"Akan kulakukan apa saja untuk menjadikan-mu milikku"
"JUST MINE!"
"Berhenti bermimpi, bakugo"
.
.
---Tamat---
.
.
Bakugo sudah menetapkan hak miliknya pada todoroki sejak ia melihat bagaimana imutnya sosok yang selalu minim ekspresi itu. Dan apapun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . . . .
Todoroki memegang kepalanya yang terasa berdenyut sedari tadi. Ingatannya terbesit ketika pada pagi harinya, ia mengalami sakit kepala hebat. Tubuhnya terasa memanas dan sangat tidak nyaman untuk bergerak atau melakukan apapun. Ia memutuskan untuk duduk di tempat duduknya dan melipat kedua tangannya di atas meja sejenak sebelum pelajaran hari ini akan dimulai lagi.
***
Ibu putih alias ibu Todoroki dengan cepat meletakkan tangannya diatas dahi si buah hati. Ia kaget saat merasakan panas berbeda disana. Ibunya langsung panik. Dan ayah merah alias ayah todoroki yang dengan ooc, dia langsung memeluk todoroki dengan erat. Tapi tidak seperti biasanya. Tubuhnya terasa sangat dingin dan quirk sang ayah sama sekali tidak berpengaruh pada todoroki.
"Anakku!, Anakku!" Teriak ayahnya dengan dramatis. Dan sang ibu jadi semakin panik dan menekan tombol asal yang malah memanggil police. Mereka datang dengan dramatis dan malah membawa sang ayah atas tuduhan FBI untuk dilakukan penjara sementara. Sang ibu terpaksa harus ikut sang suami agar menyelesaikan masalah yang absurd ini.
Dan todoroki, ia memutuskan untuk pergi kesekolah saja. Ia tidak bisa meninggalkan sekolah untuk penyakit aneh ini. Dan todoroki tidak pernah bolos sekolah untuk alasan apapun. Terutama sakit , sangat jarang makanya kedua orang tuanya sampai khawatir berlebihan. Yaps, dia pernah bolos sih dua kali malah waktu bakugo yang dengan seenaknya menariknya untuk melakukan hal aneh.
***
Todoroki mendengar bunyi pintu kelas yang terbuka. Dengan sedikit pucat , todoroki memaksakan diri mengangkat kepala ketika melihat pak guru aizawa dengan balutan selimut kepompong masuk ke kelas. Ia harus belajar seperti biasanya. Dengan tubuh yang sedikit aneh, todoroki berhasil agar dirinya tidak terlihat sakit untuk sejenak sebelum jam istirahat berbunyi.
. . . . .
Todoroki merasa kalau keadaan dirinya semakin memburuk. Tubuhnya terasa lebih lemah dari biasanya. Ia melihat dengan susah payah tubuhnya yang tampak kian memucat. Dan berusaha menghidupkan quirk dari kedua tangannya. Tidak bisa, seolah quirk nya lenyap begitu saja. Todoroki tidak mau ambil pusing, ia terlalu lelah untuk memikirkan hal itu.
Lida menunduk memperhatikan todoroki yang sedari tadi tampak lebih pendiam dari biasanya. Ia tentu saja harus memperhatikan teman-teman sekelasnya selaku sebagai ketua kelas yang baik. Lida menatap todoroki yang tampak kewalahan dan nafas yang tersengal-sengal. Todoroki hanya menunduk. Tidak mau terlalu banyak bergerak yang akan membuat tubuhnya terasa sangat tidak nyaman.
"Kau tidak apa apa todoroki?" Tanya Lida khawatir. Tidak biasanya pangeran sekolah yang selalu tampak sehat dan cool itu kini malah terlihat pucat.
"..ga..gak apa apa" seru todoroki mengeleng. Ia tidak mau kalau ada orang yang sampai tau dan kerepotan karena dirinya. Ia harus tenang, seperti biasanya dengan begitu tidak akan ada yang tau tentang dirinya.