Lain tempat, maka lain juga kondisinya. Saat ini, keluarga Amagi sedang dilanda perselisihan. Tentunya karena perbedaan pendapat antara Rinne dengan anaknya.
Rinne terkejut saat melihat Kaoru yang tidur di sofa ruang tamu. Dan saat melihat kamar anaknya, ia lebih terkejut lagi saat mengetahui ada gadis disebelah (Name).
(Name) berulang kali menjelaskan pada Rinne. Namun, entah mengapa, Rinne sangat sulit mendengar penjelasan anaknya.
Pada akhirnya, Kaoru memutuskan untuk mencari apartemen di pagi buta. Namun, (Name) segera menghentikannya dengan memohon-mohon pada Rinne.
"Papa, tolong, apa Papa tidak kasihan pada mereka," ucap (Name) yang mulai berlinang air mata.
Rinne pun tampak tidak tega pada anaknya. Tetapi, ia lebih curiga pada Kaoru yang bisa melakukan hal-hal yang tak terduga selama ia pergi.
"Maaf, Papa tidak bisa ...."
"Coba Papa bayangkan ada di kondisi Paman Hakaze dan Rie! Apa Papa bisa melakukannya seorang diri!" ucap (Name) sembari menggertakkan kakinya lalu mulai beranjak ke kamarnya lagi.
Namun, baru beberapa langkah, ia merasa mual sangat hebat hingga membuat (Name) memegangi perutnya. Rinne yang khawatir pun langsung meraih dan membantu anaknya duduk di sofa ruang tamu.
"(Name)-chan, daijoubu ka?" tanya Rie dengan raut prihatin.
"Aku pusing dan mual," ucap (Name) dengan wajahnya yang mulai memucat.
"Tunggu sebentar, akan papa ambilkan air putih," ucap Rinne yang langsung meninggalkan anaknya dibawah pengawasan keluarga Hakaze.
"(Name), apa kemarin kau pergi?" tanya Kaoru dengan tatapan curiga dan dibalas dengan anggukan pelan oleh (Name), "Paman Akashi mengajakku makan siang dan makan malam bersama."
'Sial, orang itu,' batin Kaoru yang tanpa sadar, ia telah mengepalkan tangannya.
"Apa kau diperlakukan dengan hal tidak wajar?" tanya Kaoru yang langsung mendapat teguran dari anaknya.
"Tenanglah, Rie-chan. Ini pertanyaan yang wajar untuk orang tua pada anaknya," ucap Kaoru sembari memberikan senyuman terbaiknya.
Disisi lain, Rinne yang telah selesai mengambil segelas air putih pun terpaksa menghentikan langkahnya dan mendengarkan semua jawaban atas pertanyaan Kaoru.
Namun, ia paling mencolok pada pertanyaan yang diajukan terakhir oleh Kaoru. Ia masih berpikir jika Akashi Seijuuro tidak melakukan hal-hal buruk pada anaknya.
"Apa maksudmu menanyakan hal itu pada calon suami (Name)?"
Rinne terpaksa menginterupsi pembicaraan mereka. Tentunya, karena Rinne tidak ingin atau lebih tepatnya menghindari adanya kesalahpahaman diantara kedua belah pihak, khususnya untuk keluarga Akashi dan Amagi.
"(Name)? Calon suami? Maksudnya ... (Name) sudah bertunangan?" ucap Rie yang dengan tatapan tidak percaya.
"Ceritanya panjang, Rie," jawab (Name) dengan nada lemah.
"Kau ... apa kau memaksa gadis yang masih muda untuk menikahi pria kejam demi uang?" ucap Kaoru yang telah memancarkan deathglare.
Rinne tidak mempedulikan ucapan Kaoru. Ia segera menghampiri (Name) dan memberikan minuman serta paracetamol untuk putri semata wayangnya.
"Papa ...," gumam Rie sembari menenangkan ayahnya yang marah tiba-tiba.
"Apa kau mengenal seorang Akashi Seijuuro dengan baik?" ucap Kaoru dengan penuh penekanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only Your Stars : Polifonik
Fiksi PenggemarAnak, satu kata yang sangat indah bagi dua insan yang telah menikah. Bahkan kehadirannya sangat dinantikan oleh siapapun. Namun tidak semua anak terlahir dalam kondisi yang sama, seperti yang dialami oleh anak para idola. Mereka dibesarkan secara kh...
