Make a Deal?

34 5 0
                                        

"lu mau apa hah kalo lu mau ngancem kayak tadi gue bakal teriak" kata sarah

Brayn langsung menutup mulit sarah dan kemudian menyeratnya ke kamarnya, sarah berusaha memberontak namun kekuatan semutnya tidak bisa mengalahkan brayn. Tidak satupun ide muncul di benaknya agar bisa terlepas dari cengkraman brayn sampai satu satunya cara untuk membuat brayn melepaskannya adalah mengigit tangan yang mendekap mulutnya, sarah dengan gigi bajanya berhasil membuat brayn berteriak sampai melepaskan mulut sarah.

"lu nyari mati ya" kata brayn sembari memegang mulut sarah

"lepasin gue"

"gue masih sabar ya, sebaiknya lu gak usah macem macem"

"apa hah gue gak takut sama lu"

"gue mintak baek baek ya, jadi dengerin dulu permintaan gue baru lu bisa nolak atau engga"

"gue gak peduli sama lu, sekarang mending lu minggir atau gue aduin lu sama bokap lu" sekarang lebih baik lu minggir

Sarah mendorong brayn supaya menjauh darinya, namun saat ia hendak membuka pintu ternyata pintu itu sudah di kunci berkali kali ia berusaha mendorong pintu itu namun tidak membuahkan hasil

"bener bener suatu kesialan buat gue ketemu sama lo" kata sarah

"lu gak bakal ke mana mana sampai lu dengerin permintaan gue"

"gue bilang gak"

"yaudah lu bakal nginap semaleman disini sama gue"

"brayn plis dada gue udah sesak beneran gara gara lu"

"gue cuman minta lu dengerin permintaan gue, itu susah? Cuman pake telinga buat denger susah? "

"tapi kalo gue udah dengerin, gue minta lu gak usah ganggui gue lagi"

"gue mau lu pura pura jadi pacar gue di depan keluarga gue"

"hah"

"bilang sama jeson kalo lu suka sama gue"

"ngapain gue harus bilang sama kak jeson kalo gue suka sama lu, justru kebalikan gue benci banget ama lu"

"terserah lu mau ngomong apa gue gak peduli, yang penting cuman depan keluarga gue"

"dan gue gak mau"

"lu harus mau, kalo gak setiap hari gue bakal gangguin lo kayak gini"

"gue gak nyebut itu anceman"

"tapi bakal jadi anceman nanti kalo lu udah liat gue bertindak"

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang turun dari tangga, itu adalah kakek sarah dan orang tu brayn, brayn yang raut mukanya menunjukan kecemasan dengan secepat kilat menbuka pintu kamarnya, sarah yang melihat kesempatan itu pun langsung keluar dan kembali menuju meja makan, dengan jantung yang hampir copot karena tingkah brayn, dia mengambil air putih dan minum untuk menenangkan diri, brayn yang menyusulnya kembali ke meja makan dengan wajah santai dan senyum di wajahnya seolah tak punya rasa bersalah menatap sarah.

"kek mau pulang" kata sarah tiba tiba

"loh kok cepet banget" sahut mama brayn dengan raut muka tidak enak hati

"sarah lupa tante besok ujian jadi harus belajar" jawab sarah

"oh gitu yaudah ayo tante anter ke depan"

Keluarga brayn mengantar sarah dan kakeknya ke pintu depan mereka saling mengucapkan selamat tinggal, brayn yang senyam senyum pun saat bersalaman berbisik kecil kepada sarah.

"inget permintaan gue" bisik brayn sembari mengedipkan matanya

Jeson yang menyaksikan itu terlihat kurang nyaman atas perlakuan brayn pada sarah
Setelah itu sarah dan kakeknya
mama dan papa brayn pun masuk ke dalam rumah namun ketika brayn hendak masuk ke rumah tiba tiba tangannya ditahan oleh jeson dengan raut muka yang serius dia menatap brayn dengan tajam

"lu ngomong apa ke sarah" tanya jeson

"bukan urusan lu" jawab brayn yang hendak lepaskan tangannya dari jeson

Namun jeson kembali menarik adiknya tersebut

"lu gak usah deketin sarah, lu gak pantes buat dia"

Brayn dengan senyuman piciknya menepis tangan jeson dan membalas perkataannya

"emang lu ngerasa pantes? "

Jeson hanya diam

"lu gak usah takut bersaing sama gue kan lu selalu menang, Happy Birthday " sambung brayn sembari menepuk pundak jeson dan meninggalkan jeson sendiri di depan pintu.

Pov zayn

Malam itu benar benar tenang, rebulan bersinar terang namun terkadang sesekali ditutupi awan hitam malam, zayn duduk di meja teras rumahnya sambil membaca buku novel yang menjadi rutinitasnya sehari hari. Sesekali ia mengingat buku diperpustkaan yang belum sempat ia baca karena di pinjam oleh sarah. Ntah dia memikirkan bukunya atau orang yang meminjamnya.
Di saat sedang fokus fokusnya membaca
Hp nya berdering dan ketika ia melihat ternyata ayahnya yang menelponnya namun seperti acuh tak acuh zayn tidak memperdulikan panggilan tersebut.

"itu siapa bang" tanya omma zayn yang tiba tiba keluar

"eh omma, bukan siapa siapa ma" jawab zayn

" di dalem ada cemilan kalo mau baca sambil ngemil, mau omma ambilin? " tanya nya lagi

"gak papa ma, ntar abang ambil sendiri" jawab zayn

Omma zayn punya kebiasaan selalu memeluk zayn, sebelum ia masuk lagi ke rumah ia memeluk zayn terlebih dahulu.
Zayn adalah anak tunggal, kedua orang tuanya bercerai dan dia kini tinggal dengan ommanya, zayn juga satu satunya cucu yang di miliki oleh ommanya, oppa zayn sudah meninggal sejak beberapa tahun lalu karena terkena strok.
Orang tua zayn bercerai karena ayahnya sering melakukan kekerasan pada ibunya dan juga ketahuan berselingkuh, dulu sewaktu kecil zayn sering menjadi saksi bisu bagaimana ayahnya sering memukuli ibunya sewaktu waktu. Itulah mengapa zayn lebih cendrung pendiam dan sulit membuka hubungan dengan orang lain, trauma masa kecilnya membuatnya kesulitan menghadapi kenyataan. Karena tidak tahan sikap ayah zayn  dengan segala kekerasan dan perselingkuhan, ibunya zayn meninggalkan zayn dan ayahnya tanpa mengucapkan selamat tinggal saat zayn berusia 13 tahun. Zayn yang sangat sulit menerima hal itu dan sangat membenci ayahnya bahkan ia bahkan bisa memukuli ayahnya saat bertemu oleh karena itu zayn tinggal dengan ommanya walau sesekali ayahnya meminta maaf dan berharap zayn mau memaafkan dan tinggal bersamanya.

bener bener suatu kesialan buat gue ketemu sama lo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

bener bener suatu kesialan buat gue ketemu sama lo

-Sarah

Between Me & You TwoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang