Malam tragedi itu, selalu bersarang di kepala jenius sang Nara, bagaimana ia menemukan seluruh klannya terkapar tak bernyawa. Darah segar membanjiri district tempat tinggal klan terjenius di desa konaha, hanya seorang Shikamaru satu-satunya klan yan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Asuma menunggu genin kesayangnya tepat pukul sembilan pagi di lapangan latihan tujuh, dia terlalu antusian dengan tim geninnya, sampai-sampai ia terlalu cepat untuk mendaratkan bokongnya di atas rumput hijau lapangan itu. Sementara tiga orang geninnya berjalan santai menuju lapangan latihan. Mata hitam Asuma menatap dua geninnya, mereka berjalan santai dengan tangan yang bertaut satu sama lain. Asuma cukup terkejut dengan apa yang di lihatnya, selama ia mengenal Shikamaru, selera seksualnya tidak pernah menyimpang, ahhh... Mungkin ia terlalu lelah sampai-sampai pikirannya berseliweran kemana-kemana.
"Pagi, sensei! Jangan melamun sensei tidak baik!" sapa si pirang ceria pada Asuma.
"Kalian terlambat 10 menit anak-anak!"
"Kau saja yang terlalu pagi Asuma!"
"Yah, yah terserahlah. Mari kita mulai. Peraturannya di sini aku berperan sebagai shinobi tingkat elit, kalian harus menangkapku hidup-hidup demi sebuah informasi, dan tentu saja dengan kerja sama tim kalian, anggap saja aku shinobi yang membawa informasi penting untuk pertahanan desa kalian. Kalian mengerti?"
"Mengerti Sensei,"
"Hoamm, merepotkan, cepatlah Asuma aku ingin tidur!" Shikamaru menguap malas, ia ingin segera menyelsaikan latihan yang merepotkan ini.
"Baiklah, mulai!" Asuma menghilang dengan sisa kepulan asap di depan mereka bertiga. Mereka tahu Asuma adalah mantan 12 shinobi terpilih penjaga damiyo hinokuni, jadi mereka juga harus memperhitungkan akan keberhasilan misi mereka jika berhadapan dengan shinobi setingkat Asuma. Cakra Asuma benar menghilang dari sistem sensorik mereka.
"Silakan atur siasat kapten!" si pirang tersenyum lembut kepada lelaki berambut nanas itu. Naruto, sungguh percaya akan strategi yang keluar dari otak seorang Nara, begitupun Shino, ia percaya kepada dua temannya.
"Begini strateginya. Shino sebarkan serangga mu di dalam hutan ini, temukan apakah ada genjutsu yang Asuma aktifkan, sebenarnya aku dan Naruto muda menemukan keberadaan Asuma, di karenakan ini adalah kerja sana tim maka aku butuh bantuan kepekaan serangga-seranggamu dalam menganalisa cakra sensitive, setelah itu beri informasi kepada kami apapun yang seranggamu temukan, dengan seranggamu temukan keberadaan Asuma, setelah posisinya di temukan, kita akan menyerang secara bertahap. Kalian mengerti?"
"Mengerti!" Naruto dan Shino menjawab secara bersamaan.
"Bubar, dan ambil posisi masing-masing!" mereka bertiga melompat pada batang pohon dan mulai menyebar.
Naruto, mengambil posisi tengah ia berlari tepat menuju jantung hutan, sementara Shikamaru ia mengambil jalur utara, dan Shino mengambil jalur selatan untuk melepaskan ribuan serangganya. Shikamaru dan Naruto sengaja membiarkan Shino mengambil alih sensor, di karenakan mereka ingin tahu akan kemapuan serangga Shino.
"Arah jam sembilan dari jantung hutan sekitar satu kilo dari posisi Naruto, kalian beri tanda pada Shikamaru dan Naruto, aku mengandalkan kalian semua!" setelah menerima perintah dari tuannya, serangga itu menyebar kepada Shikamaru dan Naruto.