"Mengingat semua seraya berharap bahwa, ini akan segera berganti nasib itu wajar. Namun, apakah nasib secepat itu berubah? Tentu tak semudah itu."
.
.
.
Adara Hanum Aviccena"Dara! Aku suka sama kamu."
"Ish! apasih, galucu."
"Aku cinta sama kamu, Adara Hanum aviccena."
"Gausah Ng-prank."
"Tatap mata aku, aku serius."
"Aku mau buktiin, bahwa aku bukan dia. Dan aku janji sama kamu, bakal selalu disampingmu apapun kondisinya."
"Aku tau kamu juga suka aku kan? Jangan bohongin dirimu sendiri. Kita bisa buka lembaran baru tanpa harus melihat ke belakang, kita juga bisa berjalan tanpa harus menunggu masa lalu."
"Adara Hanum Aviccena,Will you be my girlfriend?"
"E-em i-ya. Yes, i will."
"Yeeaahhh!!"
Tes! Satu air mata itu lolos di pipi mulus Dara. Kilasan kenangan indahnya dulu terputar kembali. Moment dimana ia begitu mempercayainya, berharap bahwa semua yang ia katakan adalah benar adanya. Namun semakin lama, semuanya semakin terungkap keaslianya.
Kini ia tengah duduk di salah satu kursi panjang, menikmati hamparan danau dihadapannya. Sore ini sangat sepi, hanya ada satu, dua orang yang berlalu-lalang. Karna itu Dara menyukai tempat ini, disini Dara dapat mencurahkan isi hatinya, mengeluarkan semua kekecewaan, dan tentunya menangis. Dara pun tak segan untuk berteriak, seraya berharap apa yang ia rasakan dapat jatuh lalu tenggelam di danau ini. Konyol. Tapi memang benar adanya. Disaat Dara sudah berteriak, Dara pasti akan merasa lega.
Tiba-tiba Dara merasakan rintikan hujan yang menerpa wajahnya. Namun Dara sama sekali tidak merasa terganggu. Semakin lama, hujan semakin turun mengguyur tubuh Dara. Tak ada keinginan untuk beranjak dari sini, Dara pun menikmati setiap derasnya hujan yang menerpa wajahnya. Air hujan itu menenangkan sekaligus menyenangkan batinnya.
Perlahan menutup matanya, lalu mendongak ke atas. Ia merasa begitu tenang, walaupun kini bibirnya telah menggigil. Namun baru saja menikmati, ia sudah tidak merasakan hujan yang jatuh ke wajahnya. Aneh. Padahal suara gemercik air hujan yang turun ke danau di depannya masih terdengar. Perlahan ia membuka matanya, dan ternyata sudah ada payung hitam yang berada tepat di atas kepalanya. Dengan cepat ia menoleh ke samping, tampaklah sosok berpawakan tinggi tengah menatapnya tajam.
"L-o?"
"Pulang Raa, hujan." ucap pemuda itu
"Gausah sok peduli, singkirin payung lo! Gua gak butuh." jawabnya ketus
"Gue gak terima penolakan." ujarnya cepat kemudian menarik tangan Dara yang sudah dingin itu menuju mobilnya
Baru saja sampai disamping mobil Dara menghempaskan tangannya kembali. Dan berusaha melangkahkan kakinya untuk kabur.
"Masuk raa." cegah nya menahan tangan Dara
"Gak." ketus Dara
Dengan satu gerakan, pemuda itu sudah mendorong Dara masuk ke dalam mobilnya.
"Ish! Mau lo apasih?" tanya Dara kesal
Tak ada jawaban, pemuda itu malah sibuk menggulung payung hitamnya. Lalu dengan cepat ia masuk ke dalam kursi pengemudi. Diliriknya Dara yang masih kesal itu, kemudian tangannya terjulur ke belakang berusaha meraih sesuatu di jok belakang.
"Pake." ucapnya seraya melempar hoodie dan handuk kecil miliknya
"Gue gak-"
"Gak terima penolakan." potongnya

KAMU SEDANG MEMBACA
PHILOPHOBIA
Teen FictionIni bukanlah cerita cinta diam-diam, bukan kisah cinta romantis, bukan pula soal cinta beda agama. Tapi ini adalah sebuah cerita perjalanan hidup seorang Adara Hanum Aviccenna. Yang terus berlari menghindari masa lalu yang mengusik jiwa. Tak tau hen...