Romance politic.
Setelah terlibat aksi pemberontakan. Hanaya Asmaranala resmi dikurung di sel isolasi. Namanya sebagai putri aktivis kontroversial membuat gadis itu terpaksa tunduk dibawah kekuasaan Kapten Sagara Mahardikara. Putra bungsu presiden...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Naya Sayang Mas..."
Sisiran rambut Hanaya menjadi pembuka saat Sagara memilih pulang larut malam. Berharap istrinya sudah tertidur lebih dulu. Wanita dengan surai panjang itu menolehkan kepala saat suara derit pintu memecah fokusnya. Sambil tersenyum ia menyambut Sagara dengan sapaan selamat malam.
Sedangkan pria berseragam perwira itu langsung menghampiri kemudian mencium keningnya. Pantulan keduanya terlihat di cermin.
"Besok jadi kan?" Tanya Hanaya disela usapan suaminya pada surainya. Pria itu mengangguk.
"Ke pantai?" Wanita itu mengangguk dengan rasa senang. Sesuai dengan janji sang suami. Hanaya menatap wajahnya, menyentuh tangan pria itu di atas kepalanya kemudian menatapnya cukup lama.
"Kenapa?" Hanaya menggeleng.
"Bilang saja Hanaya, saya tahu kamu ingin menanyakan sesuatu" balas Sagara dapat membaca ekspresi wajah Hanaya. Wanita itu menjatuhkan sentuhan nya.
"Besok, dipantai kita harus saling bercerita. Okey?" Suaranya sarat akan permohonan. Sagara mengerutkan kening ragu namun uluran kelingking gadis itu membuat Sagara lemah. Dan pada akhirnya sepakat. Sambil memegang sisi kanan pipi chubby Hanaya, pria itu tersenyum kecil. Mengusap pipi yang memerah itu dengan lembut. Seolah tahu akan apa yang terjadi tadi siang.
"Masih sakit?" Hanaya menggeleng. Namun jemarinya membawa genggaman tangan Sagara pada letak jantungnya yang terbalut baju tidur.
"Lebih sakit disini" katanya mengarah pada hati yang kerap sesak karena rasa bersalah. Sagara tahu, dan amat sangat mengerti. Namun ia tak punya solusi, selain menahan Hanaya tetap disisinya.
"Mulai besok, saya akan perintahkan para ajudan untuk menutup akses tamu yang akan menemui kamu" Hanaya terdiam.
"Nggak usah berlebihan, Mas"jawab Hanaya berusaha menenangkan.
"Wajar jika Irena marah" Ia menjeda. "Kehilangan orang yang dia cintai jelas merupakan pukulan telak. Sedihnya tidak bisa didefinisikan, rasanya ingin marah pada semua orang" ia meremas telapak tangan suaminya. Sagara mengusap rambut Hanaya.
"Naya paham betul apa yang Irena rasakan. Jadi Naya mohon sekali,....jangan lakukan sesuatu pada Irena" katanya memohon.
"Irena adalah satu-satunya orang yang peduli saat Naya di Sel" lanjutnya.
"Irena orang baik. Jangan renggut nyawanya ya?"
Pinta wanita itu seolah Sagara adalah malaikat maut. Hanya bersikap seakan Sagara siap menghantam banyak nyawa demi kejujuran dan ketidakterimaan.
"Karena ini permintaan kamu. Maka saya tidak akan melakukan apapun" ujar pria itu.
"Tapi ingat? Kalau dia berani menyentuh kamu lagi. Saya tidak segan untuk menariknya ke sel bawah tanah"