[UPDATE] MINIMAL 2 KALI SEMINGGU
[Masih dalam fase belajar tata bahasa & penulisan]
...
Sebuah kisah yang menceritakan anak SMK jurusan Akuntansi. Jurusan itu mempertemukan dua insan yang belum pernah MERASAKAN apa yang sebagian orang sudah rasakan
...
Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii'
Berdoa dulu ya Abis itu tarik napas Abis itu baru baca Ehiya lupa buang napasnya Tar kalo gak napas lg bahaya WAHAHHAHA
[ Koreksi typonya ya gaess!!! ]
ENJOY BACANYA SAHABAT 💃
***
- Menebus kesalahanku setelah hampir 2 minggu gak update 😭😭 -
Maaf ya cuy 🙏🙏
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Udah satu hari, kenapa menghindar dari gue?"
Diva menelan saliva, nahan napas sekuat tenaga. Apakah cowok didepannya ini sedang menguji jantungnya?. Kenapa cowok bernama Ghaisan itu jadi berubah gini?. Berubah--seram. Pikir Diva.
Diva yang selalu di ketusin Ghaisan. Diva yang selalu memulai pembicaraan, Diva yang bersusah payah mencari topik, intinya selalu Diva-Diva-Diva yang selalu memulai. Namun kali ini berbeda, kali ini Ghaisan yang memulai. Bukan kah seram—?.
Diva spontan mundur satu langkah karena keadaan seperti barusan tidak baik untuk jantungnya.
"Aku marah sama Kak Ghaisan," ucap Diva, ketus.
Ghaisan kembali menegakkan tubuh sembari merapikan seragam PDU nya, "Dih! Gue ada salah?"
"Kak Ghaisan waktu itu kenapa ngomong kaya gitu sih?"
"Kaya gimana?"
Diva membuang muka, mau bilang tapi malu. Mungkin wajahnya sekarang sudah berubah merah malah sebentar lagi berganti hijau, wkwk.
Malunya sampai ke ginjal-ginjal, jhahaha.
Diva balik menghadap cowok yang sekarang sudah melepas peci hitam yang membuat rambut klimisnya sedikit berantakan.
"Bilang kalo kita ciuman?" ucap Diva cepat, wajahnya sekarang 100% seperti orang makan Paqui level 1.000.000. PEDAS~
"Emang ngapa?" Ghaisan balik bertanya.
Diva menatap Ghaisan dengan berani, matanya mendelik tajam dan wajahnya masih sama seperti barusan. "Kak Ghaisan gak tau efek nya ke jantung aku gimana."
"Serangan jantung?" tanya Ghaisan, cowok itu menatap Diva meledek.
Diva terkejut. Cowok itu bodoh apa bego, please lah jangan milih dua-duanya. Pikir Diva.
Diva melipat kedua tangannya di dada. Membuang napas berat. Kembali membuang muka sembari mendumel, "Kalo gak ganteng, udah gue robek tuh mulut," ujar Diva sepelan mungkin.
Ghaisan ikut menghela napas. Menarik rambutnya ke belakang, "Lagian itu cuma bercanda, jantung lo aja hiperbola."
Diva kali ini maju, mendekati cowok dingin dan angkuh itu. Kepala Diva dangak melihat wajah tegas Ghaisan, karena tubuh Diva hanya sebatas dada Ghaisan.