Romance politic.
Setelah terlibat aksi pemberontakan. Hanaya Asmaranala resmi dikurung di sel isolasi. Namanya sebagai putri aktivis kontroversial membuat gadis itu terpaksa tunduk dibawah kekuasaan Kapten Sagara Mahardikara. Putra bungsu presiden...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kepulan asap yang berasal dari rokok panas milik sang kapten yang bertumpang kaki. Lantai dingin siap memangsa, suara sirine jam malam menjadi latar paling tragis. Pria tinggi dengan jubah militernya menatap pada setiap detik, dinding mulai berteriak. Meminta tumbal nyawa. Ruangan beraroma daging asap itu terus meraung. Sedangkan Kapten militer bernetra elang itu terus menghela nafas sabar. Menunggu para bawahan membawa daging persembahan.
Mereka mungkin menyembah tuhan. Tapi pada teritori tertentu, yang mereka sembah adalah senapan kematian. Pemerintah adalah simbol perjuangan. Cuci otak negara menciptakan keberanian, Sagara Mahardikara memperlihatkan bagaimana malaikat maut bekerja.
Lima orang penghianat masuk dengan belenggu di kedua tangan. Mata mereka liar, tapi tubuh mereka sudah menyerah. Sagara menatap mereka, dingin dan merendahkan. Layaknya babi di lumpur, mereka tidak bisa mengubah nasib.
"Selamat datang, para tikus," suara Sagara menghantam ruang. Asap rokoknya menari di mata tawanan, seperti api yang menunggu untuk menyala.
Ardhana, komandan lapangan, meletakkan lembaran ajakan aksi di lantai. Tulisan itu menyerukan penolakan sistem negeri ini, dicoret tangan yang gemetar. Mereka masih bisa menggaungkan kebebasan-seperti tikus yang pura-pura mati di kandang kucing.
Sagara tersenyum tipis, menatap satu per satu kertas itu, kemudian menampar salah satu tahanan.
"Brengsek! Berani kau menamparku?!" suara pria itu meledak, penuh kebencian, tetapi Sagara tetap tenang. Telapak tangan yang mengepal menghantam kepala pria itu dengan dingin.
"Pembunuh Jagat Dierja! Dasar anjing pemakan tinja!" teriaknya, tapi Sagara tetap menatapnya dengan mata sekeras baja.
Dua anggota Sagara menahan tahanan itu dengan sekuat tenaga, sementara gigi ketua gemetaran marah.
"Kami tidak terima! Ketua kami dibunuh begitu hina! Tidak cukup kalian rampas sawah kami? Tidak cukup kalian miskinkan kami?" Dito, suara serak, menatap Sagara dengan tatapan campur kebencian dan putus asa. Amba di sisinya berteriak, napas terengah-engah. "Kami sudah terlalu lama diam!"
Bukan hanya peraturan Euthanasia yang mereka permasalahkan tapi juga pajak dan tunjangan militer yang semakin merendahkan pendapatan warga sipil. Amba bahkan kehilangan sawahnya karena pemerintah mengklaim semuanya hanya karena Amba tak punya surat peninggalan.
"Sekarang hak hidup kami juga dicuri! Dasar anjing serakah! KELUARKAN SEMUA SURAT EUTHANASIA KALIAN!" Amba menjerit, tubuhnya bergetar. "Siapa yang berhak menandatangani maut untuk kami?! Anak-anak kami-istri kami-apakah ini hukum?!"