oh, sudah sebelas.

28 4 5
                                        

sore ini aku duduk manis di balkon ruang musik rumahku yang baru rampung ditata tiga hari yang lalu. suram sekali ketika aku mendongak menatap langit.

mendung. entah hujan atau tidak.

kadang cuaca di indonesia memang senang mengajak bercanda.

tapi menikmati mendung di jogja, membuat cuaca kota ini jadi tak sepanas biasanya.

makannya aku bisa duduk santai di luar. menikmati angin sambil memangku juan, gitar kesayanganku.

pernah kujelaskan perihal aku yang hanya bisa bermain gitar dan pianika beberapa waktu lalu. ternyata darah pemusik memang mengalir pada diriku walau aku tak sepandai papa ataupun mama.

begitu pula dengan bang dery dan rion.

papaku dulu gitaris dan bassis di band-nya saat sma. mama lebih fokus ke vokal dan piano. abangku memainkan drum. sedangkan rion tertarik pada biola.

sebenarnya tidak juga sih. bang dery dan rion juga bisa bermain gitar. karena papa memang sudah mengajarkan kami sedikit-sedikit tentang gitar sejak sekolah dasar.

kata saudara-saudaraku, kami dapat membentuk band keluarga. tapi rasanya kocak sekali kalau selera musik slow rock papa dipadukan dengan selera musik klasik milik mama dan rion, lalu ditambah bang dery yang gemar musik indie.

sedangkan aku? ah, aku mah tergantung mood. kadang lagu dangdut juga kunikmati kalau sedang ingin.

samar-samar kudenganr alunan lagu unchained melody milik the righteous brothers yang mengalun dari dalam ruangan. tak usah ditanya siapa yang memainkan lagu ini.

sudah pasti papa chanyeol.

lagu ini termasuk lagu wajib papaku. kalau ia bertemu gitar, pasti lagu ini yang pertama dimainkannya.

sampai aku hapal di luar kepala akord lagunya karena terlalu sering mendengar.

katanya, lagu ini adalah lagu bersejarah karena dipakai waktu papa dan mama pacaran dulu.

"oh, retta di atas. masuk aja, susulin," ujar mama dari bawah.

aku menatap papa dari sekat kaca, ternyata ia juga tengah menatapku. bergegas bangkit sambil menenteng juan dan menggeser pintu kaca.

"siapa kak?" tanya papa.

aku menggeleng, "gatau pa,"

lalu kuletakkan juan di tempat ia biasa beristirahat.

baru saja aku akan melangkah menuju pintu untuk menuju ke bawah. tiba-tiba pintu itu sudah terbuka duluan.

menampakkan sosok kak mark dibalut kaus putih dan kemeja flanel warna kuning. rambutnya yang biasanya ia biarkan menurun, kini dinaikkan keatas menampakkan jidatnya.

sejenak. aku lupa cara bernapas.

sampai kekehan papa menggelegar.

"kangen sama retta, mark?" goda papa sembari terkekeh.

kak mark tertawa canggung, "hehe, iya om. boleh mark ajak ngobrol kan rettanya?"

papa mengangguk. "silakan. di balkon aja yang lebih sejuk," saran papa.

kak mark mengangguk sambil tersenyum. lalu beralih menatapku yang masih tak bergerak.

"mau ke balkon?" tawar kak mark.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 28, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙙𝙞 𝙟𝙤𝙜𝙟𝙖Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang