baru tujuh.

22 6 20
                                        

nancy menarik paksa aku dan yuqi ke kantin. katanya kepalanya pusing setelah ulangan kimia dadakan sebelum ini.

memang susah sih, kuakui. soalnya melenceng jauh dari kisi-kisi yang udah dikasih kemarin.

aku pesan ayam geprek, nancy bakso kuah, dan yuqi soto ayam.

"gila sih tadi ulangannya," buka yuqi.

nancy mengangguk sambil menggebrak meja pelan, "gila kepalaku rasanya jadi kotak kayak adudu, kebanyakan ngapalin tabel periodik,"

benar, mereka berdua gila.

cuma aku yang waras.

"retta pasti gampang tuh ngerjainnya, diem aja dia daritadi," yuqi melirikku sinis.

aku mengangkat alis, lalu tersenyum manis, "aku ngerjainnya nggak perlu baca soal,"

"saking gampangnya?"

masih tersenyum manis, aku menggeleng, "saking susahnya," jawabku sambil menyuap ayam geprek.

"bercanda kamu," nancy menyenggol lenganku pelan.

"serius, aku lihat soal nomer satu aja rasanya mual. yaudah, kujawab ngawur semua,"

nancy dan yuqi tertawa. lalu mereka berdua ber-tos tidak jelas.

"retta masuk angkasa langsung goblok gara-gara mainnya sama kita!" yuqi memekik girang.

"iya! akhirnya nggak cuma kita yang goblok!" nancy menyahut tak kalah girang.

aku mendengus. sial.

"udah cepet makan!" seruku.

kami menikmati makanan dengan khidmat.

lama-lama ayam geprek yang kumakan mulai terasa pedas. perutku juga terasa tidak nyaman.

aku suka pedas. serius, bang dery aja kalah.

tapi nggak tau kenapa hari ini lidahku beda dari biasanya.

mungkin jenuh sama pedas?

ngada-ngada.

"kenapa ta?" tanya yuqi.

sepertinya cewek rambut ikal itu menyadari ekspresiku.

aku meringis, "pedes,"

"kepedesan? mau diganti?" tawar nancy.

aku menggeleng, "nggak usah, biasanya kuat pedes kok,"

dua cewek itu mengangguk. aku kembali makan. ya tuhan aku sampai lupa beli minum.

"aku beli minum dulu ya," pamitku sambil beranjak bangkit.

memilih beli minum di kantin pojok. karena entah kenapa, minuman kantin pojok terasa lebih segar dibandingkan yang lain.

mungkin karena--

"eh!" pekikku merasakan seseorang memelukku dari belakang.

aku melirik kebawah, benar, ada sepasang tangan yang sedang memegang jaket sukajan warna biru gelap.

reflek aku menjauh. tapi tubuh itu tetap mengikutiku.

"sshh, diem dulu," ujarnya, mengikatkan jaketnya di pinggangku.

setelah itu, ia menjauhkan tangannya dari tubuhku. aku spontan berbalik ke belakang.

iya, nggak salah lagi. kak mark.

"kenapa kak?" tanyaku sambil mencoba melepas jaket yang terikat dipinggangku.

kak mark menahan tanganku. "jangan dilepas," ujarnya.

lalu menarik tanganku begitu saja. aku hanya diam, menurut.

ia melepaskan tanganku di depan kamar mandi perempuan.

"sana masuk dulu, aku beliin barangnya," ujar kak mark.

pipiku memerah. pasti, tidak salah lagi. tamu tak diundang itu datang disaat yang tidak tepat. pantas saja perutku tidak nyaman.

kak mark terkekeh, "nggak papa, nggak usah malu. cuma aku yang lihat kok. udah sana masuk dulu,"

aku mengangguk pelan. malu, serius.

akhirnya aku masuk ke bilik kamar mandi. melepas jaket kak mark, dan melirik rok abu-abuku.

merah.

astaga. mau ditaruh mana mukaku di depan kak mark?

aku memandang jaket sukajan yang kupegang. tidak ada noda yang dibuat olehku, sepertinya. tapi tetap saja, aku harus membawanya pulang dan mencucinya.

tok tok tok

"retta, ini mark,"

segera aku membuka pintu bilik kamar mandi. mendapati kak mark dengan sebuah kantung plastik warna hitam dan stelan olahraga.

"nih, pake dulu seragamku," ujarnya sambil mengulurkan barang-barang yang ia bawa.

aku menerimanya dengan ragu-ragu. "kak--"

kak mark tersenyum, "gapapa retta, gih ganti dulu,"

aku mengangguk, lalu kembali masuk ke bilik. menyelesaikan semua urusanku. dan berganti ke stelan olahraga yang dipinjamkan kak mark.

sejenak aku berkaca. mirip orang-orangan sawah. tapi lebih baik, daripada harus berkeliaran dengan rok warna merah yang memalukan.

ya tuhan, bagaimana bisa aku menampakkan diri di depan kak mark lagi?

“udah?”

astaga. ya tuhan, aku terkejut. lagian, kenapa pula kak mark sampai menunggui aku di depan toilet wanita?

aku mengangguk menjawab kak mark setelah menutup pintu. “makasih ya kak, nanti jaketnya aku cuci dulu,” ujarku sambil menunduk, serius, aku malu kuadrat.

kak mark terkekeh, “iya, gapapa. yuk aku anterin ke kelas, udah mau masuk nih,” ajaknya yang kujawab anggukan.

kami berjalan beriringan. tentu saja dengan embel-embel menjadi perhatian penduduk sekolah.

aku menunduk semakin dalam, bergeser sedikit demi sedikit agar tidak terlalu dekat dengan kak mark.

namun ia malah merangkul pundakku, menarikku mendekat.

aku mendongak, menatapnya.

ia tersenyum tipis, “nggak usah malu. hitung-hitung simulasi kalau kita jadian beneran,”

sontak aku kembali menunduk, menyembunyikan pipiku yang terasa panas. tak lupa diiringi kekehan kak mark yang terdengar sangat tampan.

kak mark, jangan salahkan aku ya kalo aku makin suka.

sesuatu di jogja

.
.
.

TBC

funfact : nama sekolah mereka kan sma angkasa, coba kalau disingkat jadinya apa?

iya, smangka:)

khas mark lee kan? awalnya aku nggak sadar, begitu sadar, kok bisa pas gitu ya :")

𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙙𝙞 𝙟𝙤𝙜𝙟𝙖Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang