Chapter 11

157 19 6
                                        

Hari terus berlalu. Begitu pula dengan waktu yang terus meninggalkan kita begitu saja. Namun, tentunya mereka pergi dengan meninggalkan dua pilihan,

Terus melangkah atau tenggelam dalam kegelapan.

Namun, hal yang dipilih oleh Tsukinaga Leo adalah tenggelam dalam kegelapan. Ia lelah, sangat lelah untuk melakukan hal yang ia suka dan selalu berakhir pada kematian.

Frustasi, depresi, semuanya ia rasakan. Tetapi, hal yang paling penting ialah lubang pada hatinya yang enggan menutup.

Seperti inikah rasanya kehilangan orang yang ia cintai? Atau ... inikah yang (Name) rasakan saat Leo bersama Ruri?

Leo pun tak mengerti. Pikirannya terlalu lelah untuk mencari tahu semuanya.

"Apa kau tidak merindukannya?"

Leo mendengar seseorang yang memiliki suara sama seperti dirinya. Dan dengan wajah sedih, ia menatap dirinya yang tengah tersenyum.

"Omae wa ... dare?" lirih Leo yang membuat pria dihadapannya pun mendengus kesal lalu berkata, "Aku adalah kau. Dan kau adalah aku. Intinya, aku adalah bagian dari dirimu."

Leo pun sedikit tersenyum dan berkata, "Kurasa aku mulai gila sekarang."

"Kau ini. Hei, apa kau tidak merindukannya?" ulang pria itu dan dijawab oleh Leo,"Jika kau adalah bagian dariku, seharusnya kau tahu apa yang aku rasakan."

"Kau meratapi nasib disini, sementara diluar sana ada sosok gadis yang sangat membutuhkan perlindungan, kasih sayang, dan perhatianmu," jelas pria itu yang entah mengapa membuat hati Leo semakin sesak.

"Diamlah, kau tidak tahu apapun tentangku," balas Leo.

"Apa kau ingat? Apa kau ingat saat terakhir kali (Name) meminta mu memilih dirinya atau Ruri dan kau justru bilang, 'Jika kau bisa memiliki keduanya, mengapa tidak kau lakukan'!? Apa sekarang kau baru merasakan dosamu!" bentak pria itu yang membuat Leo tersenyum pedih seraya berkata, "Memang benar, aku baru menyadari setelah (Name) benar-benar pergi. Padahal aku bermaksud untuk melindunginya."

"Jika kau memang ingin melindunginya, lantas ... apa yang kau lakukan disini! Berharap pada dirimu sendiri agar tidak menemui gadis itu? Atau kau malu dengan keluarga Ruri yang pada akhirnya kau batalkan pernikahan mu dengannya? Ataukah ... kau ingin menelantarkan darah dagingmu sendiri?"

Grab!

Leo tersulut emosi. Ia mencengkram kerah hoodie yang dipakai oleh pria itu.

"Sekali lagi kau bicara seperti itu, maka akan ku habisi kau detik ini pula," ancam Leo. Namun, orang itu hanya tersenyum lalu berkata, "Kau menghabisiku, sama saja dengan kau menghabisi dirimu sendiri."

Leo pun merasa tidak karuan. Ia melepaskan cengkeramannya dan kembali duduk seperti sebelumnya dengan wajah yang ia sembunyikan dalam lipatan tangannya.

"Percayalah, (Name) tidak ingin kau seperti ini. Maka dari itu, dia menitipkan seorang gadis untukmu ... agar kau bahagia. Jika kau terus seperti ini, maka (Name) akan sedih melihatnya. Lihat, teman-teman mu telah melawan rasa terpuruknya dan mencoba memulai lembaran baru dengan anak yang ditinggalkan (Name). Ayolah, kau pasti bisa," ucap pria itu.

"Jika kau tidak menerima anak itu, setidaknya ... lakukanlah untuk kebahagiaan (Name)," sambungnya yang kemudian menghilang begitu saja.

*****

"Hei, Nona. Mengapa di festival sekolah mu sendiri, kau sendirian?" ucap pria dengan tampang mengerikan.

"Oh! Ternyata kau anak dari Tsukinaga itu ya! Senang bisa bertemu denganmu," ucap pria dengan jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangannya.

Only Your Stars : PolifonikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang