BAB 2A

57 11 5
                                        

Dua hari yang lalu aku sudah resmi menjadi anak dari seorang Kaina. Wanita yang nggak aku suka tapi sangat disukai sama Ayah. Benar-benar deh, aku dan ayah ini selalu beda server kalau soal wanita itu.

Aku sedang berusaha menjadi anak baik hari ini, kalau aku membuat perkara sedikit saja dengan Kaina, bisa-bisa aku dikurung dalam kamar selama seharian atau mungkin lebih.

Pagi ini kami sarapan bertiga. Aku hanya bisa pura-pura tersenyum melihat keromantisan pasangan yang baru menikah.

Sosweet? Nggak! Yang ada aku merasa jijik.

Aku mau lihat sampai kapan wanita ini berpura-pura baik di depan kami. Saat waktunya tiba nanti, aku akan terus mencari bukti kalau dia hanya benalu untuk ayah.

Aku menjadi anak baik dihadapan ayah. Karna aku memang selalu baik. Namun aku akan menjadi orang lain untuk wanita ini. Jangan harap deh aku mau berbaik hati.

Kira-kira panggilan apa yang cocok untuknya, ya? Mak Lampir? Nenek Sihir? Nyi Pelet? Tapi namanya itu Kaina Pelangi. Kalau begitu bagaimna dengan kain pel?

Kurasa nama itu pas untuknya yang selalu bermuka sok polos di depan ayah. Kain pel kepanjangan dari Kaina pelangi. Bagus 'kan?

Acara makan pagi ini nggak semanis madu apalagi semanis gula tebu. Karna aku hanya penonton dari pasangan yang sedang berkasih mesra ini.

Setelah kami makan, ayah langsung pamit pergi bekerja dan tersisalah kami berdua, aku dan kain pel. Harusnya dia masuk kerja sih, tapi ayah melarangnya karena dia belum sehat.

"Woy," panggilku.

Dia berjengkit saat mendengar suaraku. Matanya pun enggan menatapku dan kedua tangannya masih sibuk mengolesi roti.

"Gimana tinggal sama dokter ganteng? Enak?" Aku tersenyum mengejek tapi dia tidak menjawab.

"Yah wajar sih, ayahku itu kelewat ganteng jadi banyak yang suka deh. Apalagi perawat di rumah sakit dari dulu banyak yang ngejar-ngejar ayah."

Kedua tangan kain pel tiba-tiba berhenti begitu saja. Kunyahannya pun melambat. Wow, apa dia mulai terpancing?

Aku mau mengerjainya lagi tapi suara bel tiba-tiba berbunyi, seseorang di puar sana berteriak memanggil namaku sampai tiga kali.

Dasar kadal, pasti itu Clara.

"Udah lah, gue mau berangkat, teman gue udah jemput! See you kain pel." Aku melambaikan tangan setelah meneguk habis susu coklat di gelas.

Nggak ada salam pamit cium tangan atau cium pipi. Amit-amit deh. Bisa-bisa dunia persilatan saling tempur kalau aku sama dia seakrab itu.

Kuhampiri Clara yang datang dengan sepeda gunungnya. Yap, kami memang berangkat pakai sepeda, karna jarak sekolah kami nggak terlalu jauh.

"Lama bener dah, ngapain sih? Semedi?" ujar Clara.

"Iya, semedi di meja makan ngeliatin kemesraan ayah sama kain pel."

Clara mengerenyit bingung ketika mendengar nama kain pel. Wajar sih, aku memang belom bilang sama dia, lagian sebutan itu juga baru kudapatka tadi pas makan.

"Kain pel itu sebutan buat emak tiri gue. Dah ah, ayo berangkat. Kesiangan nanti, emang lo mau manjat pager lagi?"

Clara tergelak sambil memukul-mukul bahuku, katanya aku harus rajin semedi di meja makan sambil melihat wajah si kain pel itu, siapa tahu nanti aku menerimanya dengan tiba-tiba. Amit-amit deh.

Sepanjang perjalanan kami terus membicarakan wanita itu, sampai-sampai kami nggak sadar kalau sudah sampai sekolahan.

Pukul 07.45 WIB kami sampai, hari ini Dewi Fortuna sedang berpihak pada kami, jadi engga ada drama naik pager gara-gara terlambat datang.

"Jadi lo mau ngawasin dia terus?" tanya Clara.

"Iya, sampe ketahuan bobroknya. Gue nggak mau kalau nanti ayah sakit hati gara-gara dia. Lo bayangin aja, baru kenal beberapa bulan kok tiba-tiba nikah. Apalagi coba kalau bukan karna diguna-guna!"

Clara merangkulku dan mengajak duduk ke kursi.

"Kita bikin rencana aja gimana?" ujar Clara.

Aku mengerenyit. Biasanya ini anak kalau punya rencana tuh selalu nggak normal, pasti aku terus yang kena sial.

"Kita mata-matain dia, kalau ada gerak-gerik mencurigakan kita awasin terus. Nanti lo ajak pacar lo biar bisa ikut nemenin."

Clara bersedekap sambil tersenyum. Kalau dipikir-pikir benar juga sih. Memata-matainya bukan sesuatu yang buruk. Toh aku melakukan ini demi kebaikan ayah juga 'kan?

Aku menyetujui ide Clara. Sepulang sekolah nanti kami akan memulainya. Dia juga berencana main ke rumahku sampai malam, tepatnya sampai ayah pulang. Rencananya aku juga mau mengajak Billy, sekalian mau mengerjakan tugas bahasa.

Billy itu kekasihku. Kami baru saja pacaran dua bulan lalu, itupun karna bantuan Clara. Dia yang membuat Billy mau dekat denganku.

Kisahku nanti saja diceritakan, karna itu tidak terlalu menarik untuk diberitahukan. Fokusku saat ini hanya ibu tiriku yang sedang berpura-pura baik di depan ayah.

Hari ini pelajaran di kelas lumayan membuat kepala berasap. Belum lagi tugas yang menumpuk. Mungkin kalau diibaratkan dengan sesuatu, tugas ini setara dengan Gunung Rinjani.

Bel sekolah berbunyi, aku bersyukur untuk itu. Artinya kepalaku bisa berhenti berasap, syaraf di kepala bisa berhenti demo sekarang.

Clara tiba-tiba menghampiriku sambil merangkul.

"Jadi nggak?" ujarnya.

"Jadi apaan?"

"Berubah jadi Mbak Kunti!" Clara sedikit mengomel. "Ya ngerjain emak lo lah," ujarnya.

Aku tergelak, senang rasanya menggoda Clara sampai kesal. Walau aku sering mengganggu dan menggodanya, Clara cukup baik dan sabar dengan sikapku ini.

Oh, ya. Billy tidak jadi ikut, katanya ada janji dengan keluarganya. Jadi hanya aku dan Clara yang akan mengganggu Kain Pel.

Kami tiba di rumah lebih cepat dari bisanya. Clara mengajakku balapan sepeda tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.

Aku dan Clara berhenti di depan pagar sambil menyetandari sepeda. Aku terkejut saat mendapati Kain Pel berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa pakaian. Sepertinya itu jemuran yang sudah kering.

"Kamu sudah pulang?" tanya Kain Pel.

"Kalau ada di sini berarti sudah pulang 'kan? Nggak mungkin bayanganku doang yang sampai sini," ujarku.

Aku bisa mendengar Clara menahan tawanya. Untung saja teman, kalau bukan sudah kutendang sampai ke segitiga bermuda.

Ini sudah jam 14.15 WIB, artinya makan siang sudsh dihindangkan. Aku melewati wanita itu tanpa memberi salam atau permisi.

Aku bisa merasakan dia memperhatikanku sampai aku masuk ke kamar dan selesai mengganti pakaian.

Di bawah, Clara sedang berbaring di sofa mengabaikan Kain Pel yang tengah memandanginya. Kurasa Clara benar-benar sudah tidak memiliki urat malu.

Aku menghampiri Clara dan menarik tangannya. Kuajak dia makan setelah itu mengerjakan tugas di kamarku. Namun, sebelum aku dan Clara selseai makan, tiba-tiba wanita itu berteriak ketika membuka tutup sayur.

Bi Nana tergopoh-gopoh menghampiri kami.

"Ada apa, Buk?" tanya Bi Nana.

"Itu! Itu! Itu kenapa ada cicak di dalam sayur sop!" ujar wanita itu histeris.









To be contiued ....
Senin, 26 Oktober 2020

[1044]



I HATE TO LOVE YOUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang