Chapter 21 [End]

3.2K 173 70
                                        

BoBoiBoy memijit keningnya perlahan. Otaknya perlahan lelah untuk mengingat semua memori yang masuk ke dalamnya.

"BoBoiBoy!"

BoBoiBoy menghentikan aktivitasnya. Mata karamel itu melihat mata emas yang sedang memandangnya. Sosok manusia yang persis sama dengannya, tetapi dengan warna yang berbeda. Plus, ada lambang tanah bertumpuk di topi sosok tersebut.

"Oh, Gempa," ucap BoBoiBoy perlahan.

"Bagaimana? Kau senang bisa melihat memori bersama Fang?" tanya BoBoiBoy Gempa dengan lembut.

BoBoiBoy menghela napas lelah. "Iya. Aku senang."

Gempa tersenyum manis. "Kau merindukannya?"

BoBoiBoy mengangguk. "Sangat. Tapi ... bagaimana caranya aku keluar dari sini?"

BoBoiBoy sadar sekarang ia berada di daerah yang tidak ia kenal. Ia ingin pulang dan bertemu keluarganya secepat mungkin. Mata karamelnya terus menerawang dan mencari tahu apa ruangan cermin ini.

"Kau tak usah pikir macam-macam, Fang. Mereka kan bekerja demi kita juga,"

BoBoiBoy melihat memori yang berputar di cermin sisi belakang. Saat itu Fang dan dirinya sedang sarapan sebelum berangkat sekolah.

"Eh? Aku tak tahu kalau Fang tidak menyukai Ayah dan Ibu," ujar BoBoiBoy pelan.

"Fang memang tidak menyukai Ayah dan Ibu. Kita yang dukung Ayah dan Ibu terus, 'kan?" celetuk Gempa.

"Tapi, sekarang Fang menyayangi Ayah dan Ibu."

Gempa tersenyum hangat. "Kau mengingatnya, eh?"

BoBoiBoy tersentak. Ia tidak mengingatnya sejujurnya. Ia hanya merasakan itu dalam hatinya.

"Fang! Berhenti bermain! Ayo makan dulu!"

BoBoiBoy menengokkan kepalanya ke cermin sisi kanan. Saat itu dirinya di tengah kerumuman penggemar Fang seraya menenteng plastik yang berisi donat lobak merah, makanan kesukaan kakaknya.

"Sini donatnya!"

BoBoiBoy tertawa kecil melihat kakaknya yang sangat jutek itu.

"Kamu darimana? Ini sudah jam empat petang!"

Suara Fang yang muncul dari memori yang diputarkan di cermin sisi kiri membuat BoBoiBoy mengalihkan pandangannya dari cermin sisi kanan. Kakinya perlahan berjalan untuk mendekati cermin sisi kiri.

Raut wajah Fang saat itu sangat marah. Ia marah karena dirinya yang pulang terlambat ke rumah.

"Maafkan BoBoiBoy ya, Kak. Tadi BoBoiBoy keasyikan main bola dengan Gopal di lapangan tadi,"

BoBoiBoy ingat. Saat itu ia sedang menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Pulau Rintis. Pada waktu jalan pulang, ia bertemu Gopal lalu mereka bermain bola bersama-sama sehingga lupa waktu.

"Kak Fang ..."

BoBoiBoy bergumam kecil. Memori itu memerlihatkan BoBoiBoy tengah memeluk Fang dengan sangat erat, seakan-akan tidak mau pergi jauh dari Fang. Hatinya saat itu sedang takut memikirkan kanker alzheimer. Kanker yang akan membuat ia meninggalkan semuanya.

Bahu BoBoiBoy bergetar. Sesegukan kecil mulai terdengar dari mulut bocah elemental itu. BoBoiBoy sangat merindukan bahu Fang. BoBoiBoy rindu dengan bentakan Fang. BoBoiBoy rindu dengan kekhawatiran Fang.

Tangan BoBoiBoy menahan isakan kecil yang keluar dari mulutnya.

"Aku pun rindu. Tapi, alzheimer itu ... bagaimana, BoBoiBoy?" terdengar nada putus asa dari Gempa.

Do I Remember You?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang