Chapter - 8. No Reason Why

306 44 0
                                    

HAPPY READING 📖

-----------------------------------------------

Angel tersentak kaget saat Griss memeluknya dari belakang. Dagu pria itu bahkan diletakkan di bahunya.

"Morning," sapa Griss sembari mencium bahu Angel. Harum dari masakan Angel memang tak ada tandingan selain ibunya. Sudah berkali-kali perutnya keroncongan jika Angel memasak. Ia jarang memakan dari masakan Angel, namun lidahnya hapal bagaimana cita rasanya. Jika ia jujur, Christine bahkan tak bisa memasak seenak ini. "Aku selalu suka masakanmu. Walaupun dulu aku sering mengelak, tapi sebenarnya mulutku ingin terus makan, makan, dan makan karena dari wanginya saja sudah menggoda."

Angel tak tahu itu keseriusan atau tidak, yang jelas wajahnya sudah memerah dan dunia seakan berhenti berputar.

"Menjauhlah, Griss. Aku susah bergerak!"

"No. Bukannya kau mau aku memelukmu?"

Shit! Angel mengumpat keras dalam hati. Kenapa Griss bisa tahu? Bukankah hanya ia yang mengetahuinya? Apa memang dari dulu, Griss sudah bisa membaca gelagatnya dan berpura-pura bodoh?

"Tapi tidak sekarang! Kau tak lihat aku memasak? Please, menjauhlah!" pekiknya kasar. Bukan karena risih, hanya saja ia malu. Bagaimana tak malu, bertahun-tahun tak mendapat perlakuan manis dari Griss, kini ia harus dihadapkan dengan tingkah berbeda? Jika ia es, bisa saja ia meleleh karena perlakuan hangat yang malah semakin hangat setiap detiknya.

Pelukan Griss semakin erat. Tangannya merambat ke punggung tangan Angel—seakan mengajaknya memasak bersama. "Ini pertama kalinya kita memasak bersama, kan?"

Angel memutar bola mata walau hatinya mulai bersorak girang. Ah, ia ingin mencair bak es krim. Tak bisa diungkapkan seberapa bahagia ia dengan perlakuan ini. Oh, Tuhan. Semoga ia tak mati muda karena menahan degupan-degupan yang semakin menggila.

"Duduklah dan tunggu aku selesai memasak," jelasnya dengan suara menyurut. Napas hangat Griss menyapu pipinyalah yang tak bisa ia hindarkan. Semakin ia menghindar, semakin Griss mendekat. Ia benar-benar mati kutu di dekapan Griss terlalu lama.

Griss melepaskan pelukannya lalu berganti posisi dengan bersandar di dinding kitchen set—tepat di sampingnya. "Bagaimana bisa aku mengabaikan pemandangan istriku memasak?"

Lagi, jangan tanyakan seberapa merah wajahnya. Ia benar-benar bisa mati muda karena terlalu susah menahan godaan demi godaan yang Griss ungkapkan. Jika makanannya tak enak, Griss yang harus bertanggung jawab karena lelaki itu menggodanya di saat ia harus fokus.

"Ternyata benar kata orang. Saat istri memasak, kecantikannya akan bertambah." Ia tak mengindahkan ucapan itu. Biarkan saja pipinya bereaksi. Lagi pula, Griss juga tahu ia bersemu sekarang.

Tawa Griss mengalihkan perhatian. Ia melirik Griss sekilas dan tersenyum tipis. Inikah rasanya cinta yang hampir terbalas? Inikah rasanya saat sosok dicintai mulai mengganggapnya ada?

***

Laptop yang seharusnya ia bawa, tertinggal di kamar karena lupa. Angel turun dari mobil setelah mengendarainya beberapa meter lalu melangkah ke kamar. Ia mengikat rambut sembari menaiki tangga kemudian membuka pintu. Pemandangan yang tak sedap pun terpatri.

"Ups!" Angel tersenyum kaku. Ia membalikkan badan dan berpura-pura tak melihat. Bagaimana ia bisa percaya dan kembali berharap seperti sedia kala jika ini yang ia lihat? Bagaimana bisa ia ingin berharap lagi jika Christine tak hilang dari hati Griss?

"Angel?" Griss mengejarnya dan ia berbalik dengan raut tak marah dan biasa saja walau hatinya ingin menangis.

"Ya?"

No Reason Why ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang