15. Nikah Muda

5 0 0
                                        

Holaaa.

Sebelum bahas tema di atas,

aku mau bilang dulu,

ini adalah riset terakhir yang kubuat untuk project nonfiksi RAWS dan

Masyaallah.

Alhamdulillah ... banget. Nggak nyangka bisa sampai di titik ini.

Oke, berlebihan. Tapi seriusnya, aku benar-benar bersyukur bisa menyelesaikan riset ini, Insyaallah.

Nah, sekarang mari kita bahas nikah muda. Sebelumnya yang perlu digaris bawahi di sini, nikah muda yang dimaksud adalah pernikahan pada umur di atas tujuh belas tahun. Dalam arti mereka yang sudah selesai dengan kewajiban belajar dua belas tahunnya.

Dan sebagai tambahan informasi, pada tahun 2019 lalu, Pemerintah telah resmi mengubah batas usia minimal menikah, dari 16 tahun menjadi 19 tahun.

Sebenarnya nikah mudah bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Jika mundur jauh ke ribuan abad terdahulu, nikah muda sudah lebih dulu dilakukan.

Namun, kalau ditanya, sejak kapan nikah muda jadi lebih sering digaungkan? Mungkin baru beberapa tahun ke belakang.

Dan ramainya ajakan nikah muda saat sejalan dengan ajakan berhijrah. Lalu semakin jadi booming saat anak dari salah satu tokoh agama yang cukup terkenal di tanah air juga melangsungkan pernikahannya di usia muda.

Mungkin secara tidak langsung, inilah juga menambah semaraknya kampanye untuk menikah muda.

Ajakan nikah muda ini sendiri bukan tanpa alasan. Banyak akun di media sosial, khususnya instagram, yang sering mengkampanyekan gerakan ini dengan sebuah tujuan. Sebagaimana yang kita sudah sering dengar, tujuannya adalah untuk menjaga diri dari perbuatan zina. Daripada pacaran, mending nikah. Daripada berbuat dosa, lebih baik mengejar pahala.

Begitulah kurang lebih alasan dari maraknya ajakan untuk menikah muda. Ajakan ini cukup diterima dengan baik oleh masyarakat, khususnya kamu muda itu sendiri.
Ini bisa terlihat dari banyaknya pengikut dari akun-akun tersebut. Postingan-postingan yang bernada serupa, bahkan hingga merambah ke bacaan, seperti novel fiksi yang bisa kita temui di dunia oranges ini. Keren nggak tuh?

Namun, seperti hukum alam yang sudah kita ketahui, jika ada yang pro, pasti akan ada yang kontra. Eits, tenang dulu. Sebagaimana yang pro punya alasan, mereka yang kontra juga begitu.

Dan mari kita lihat alasannya.

Sisi psikologis adalah faktor utama yang menjadi alasan bagi pihak-pihak kontra ini. Mereka berpendapat bahwa umur yang masih muda belum siap untuk menghadapi konflik dalam berumah tangga, khususnya untuk di awal-awal pernikahan.

Mengutip dari situs Kompas.com, seorang pemuda bernama Muhajir Iskandar berbagi tentang pengalamannya kepada situs berita ini. Muhajir memutuskan menikah saat berusia 20 tahun. Saat itu dia masih duduk di semester empat pada sebuah universitas dan belum bekerja. Namun, alih-alih ditentang keluarga, ia justru mendapatkan dukungan dari keluarga sendiri dan keluarga pasangannya, yang saat itu juga berusia sama.

"Meski saat itu belum bekerja, saya yakin akan ada rezeki. Tapi menikah muda memang enggak mudah. Di awal pernikahan banyak sekali konflik yang sepertinya enggak ada ujungnya. Menyelesaikan masalah selalu butuh waktu lama. Tapi, seiring berjalannya waktu, kami lebih bisa saling mengerti dan mengalah," ujar Muhajir dalam Kompas.com.

Nah, dari satu contoh ini, kita (khususnya yang belum menikah) dapat melihat bahwa pernikahan memang bukan hanya berisikan kebahagaian semata. Akan banyak konflik yang mulai berdatangan setelahnya. Hal ini jika dihadapi dengan kondisi psikologis yang belum stabil memang akan sulit. Tidak menutup kemungkinan hal ini bisa berujung pada perceraian.

Mengutip dari merdeka.com, angka kasus perceraian pada tahun 2020, per Agustus kemarin sudah mencapai 306.688 kasus.

Namun, pertanyaannya, apakah umur memang menjadi tolak ukur stabilnya psikologi seseorang?

Menurut psikolog Dessy Ilsanty, M.Psi, tidak ada acuan baku tentang usia kapan seseorang dianggap paling siap secara psikologis untuk menikah. Dalam situs Kompas.com, beliau menambahkan bahwa,

"Kematangan psikologis memang berkembang seiring dengan bertambahnya usia, namun seperti apa dan seberapa cepat perkembangannya, itulah yang tidak bisa dipastikan karena tergantung banyak faktor."

Selain itu dijelaskan juga di sana, ternyata peluang munculnya konflik tidak ditentukan dari usia, tetapi bagaimana cara pasangan melihat konflik tersebut. Lalu hal yang tak kalah pentingnya adalah keseriusan pasangan untuk mencari titik penyelesaian dari masalah itu.

"Misalnya seseorang masih ingin mencapai jenjang pendidikan lebih tinggi lagi atau jenjang karier yang lebih baik. Nah, jika hal-hal tersebut tak bisa dikompromikan, tentu saja akan menimbulkan konflik dengan pasangannya," jelas Dessy dalam Kompas.com.

Selaras dengan ini, umur juga tidak bisa dijadikan patokan untuk pantas atau tidaknya menjadi orang tua (asal jangan terlalu kecil aja, ya). Karena jika komitmen dari masing-masing pihak (suami dan istri) untuk membangun rumah tangga memang kuat, mereka pasti akan belajar mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua.

Oleh karena itu, yang perlu ditekankan di sini sepertinya memang bukan tentang usia menikah mudanya, ya, melainkan kesiapan mental dari pasangan yang ingin menikah.

Nah, itu dia sedikit pembahasan tentang nikah muda. Semoga bermanfaat.

●●●●●

https://amp.kompas.com/lifestyle/read/2016/09/09/090500723/fenomena.menikah.muda.dan.tantangan.psikologis

https://cantik.tempo.co/read/1343450/nikah-muda-ramai-di-medsos-psikolog-ungkap-5-alasannya

https://news.okezone.com/read/2016/02/04/340/1305079/lima-daerah-di-indonesia-yang-punya-tradisi-nikah-muda

https://www.voaindonesia.com/a/sah-dpr-tetapkan-batas-usia-kawin-perempuan-19-tahun/5088682.html

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 21, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kumpulan RisetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang