Ten
Kina, Drake, Cantika, dan Azalia berjalan pelan agar bisa menyelinap dari ksatria Wardonata yang menjaga rumah walikota. Mereka berempat berjalan menyamping, saling menjaga satu sama lain.
Drake berjalan paling depan, melangkahkan kaki nya secara perlahan. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap tak ada ksatria Wardonata yang memergoki nya berada di wilayah merah.
Setelah beberapa detik, ia menoleh ke belakang. Lalu mengangguk.
Azalia mengangguk pelan. Ia menarik tangan Cantika dengan pelan, lalu berjalan duluan.
Memang begitu rencana nya.
Azalia dan Cantika akan duluan. Sementara Kina dan Drake akan berjaga-jaga dari belakang.
Kina mengekor di belakang Azalia, lalu berhenti di samping Drake. Kemudian Kina menatap punggung Azalia dan Cantika yang mulai menjauh. Suasana menjadi sunyi sejenak.
Hei.
Kina melirik Drake yang juga menatap punggung Azalia dan Cantika dari jauh. Lalu ia berdeham. Menandakan kalau ia mendengar nya.
Maaf.
Nafas Kina tercekat. Ia melirik Drake secara sembunyi-sembunyi. Tetapi yang didapatkannya adalah tatapan sayu dari Drake.
Mata mereka bertemu.
Aku-
Kina menunggu nya. Ia mengedip berapa kali. Pandangan mereka masih terikat dan menyatu.
Sudah menuduh mu. Dan aku salah.
Kina menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan.
Sebetulnya.. Aku bingung. Otak ku tersesat dan membeku. Jadi aku tidak bisa berpikir dengan tenang. Karena aku sudah mempercayai mu selama ini. Dan aku yakin, pasti ada alasan dibalik semua ini.
Drake mulai membentuk senyuman kecil di bibir nya.
Jangan pernah mengagetkan aku seperti itu lagi ya.
Sebuah tepukan halus mendarat di atas kepala Kina. Bergeser perlahan ke kanan dan kiri. Drake tersenyum manis, memejamkan mata nya seraya mengusap-usap kepala Kina.
Kina terdiam. Biasa nya, ia akan segera mematahkan tangan Drake kalau ia melakukan hal ini lagi. Tetapi, entah mengapa, ia malah mematung. Berharap agar tangan Drake tidak lepas dari kepalanya.
Drtt Drtt!
“Astaga! Ayo! Azalia dan Cantika sudah menunggu!”
Drake beranjak, kemudian berlari kecil ke arah utara, meninggalkan Kina yang masih mematung di rerumputan bawah pohon. Aura hangat yang berada di kepala nya menghilang begitu saja. Mata nya seperti membeku melihat punggung Drake yang mulai menjauh.
Beberapa detik kemudian, Kina tersadar dari lamunannya, lalu beranjak dan mengikuti Drake. Pikirannya entah melayang kemana. Berkali-kali ia menampar diri pipi nya pelan. Ia sedang tak fokus. Tak bisa berkonsentrasi sama sekali karena perlakuan Drake tadi.
“Hoi,”
Kina mengedipkan mata nya. Ia melirik kesana-kemari, bertanya-tanya siapa yang memanggilnya. Ia tak sadar telah berlari pelan jauh sekali sampai sudah di pohon kecil.
“Aku.”
Drake melambaikan tangannya. Ia menaikan kedua alis nya bingung. “Ada apa?”
Kina menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa. Dimana Azalia dan Cantika?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Lachen {ON HOLD}
FantasyApa yang harus kulakukan ketika melihat ia tersenyum terakhir kali nya di depan ku? Apa yang harus kulakukan ketika sadar kalau aku termasuk klan tak kenal empati itu? Apa yang harus kulakukan ketika melihat sahabat ku melemparkan tatapan tersentak...