6

96.5K 2.1K 97
                                        

Aku meletakkan piring berisi pancake yang telah ditaburi gula halus dan butter di hadapan Jagad.

Tapi bocah lelaki itu hanya menatap pancake tersebut lalu beganti menatapku dengan mata bulatnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tapi bocah lelaki itu hanya menatap pancake tersebut lalu beganti menatapku dengan mata bulatnya.

"Kenapa?"

"Jagad mau pake ice cream tante" ujar Jagad sambil memanyunkan bibirnya.

"Jagad mau pake ice cream tante" ujar Jagad sambil memanyunkan bibirnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Ini masih pagi sayang. Gak boleh makam ice cream. Ice cream nya juga gak ada"

"Mmmm... gak mau makan" Jagad menggeliat di tempat duduknya merajuk. Membuat kepalaku sakit melihatnya.

"Ada apa ini? Cucu eyang kok jelek gitu wajahnya?" Terdengar suara tante Ranti yang berjalan dari arah dapur, sambil membawa teko keramik berisi teh. Aku menghembuskan nafas legah. Setidaknya aku tidak menghadapi Jagad seorang diri.

"Mau ice cream eyang..." Jagad mengeluarkan jurus merayunya.

Tante Ranti mengelus pipi Jagad dengan sayang "masih pagi sayang... gak boleh makan ice cream pagi - pagi."

"Kenapa gak boleh?"

"Dingin. Gak bagus buat lambung dan tenggorokan. Manis juga. Apa kata miss di sekolah? Gak boleh banyak makan yang manis - manis nanti giginya rusak, terus di cabut deh. Kalau di cabut ompong. Ihhh... jelek banget pasti cucu eyang" Aku tersenyum mendengar penjelasan tante Ranti dengan mimik wajah yang sangat meyakinkan.

Aku tidak tau, apa Jagad mengerti ucapan tante Ranti atau tidak, namun setelah itu Jagad meneruti perkataan tante Ranti. Dia memakan pancakenya, walaupun masih dengan tampang cemberut.

"Pagi...." terdengar suara berat seorang laki - laki menyapa.

Aku membelalakkan mata melihat mas Janu yang tersenyum tipis sambil menyapa, aku melirik tante Ranti sekilas yang sama terkejutnya denganku. Mas Janu tidak pernah seramah ini. Bahkan selama aku dua minggu lebih berada dirumah ini dia sama sekali tidak pernah ikut sarapan bersama. Mas Janu biasanya serapan seorang diri setelah kami semua selesai sarapan, lalu setelah itu dia akan pergi ke kantor dan pulang diatas pukul 8 malam.

Ketika Aku Jatuh CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang