Shy

55 6 0
                                        

Akhir pekan memang waktu yang sangat berharga bagi setiap orang. Rehat dari pekerjaan atau tugas-tugas yang diberikan guru. Sayang jika tidak dimanfaatkan untuk bersantai atau kegiatan menyenangkan lainnya. Namun agaknya tidak untuk Soora. Gadis itu gusar setelah melakukan peregangan diakhir pekan. Rasanya seperti tidak ingin keluar kamar.

Sesekali meniti ke bawah arah halaman rumahnya melalui jendela kamar. Tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang. Kedua kubu kuku-kuku itu saling beradu bersamaan ponselnya yang berdenyar menandakan sebuah panggilan masuk. Jangan dia, jangan dia. Kumohon─rapalnya didalam hati. Betapa leganya jantung Soora saat bukan nama pria itu yang menelponnya. Rupanya sang ibu. Tapi kenapa melalui panggilan ponsel?

"Iya Ma, ada apa?"

"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu", jawabnya seseorang diseberang sana.

Jantung itu kembali berirama tak beraturan. Kenapa keberuntungan tak menghampirinya saat ini. Tungkainya lemas seketika. "I-iya Ma, Soora turun". Panggilan itu terputus. Langkahnya tertuju pada pintu hitam dihadapannya─pintu kamarnya. "Bodoh, kenapa aku tak bertanya siapa yang datang", rutuknya pada diri sendiri.

Helaan nafasnya kian memberat kendati bermain dengan pemikirannya. Entahlah, rasanya belum siap jika harus bertemu Jungkook. Bayangan kejadian semalam itu masih melekat jelas, bahkan masih terasa rasanya seperti apa. Mendadak kepalanya pening. Dengan berjalan sedikit gontai serta mulut yang merapalkan doa, tungkainya memberanikan diri menyentuh anakan tangga yang pertama.

Pijakan demi pijakan dilaluinya tangga itu. Meniti setiap anakan tangga agar tak ada yang terlewatkan untuk dipijak sekaligus menata hati untuk menatap paras seseorang yang tak ingin ia temui.

"Soora.." jantung Soora rasanya sudah sejajar dengan lambungnya saat suara melengking nan nyaring memenuhi rungunya. Ternyata Areum yang datang. Soora berterimakasih pada Tuhan masih membiarkan dirinya merasakan keberuntungan saat ini.

"Kukira siapa yang datang"

"Kau mengharapkan Jungkook sunbae, ya?" godanya dengan alis yang sengaja dinaik-turunkan.

"Tidak" jawab Soora cepat.

Gadis didepannya itu malah tertawa melihat ekspresi Soora. "Ini aku kembalikan bukumu".

"Kapan kau meminjamnya?" tanya gadis itu heran. Rasanya seminggu ini tak ada catatan yang terlalu banyak.

Areum malah menunjukkan ekspresi tak bersalahnya. "Kemarin saat merapikan meja, bukumu terbawa aku, hehe.." akunya. Tak heran Soora mendengar kalimat pengakuan sahabatnya. Sudah biasa dengan yang seperti itu.

"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Pamitkan pada ibumu", pamitnya. Saat Soora ingin mengantarkan Areum ke depan, tiba-tiba teman sebangkunya itu berbalik badan, ada yang tertinggal−mungkin.

"Oh iya, aku tadi melihat Jungkook sunbae dipagar depan. Sebelum aku datang ke sini. Sedang berbicara dengan ayahmu". Sepersekon kemudian Areum dibuat bingung, manik hitamnya mengikuti arah pribadi yang meniti cepat anakan tangga. Kenapa Soora lari?−batinnya

Kapan datangnya sih?−batin Soora. Dari depan kamar, gadis itu mendengar samar-samar suara orang tengah berbincang.

"Sunbae"

"Kau sudah bertemu Soora?"

"Sudah"

"Lalu, dimana dia sekarang?"

"Baru saja lari ke kamarnya"

"Haha.. terimakasih"

Lelah sudah jantung gadis itu harus berkali-kali mengganti ritme. Tidak bisakah dirinya menenangkan diri untuk hari ini saja? Apa Tuhan sengaja sedang mempermainkan jatah keberuntungannya?

Derap langkah wanita paruh baya itu menghampiri presensi gagah bersetelan jaket hitam, dengan kaos didalamnya berwarna seirama dengan jaketnya, serta celana jeans hitam melekat dikaki jenjang. Tambahan sepatu kets hitam dibawahnya. Sungguh dambaan para kaum hawa.

Laki-laki itu tersenyum manis membalas tatapan ibu dari kekasihnya. Bahkan wanita yang sedang duduk berhadapan dengan Jungkook, mengakui senyuman itu mempesona. Jika saja dirinya masih remaja, mungkin sudah dipacari si Jungkook ini. Ibunda Jungkook dulu mengidam apa sih? Hanseung saja sampai kalah tampan−begitulah batinnya.

"Sudah bertemu Soora?"

"Belum, tante. Tadi Areum bilang Soora lari ke kamarnya"

Soora yang menyadari aura tak mengenakan, mencoba mengendap-endap mencari kenop pintu kamarnya. Belum saja dipegang gagang pintu itu, suara panggilan sang ibu sudah membuatnya bergidik ngeri.

"Soora.." , panggil sang ibu dari lantai bawah. "Ada kesayanganmu disini".

Senang. Bahagia. Itu yang dirasakan Jungkook setelah mendengar kalimat terakhir calon mertuanya−ralat, ibu dari kekasihnya. Kesayangan, ya?

Terlihat jelas, Jungkook mati-matian menahan senyum diwajahnya. Tapi tak dapat dipungkiri, kedua pipinya benar-benar memanas. Sampai atmosfer diruangan itu ikut membuat tubuhnya gerah. Hampir saja Jungkook salah tingkah.

Sedangkan gadis yang berada dilantai dua itu mematung. Mungkin sedikit beralasan akan membantunya. "Soora ingin mandi".

Baiklah, rasanya Soora ingin mengulang waktu. Alih-alih ingin beralasan mandi, ibunya malah membahas kebiasaan gadis itu jika libur−kebiasaan mandi siang hari. Ya mau tidak mau Soora turun dengan wajah serta tubuh masamnya. Tertegun kala Jungkook menatapnya dari kejauhan. Kenapa bayangan malam itu muncul kembali dalam pikirannya? Dia belum siap menatap manik Jungkook. Pemuda itu malah tersenyum- entahlah, senyuman tak terartikan.

Sungguh, kaki Soora sudah merasa lunak, degup jantungnya juga tak dapat dikendalikan. Bola manik hitam itu juga dirotasikan ke segala arah kendati presensi didepannya menatap lekat, gadis itu tak peduli. Ia lekas menaruh dirinya untuk singgah satu sofa bersama Jungkook dengan jarak yang sedikit berjauhan. Rasanya ia ingin menancapkan kukunya pada mata indah Jungkook setelah kalimat pria itu masuk ke rungunya.

"Kenapa tadi lari ke kamar? Malu ya?" godanya.

"Tidak, kan tadi sudah Soora bilang. Soora ingin mandi"

"Tapi Mama mu bilang−"

"Jangan dengarkan Mama. Oppa ada apa kemari?"

Jungkook tergelak mendengar penuturan gadisnya. Lantas ia menarik lengan jaket kirinya, menampilkan benda pengingat waktu yang meringkuk rapi dipergelangan tangannya. "Terimakasih untuk ini", ucapnya sambil menunjuk hadiahnya. Soora mengalihkan pandangannya pada jam yang ia berikan. Sedikit tersenyum karena Jungkook menyukai hadiahnya. Namun, senyum itu berubah menjadi canggung saat Jungkook melanjutkan kalimatnya.

"Dan juga penerimaan pernyataan cintaku"

.

.

.

TBC

Aku mau bilang makasih buat kalian yang nge-vote cerita aku.

Makasih banyak yaaa.
💜💜💜💜💜

Red JellyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang