Part 12 🔞

4.7K 333 18
                                        

Udah tahulah yah maksud dari emot itu. Ini area khusus kalian yang udah 18+. Dedek dedek gumush yang masih di bawah umur skip aja yah?

Happy Reading Chinggudeul

Renanda, pemuda dengan tubuh lebih mungil dari ukuran badan kebanyakkan pemuda biasanya. Pemuda dengan mata rubah, dan paras yang terkesan terlihat lebih manis dan cantik secara bersamaan seperti seorang wanita, serta pipi gembilnya yang membuat dia nampak begitu menggemaskan.

Keluarga Renanda termasuk salah satu keluarga terpandang di kotanya. Ayahnya seorang CEO keturunan Jepang di sebuah Perusahaan Manufuktur dan ibunya seorang aktris terkenal di kotanya. Ayahnya begitu menyayanginya dan selalu menuruti keinginannya, namun semua itu telah berubah semenjak kematian ibunya karena sebuah kecelakaan mobil saat ibunya ingin menghadiri acara penamatan atas kelulusannya di bangku SMP. Hari yang membahagiakan bagi dirinya karena dia berhasil menjadi juara umum atas kelulusannya juga menjadi hari yang begitu memiluhkan secara bersamaan. Karena hal itulah ayahnya begitu membencinya, katanya Renanda adalah penyebab kematian ibunya. Renanda masih ingat dengan jelas kalimat yang ayahnya ucapkan untuknya sewaktu dia kembali ke rumah dengan wajah girangnya atas pencapaian nilainya yang begitu memuaskan.

"Masih berani kau menampakkan dirimu disini pembunuh? Dasar pembunuh tidak tahu diri" Teriak ayahnya di depan banyak orang yang datang melayat.

Renanda tersungkur dan menangis meraung raung di lantai, mendapat tubuh serta paras cantik ibunya yang sudah terbujur kaku dan pucat. Serta mendapat tuduhan sebagai pembunuh ibunya dari ayahnya sendiri. Pantas saja ibunya tidak datang menghadiri acara penamatannya dan dia di jemput supir pribadinya dengan paksa tadi.

"A-aku bukan pembunuh ayah, kenapa ayah tega mengatakan hal itu padaku" Ucap Renanda susah payah berusaha mengeluarkan suaranya.

Ayahnya menatapnya dengan marah, "Kau pembunuh sialan. Jika saja istriku tidak pergi menghadiri acara penamatan kelulusanmu, pasti saat ini dia masih bersama denganku menatapku dengan penuh cinta" masih dengan berteriak ayahnya mengucapkan setiap kalimatnya.

Orang orang yang berada disana tidak satupun berani bersuara. Semuanya diam menjadi penonton.

Renanda terus menangis, mendapati kematian ibunya sudah sangat membuat dunianya hampir runtuh, lalu sekarang dia di tuduh sebagai penyebab kematian ibunya oleh ayahnya sendiri.

Renanda berusaha keras untuk bangkit berdiri menghampiri dan melihat dengan jelas wajah cantik ibunya yang sudah terbujur kaku, namun langkahnya terhenti oleh ucapan ayahnya.

"Jangan berani kau mendekat pembunuh, aku tidak sudi melihat wajah dari seorang pembunuh sepertimu. Pergi dari rumah ini jangan pernah beranj menampakkan dirimu lagi disini"

Namun, Renanda masih saja berusaha untuk mendekati ayahnya dan juga mayat ibunya itu. Berlutut di hadapan ayahnya, dengan memeluk erat kakinya "A-aku tidak membunuh ibuku yah, aku tidak membunuhnya. Tolong jangan buang aku, kemana lagi Renanda harus pergi ayah jika ayah membuangku"

"Jangan lagi kau panggil aku ayahmu sialan, kembalikan nyawa istriku baru kau bisa memanggilku dengan sebutan itu lagi" Ayahnya menghentakkan kakinya dengan keras, berusaha melepaskan pelukkan Renanda di kakinya. "Pergi dari sini Renanda, tolong pergi. Kau bukan anakku lagi" Tegas ayahnya sekali lagi. "Tolong bawa dia keluar dari sini, aku tidak sudi melihat wajah dari seorang pembunuh seperti dirinya"

Kilasan kejadian itu masih saja membuat Renanda begitu terpukul. Bulir air mata membasahi pipi gembilnya, walau sudah di buang oleh ayahnya sendiri, Renanda masih sangat menyayangi ayahnya, karena dia yakin suatu saat ayahnya pasti akan kembali menyayanginya seperti dulu lagi. Buktinya, sekarang dia berada di apartment ini yang di berikan ayahnya meski hanya melalui perantaraan orang lain, dan entah dari mana ayahnya mengetahui nomor rekening pribadinya, setiap bulannya dia pasti mendapat uang tambahan di rekening pribadinya. Dia sangat yakin bahwa ayahnya yang mengirimkan uang tambahan, karena setiap menerima uang tambahan itu pasti akan ada pesan masuk di ponselnya dengan kalimatnya yang selalu sama berisi, "Pembunuh pun tetap butuh uang untuk makan, gunakan uang itu dengan baik dan berhentilah mencari darah manusia untuk memuaskanmu" Meski isi pesannya tidak mengenakkan untuk di baca, tapi Renanda selalu tersenyum membacanya, setidaknya ayahnya masih mengingatnya. Entah dimana keberadaan ayahnya, Renanda berharap nanti ayahnya bisa memaafkannya dan mereka bisa kembali bertemu lagi. Sungguh Renanda sangat merindukkan ayahnya dan juga ibunya.

Selfish [HyuckRen]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang