin, pasir pantai, dan terakhir ....
... tentu saja bikini baru dengan kulit tanned pasca berjemur.
Oh, aku menambakan liburan musim panas.
Dan Harding mewujudkannya dengan cara berbeda.
Cara yang lebih mahal, di mana aku tidak mungkin sanggup melakukannya kecuali jika beruntung dan mendapatkan tiket liburan gratis.
Jadi dengan kata lain, kusebutkan bahwa Harding adalah keberuntunganku.
Ya, memang benar. Dia adalah sesuatu yang dalam kedipan mata, sukses menjadikanku seperti wanita paling beruntung di dunia. Saat Harding menarikku dari depan ruang marketing—setelah setengah mati mencari kata kuncinya—ia membawaku ke atas gedung Christian's Women—tempat di mana helikopter perusahaan terparkir.
Aku seharusnya tidak bangga dengan fasilitas kantor yang digunakan Harding hanya demi memberikan kesan luar biasa, sebab itu merupakan penyelewengan akan kewenangan namanya. Namun, karena diri ini memiliki jiwa kemiskinan akut, maka milik siapa pun itu, aku tetap saja meronta-ronta kegirangan dalam hati.
Dua kali berada dalam kendaraan mewah ini dan dalam situasi yang berbeda pula, menjadikan diriku tidak henti-hentinya mengumbar senyum. Berawal dari sekadar perjalanan biasa menuju Seattle, kini si capung besi itu membawaku ke suatu tempat setelah hal romantis—berupa permainan mencari harta karun—di mana masih menjadi misteri untukku. Saat aku bertanya 'mau ke mana kita pergi?' Harding hanya menjawab dengan satu kata yaitu, 'rahasia. No clue.'
Jadi baiklah, aku mengikutinya saja dan beberapa jam kemudian pesawat dengan baling-baling besar di atasnya mendarat di sebuah lapangan bersemen dengan seorang lelaki paruh baya menyambut kami di depan pintu gerbang berbahan kayu.
Sekarang, beberapa pertanyaan kembali berputar-putar di kepalaku.
Dia membawaku ke sini, apa dia tidak bekerja? Kupikir seorang CEO pasti memiliki waktu yang padat, sehingga meluangkan waktu untuk menyenangkan pasangannya merupakan hal sulit, tapi apa aku adalah sesuatu itu?
Otakku, kembali ke kenyataan. Mengingatkan bahwa hubungan kami tidak lebih dari sekadar kontrak. Sehingga apa yang dilakukan Harding, bisa saja hanya berupa mengalihan isu—seperti rencana kami—mengenai Jared—atau semata-mata ingin menghiburku. Entahlah, aku masih belum menemukan kepastian mengenai hal tersebut dan selalu mengingatkan diri, agar tidak terlarut dalam kebaikan Harding.
Harding hanya lelaki yang baik, bertanggung jawab, dan ....
... romantis.
Kuakui bahwa hampir semua wanita menyukai laki-laki yang romantis.
"Selamat datang, Mr. Lindemann," sapa lelaki paruh baya ketika Harding dan aku turun dari helikopter kemudian melangkah mendekatinya. "Hari yang cerah, bukan? Bagaimana dengan pekerjaan Anda?"
"Chairman memintaku untuk mengambil cuti beberapa hari sebelum melakukan perjalanan ke Paris, tapi tentu saja bukan cuti dalam bentuk harfiah karena pada dasarnya tetap saja aku bekerja di rumah." Harding berbicara lugas, seolah mereka adalah teman lama dan aku menunggu momen untuk dikenalkan. "Oh, dia Miss Holder."
Aku tersenyum ramah, saat Harding akhirnya memperkenalkan diriku dan mengulurkan tangan saat lelaki—yang belum kuketahui namanya—melakukan isyarat berjabat tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Hottest Night With You [END]
عاطفيّة[18+] Bermula dari robeknya gaun di pesta pertunangan sang mantan, Barbara tidak pernah menyangka bahwa arti dari kencan semalam ternyata telah menyeretnya ke dalam kehidupan Harding. Hingga Barbara bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada diri...
![The Hottest Night With You [END]](https://img.wattpad.com/cover/237912980-64-k33033.jpg)