Suhu telah menghangat akibat dari sang mentari yang terlalu antusias untuk menyambut hari ini. Namun, angin pun tidak kalah antusiasnya dengan mentari. Ia berhembus cukup lembut dengan membawa kelopak bunga yang mereka berikan untuk salah satu sekolah ternama di Jepang, Kimisaki gakuen.
Saat ini, Kimisaki gakuen tengah mengalami hal yang sangat membahagiakan. Mereka tengah mengadakan upacara kelulusan.
Banyak orang tua siswa yang berpakaian sebaik mungkin untuk hadir di acara istimewa tersebut. Tidak lupa, anak-anak yang mereka banggakan pun telah duduk dengan penuh senyuman dalam menyambut lembaran baru dalam hidup mereka.
"Aku tidak menyangka, kita bisa lulus bersama-sama," ucap Miwa dengan mimik yang bersusah payah menahan tangis hingga pengumuman kelulusan tiba.
"Tentu. Aku juga tidak menyangka jika persaingan kita selama ini berbuah manis," timpal Mai yang berlagak keren seperti ayahnya.
Mendengar ucapan kedua rekannya, Nami hanya bisa mengulas senyuman bahagia. Ia pun berpikir jika apa yang dikatakan oleh rekannya memanglah benar.
"Tapi, ada apa dengan wajah sedih itu, Yuna?" tanya Shizuka yang duduk tepat disebelah Yuna.
Yuna pun segera bergeleng, mengulas senyuman tulus nan sedih, "Aku hanya terharu!"
Tidak lama kemudian, kepala sekolah pun muncul ke podium. Dengan penuh wibawa, ia membawakan pidato untuk membuka acara kelulusan.
Pidato itupun disaksikan dengan penuh antusias oleh seluruh orang tua, siswa yang lulus, dan beberapa adik kelas yang memang turut andil dalam berjalannya upacara kelulusan ini. Hingga mereka dinyatakan resmi lulus.
Sorakan demi sorakan pun saling bersautan dalam gedung ini. Tangis bahagia sempat pecah pada para peserta upacara.
Pasalnya, mereka tidak menyangka jika mereka semua lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Walaupun, jarak diantara mereka hanya berjarak nol koma satu.
'(Name), kau lihat mereka kan? Anak-anak kita berhasil lulus dengan nilai terbaik. Apa kau bangga dengannya?' batin Sora yang dengan segera menghapus air matanya.
'(Name), apakah aku berhasil mendidiknya? (Name), katakan padaku! Katakan!' batin Subaru yang masih mematung setelah pengumuman itu.
'Permataku telah meraih kebahagiaannya, apa kau juga merasa bahagia, (Name)?' batin Nagisa dengan senyuman tipisnya.
'Koneko-chan, kau telah memberikan mereka sihir terbaik. Ya, kau tidak pernah menduga jika anak kita bisa menempuh semua rintangan bukan?' batin Natsume yang masih bertepuk tangan dengan penuh semangat.
'(Name), terima kasih telah menitipkan malaikat yang membuat diriku lebih hidup dari sebelumnya,' batin Ritsu yang masih setia tersenyum bahagia.
*****
"Papa! Lihat, aku berhasilkan!" ucap Asuga dengan riangnya.
Mendengar suara ruang dari anaknya, Mashiro pun tersenyum lalu mengelus surai anaknya dengan penuh kasih sayang, "Anak papa memang pintar."
"Um! Asuga-chin memang pintar," puji Nito yang masih merangkul putri kesayangannya.
"Terima kasih, Paman Nito!" balas Asuga dengan lebih semangat, "Tapi, Papa harus memberikanku hadiah. Karena, sebelumnya Papa sudah janji, bukan?"
Mashiro pun hanya bisa tersenyum dengan perasaan ragu, "Iya, papa masih ingat. Harap menunggu ya."
"Ekh!? Papaku pun akan memberikanku hadiah jika aku dapat nilai bagus," ucap Hisa dengan tampang polos.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only Your Stars : Polifonik
Fiksi PenggemarAnak, satu kata yang sangat indah bagi dua insan yang telah menikah. Bahkan kehadirannya sangat dinantikan oleh siapapun. Namun tidak semua anak terlahir dalam kondisi yang sama, seperti yang dialami oleh anak para idola. Mereka dibesarkan secara kh...
