Sasuke membuka matanya, lalu menatap gorden jendela kamarnya yang masih tertutup. Tiba-tiba ia teringat tentang Hinata yang selalu membuka gorden itu agar sinar matahari pagi masuk ke kamarnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk menghapus pikiran itu dan bergegas mempersiapkan diri untuk ke kantor.
Setelah selesai mandi, Sasuke menatap tempat tidurnya. Biasanya setelah mandi, setelan jas Sasuke sudah disiapkan oleh Hinata dan diletakkan diatas tempat tidurnya. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan menuju lemarinya dan memilih pakaiannya sendiri.
Ia kembali teringat Hinata saat dirinya menoleh ke arah dapur. Tidak ada lagi kopi dan sarapan pagi yang ia santap di apartemennya. Ia harus memberitahu Sai untuk membelikannya kopi lagi setiap pagi seperti sebelum Hinata menjadi bagian dari kesehariannya.
Langkah kakinya terhenti saat ia berada di depan pintu. Ia lagi-lagi teringat Hinata. Ia langsung mengusap wajahnya saat menyadari bahwa betapa seringnya ia memikirkan Hinata di pagi ini.
Sasuke menarik napasnya, lalu menghembuskannya perlahan untuk mengembalikan fokusnya.
.
.
.
Beberapa hari kemudian...
Sasuke terduduk di tepi ranjang. Matanya menatap gorden jendelanya, lalu kakinya melangkah menuju jendelanya dan membuka gorden itu. Matahari pagi langsung menerobos masuk dan mengisi kamar Sasuke dengan cahayanya.
Telinga Sasuke samar-samar mendengar suara orang yang sedang sibuk di luar kamarnya. Kemudian, hidungnya juga samar-samar mencium aroma masakan. Ia terdiam sejenak, lalu berjalan keluar kamarnya dengan langkah terburu-buru.
Saat ia keluar dari kamarnya, bayangan seseorang yang sedang memasak menggunakan celemek merah itu memenuhi penglihatannya. Jantungnya berdegup semakin cepat seiring dengan langkahnya menuju dapur.
"Bagaimana tidurmu, Sasuke-kun?"
Sasuke terdiam, lalu menghela napas dan tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Mikoto menatap heran. "Kau tidak pernah terganggu dengan kehadiran ibu di apartemenmu, tapi kenapa kau terlihat kecewa?"
Sasuke menggeleng. "Tidak. Aku hanya heran kenapa ibu sudah lama tidak kesini."
"Untuk apa ibu kesini kalau sudah ada Hinata yang sering mengunjungimu?"
Sasuke kembali terdiam.
"Ngomong-ngomong, darimana kau dapat celemek ini?"
Sasuke menghela napas. "Ibu sudah pasti bisa menebaknya."
Mikoto kembali terheran melihat ekspresi anaknya. "Apakah hubungan kalian baik-baik saja? Apakah Hinata masih sering mengunjungimu?"
Sasuke lagi-lagi hanya bisa terdiam.
"Pasti kalian sedang bertengkar, kan?" Mikoto mendecak pelan. "Dengarkan ibu baik-baik, apapun masalah kalian, kalian harus hadapi masalah itu. Jangan lari dari masalah itu. Kau juga jangan terlalu cuek. Ibu memaklumi jika Hinata menyerah denganmu kalau kau masih tidak membuka hatimu. Jangan malu mengaku cinta jika kau mencintainya dan jangan sampai kau menyesal."
Sasuke kembali ke kamarnya. Ia terdiam sejenak, lalu meraih hp nya. Matanya menatap kontak di hp nya yang bernama 'calon istriku'. Cukup lama ia memandangi tulisan itu sambil berpikir panjang.
Setelah mendapat kesimpulan dari proses berpikir panjang, akhirnya ia menelpon kontak itu.
"Halo..." sambut orang dari sebrang sana.
Sasuke menarik napasnya. "Aku punya penawaran untukmu."
"Apa itu, Sasuke-kun?"
"Sesuatu penawaran yang menarik. Kau harus menemuiku jika kau ingin tahu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Agreement
Teen FictionDemi mempertahankan eksistensinya di klannya sendiri, Hyuuga Hinata dengan berat hati harus 'menjual diri' pada Uchiha Sasuke. Tapi, sayangnya transaksi tersebut bukanlah hal yang mudah.
