Chapter 10

175 19 3
                                        

"Chiaki, bukankah kau kemari dengan Madara?" tanya Kanata yang membuat kedua gadis yang tengah berada di kolam renang berhenti bermain dan menatap Kanata.

"Ah, benar! Madara ada di ... are?"

Chiaki beserta lima orang yang ada di area kolam renang pun bingung.

"Tadi dia dengan Emi-chan kemari," gumam Chiaki yang belum berhenti ditatap oleh lima orang disini.

Menyadari tatapan itu, Chiaki memberikan sembari berkata, "Mungkin Emi-chan mengajaknya ke tempat lain, jadinya dia langsung pergi tanpa alasan."

"Puka puka~♪ kita selalu sibuk jika memiliki waktu dengan putri kita ya," ucap Kanata dengan senyuman terbaiknya.

Disisi lain, Emi tampak bersin terus-menerus yang membuat Madara khawatir. Ia pun bingung mengapa putrinya bisa tiba-tiba bersin, mungkinkah ini efek dari es krim yang ia belikan?

"Tidak apa-apa, Pa. Mungkin ini hanya gejala musim panas saja," ucap Emi.

"Bisa saja, kau sedang terkenal. Makanya banyak yang membicarakanmu," ucap Madara dengan senyuman terbaiknya yang langsung dibalas gelengan pelan oleh putrinya seraya berkata, "Papa jangan mengada-ada."

Madara pun tertawa mendengarnya.

"Terakhir kali, aku terkenal karena Papa adalah idol. Itupun karena ibu-ibu mereka ingin sekali menjadi istri baru Papa. Selain itu, aku di bully karena aku tidak punya ibu dan di ejek sebagai anak haram," gumam Emi yang masih sanggup di dengar Madara.

Madara tentunya masih ingat hal itu. Masa-masa kelam dimana dirinya harus terus memotivasi dan mengatakan anaknya jika ia terlahir berbeda dan sangat spesial dibandingkan anak lainnya.

"Ah, maaf, Papa. Aku ...."

Set~

"Daijoubu. Emi-chan tidak sendiri, papa akan buat Emi selalu bahagia apapun itu caranya," ucap Madara yang kini tengah memeluk anaknya dan disambung, "Karena Emi-chan adalah segalanya untuk papa."

*****

"Fufufu~ melarikan diri dari seorang marga Tenshouin memanglah mudah, tapi ... pernahkah kau berpikir untuk melarikan diri dari hal yang bergejolak dalam diri? Kau tidak mampu mengontrolnya hingga kau memilih diam hingga dirimu sendiri tidak sanggup menahannya."

"Paman Hibiki wataru ...," gumam sang gadis yang telah mengerti pola bicara yang tampak familiar di telinganya.

"Senang bertemu denganmu kembali, Amagi (Name)," ucap Wataru sembari menurunkan badannya.

"Paman, aku masih ada tugas lainnya untuk mengurus ...."

Wataru pun menunjukkan kertas yang telah tersusun rapi pada meja (Name).

"Bagaimana ... bisa?"

(Name) pun tertegun melihatnya. Ia pun mendekat lalu memeriksa tumpukan kertas tersebut. Dan yang benar saja, tumpukan kertas itu berisi semua persetujuan sekolah untuk memeriahkan acara bunkasai gabungan yang diselenggarakan di Kimisaki gakuen. Sungguh hal yang tidak mungkin dilakukan untuk seorang manusia atau lebih tepatnya, hal diluar nalar.

"Itulah sihir, Amagi (Name)."

Mendengar suara yang berbeda, (Name) pun segera menghadap sang lawan bicara barunya.

"Paman Natsume ...," gumam (Name).

'Tunggu! Paman Hibiki, Paman Natsume ... mungkinkah ... gokijin!' pikir (Name).

Only Your Stars : PolifonikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang