Kenapa aku memilih judul tersebut?
Karena sampai hari ini, kesehatan mental masih sering mendapat tempat yang kesekian dalam pandangan masyarakat. Artinya, masyarakat masih kurang peduli (bahkan menganggap aneh) pada segala hal yang berhubungan dengan gangguan mental.
Padahal, nih, dalam laporannya WHO telah mencatat bahwa pada empat puluh detik sekali, rata-rata ada satu orang yang memilih mengakhiri hidupnya. Sementara kalau di totalkan pertahun, akan ada 800.000 kasus bunuh diri di seluruh dunia. Hal ini menjadikan bunuh diri sebagai penyebab kematian tertinggi kedua setelah kecelakaan.
Berbagai penelitian mengemukakan jika berbagai faktor yang menyebabkan bunuh diri berasal dari adanya masalah dalam kesehatan mental. Sementara dilansir dari suara.com, seorang psikater sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI, Dr. Fidiansyah, Sp. Kj, mengatakan bahwa depresi adalah penyakit mental paling tinggi yang menjadi penyebab bunuh diri.
Maka dari data ini, sudah seharusnya kita mulai meningkatkan awareness pada sesama. Karena orang-orang yang sedang bergelut dengan masalah mental sering kali menganggap dirinya tak lagi berguna. Melalui kepedulian yang tepat, kita bisa membantu mereka mengembalikan kepercayaan diri untuk melanjutkan hidup.
Lalu, mengapa harus dengan kepedulian yang tepat? Karena tadi, sama seperti penyakit fisik layaknya kanker, perlu para ahli--setidaknya memiliki ilmu--untuk benar-benar bisa memberikan bantuan.
Nah, untuk itu nggak ada salahnya kalau kita cari tahu dulu apa itu sebenarnya gangguan mental atau yang akan lebih spesifik kubahas kali ini adalah depresi.
Depresi adalah gangguan suasana hati yang didominasi oleh perasaan sedih mendalam, hingga memungkinkan penderitanya kehilangan motivasi untuk beraktivitas sebagaimana biasanya. Lebih banyak dialami oleh orang dewasa, terutama wanita. Hal ini dikarenakan wanita mempunyai tingkat perasa yang lebih tinggi dan sering mengalami perubahan horman dibanding laki-laki.
Banyak penyebab yang dapat memicu timbulnya depresi, seperti :
1. Tekanan batin (kematian orang terdekat, masalah ekonomi, masalah dalam hubungan, trauma masa lalu)
2. Memiliki riwayat penyakit fisik lain (stroke, diabetes, kanker, hiv/aids, dll)
3. Memiliki riwayat penyakit mental lain (bipolar, dll)
4. Mengkonsumsi obat-obatan (obat tidur, hipertensi), alkohol, maupun narkoba.
5. Faktor genetik.
Gejalanya sendiri akan timbul sesuai dengan ringan atau beratnya depresi yang dirasa. Dalam tahap ringan, penderita masih bisa beraktivitas dan bersosialisasi meski terganggu oleh depresi itu sendiri. Sementara pada tahap berat, seorang penderita depresi tidak lagi mampu melakukan apa pun.
Adapun gejala yang timbul bisa terlihat dari segi fisik maupun psikologis, yaitu :
1. Fisik : Merasa lelah dan pusing tanpa alasan yang jelas, nafsu makan menurun, mudah marah atau menangis
2. Psikologis : Cemas berlebih, emosi tak stabil, merasa putus asa, suasana hati yang buruk secara terus-menerus.
Jika ditelaah lebih dalam, depresi pun memiliki beberapa jenis, seperti :
1. Depresi mayor (berat), gejalanya berupa sedih, putus asa yang berlangsung selama dua minggu atau lebih. Depresi ini akan mengganggu aktivitas dab kualitas hidup. Pemicu timbulnya bisa dari pengalaman buruk, trauma psikologis, gangguan susunan kimiawi dan biologis otak.
2. Deprsei kronis (distimia), gejala yang timbul biasanya tidak seberat depresi mayor. Bisa hilang timbul atau secara terus-menerus selama dua bulan bahkan hingga tahunan. Umumnya tidak mengganggu pola aktivitas, tapi lebih cenderung berpengaruh ke kualitas hidup. Biasanya jadi tak percaya diri, pola pikir, sulit konsentrasi, mudah putus asa. Pemicunya bisa dari keturunan, gangguan kesehatan jiwa lain seperti bipolar atau kecemasan, penyakit fisik kronis, dan cedera kepala.
3. Gangguan bipolar, yaitu perubahan suasana hati yang drastis. Senabg di satu waktu, sedih di waktu lainnya sehingga penderita ini memiliki beberapa fase. Pada fase mania atau hipomania, penderita akan merasa sangat optimis, bersemangat, susah atau justru merasa tak perlu tidur, nafsu makan meningkat, banyak pikiran. Dari fase mania, penderita akan tiba pada fade normal, lalu bergerak lagi ke fase depresi. Perubahan fase ini dapat terjadi pada hitungan jam, hari, atau minggu.
4. Depresi psikotik, yaitu depresi yang disertai dengan halusinasi. Penderita ini seakan-akan melihat suatu objek yang sebenarnya tidak ada. Pemicunya bisa dari keturunan, riwayat trauma psikologis berat
5. Depresi postpartum, depresi ini terjadi pada ibu yang baru saja melahirkan. Gejalanya berupa merasa tertekan, sulit konsentrasi, nafsu makan berkurang, merasa tak oantas jadi ibu, asi tak lancar, memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Berbeda dari baby blues, depresi jenis ini dikatakan memiliki akibat yang tinggi. Bisa terjadi sampai enam bulan atau lebih, sehingga akan mengganggu ikatan batin antara ibu dan anak.
Pengotaban :
Pertama-tama, dokter akan melakukan evaluasi pada kondisi kejiwaan pasien. Setelah itu baru dokter akan mengambil langkah selanjutnya :
1. Psikoterapi : Membantu pasien mengatasi sudut pandang negatif atas pengalaman yang membuat pasien tertekan.
2. Obat anti depresan : Memperbaiki cara kerja otak dan mengendalikan suasana hati. Pengaruh obat baru akan dirasakan setelah 2-4 minggu pemakaian. Pasien akan terus mengkonsumsi obat tersebut selama kurun waktu 6 bulan hingga 1 tahun. Dosis obat sendiri akan dikurangi secara bertahap oleh dokter. Namun, untuk pemberhentian sendiri harus berdasarkan anjuran dokter.
3. Seperti yang kutulis di awal, gangguan mental juga sama seperti penyakit fisik. Ada tempat untuk mengobati dan profesional yang menanganinya. Selain itu, kita, sebagai teman atau keluarga juga bisa ikut ambil peran dalam proses penyembuhan. Namun balik lagi, sebelum membantu kita perlu tahu ilmunya.
Karena bersadasar dari beberapa sumber, disebutkan bahwa tanggapan atau sikap kita terhadap orang yang sedang mengalami gangguan mental justru memperburuk penyakit tersebut. Kata-kata yang mungkin bagi kita bertujuan untuk memberi semangat, malah membabat habis semangat itu. Seperti, "Kamu kuat, kok. Semua bakal baik-baik aja. Coba positif thingking."
Menurut para ahli, kata-kata ini termasuk dalam toxis positif. Kalimat-kalimat positif yang justru beracun. Karena ya, kata-kata ini memang akan bertolak belakang sekali dengan kondisi yang sedang mereka alami. Kata-kata ini justru akan membiat mereka berpikir kalau tidak ada satupun yang bisa mengerti.
Jadi, dari podcast So Mad About Life, Kak Ardhi, seorang penulis buku sekaligus lulusan psikologi bilang, untuk menghadapi orang-orang yang sedang mengalami masalah pada mentalnya harus dimulai dengan memperbaiki diksi. Pilihan kata yang benar-benar tepat. Kita juga harus mengerti kondisi, apakah orang tersebut hanya ingin didengar atau sekaligus meminta solusi. Kalau hanya ingin didengar, ya, cukup di dengar. Namun kalau sekaligus menanyakan solusinya, barulah di situ kita memberikan nasihat yang nggak toxis positif. Bahkan kalau perlu, kita bisa sekalian mengarahakan mereka untuk datang ke profesional.
●●●●●
https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/jenis-depresi-penyebab/
https://www.alodokter.com/depresi
https://amp.kompas.com/internasional/read/2019/09/11/21260231/who-setiap-40-detik-ada-satu-orang-di-dunia-tewas-bunuh-diri
https://www.suara.com/health/2019/10/15/121000/depresi-jadi-penyebab-bunuh-diri-terbanyak-dr-fidiansyah-budayakan-curhat
So Mad About Life (Podcast)
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Riset
De TodoKarena fiksi juga butuh data. Bukan cuma sekadar menghayal
