12. Persona

824 209 47
                                        

"Jadi nanti anak dekor harus—"

Cklek

Pintu ruangan terbuka, membuat seluruh mata mengalihkan pandangan pada sumber suara yang berhasil memecah keheningan.

Seorang gadis dengan surai sebahunya itu memasukin ruangan dan berhasil menarik atensi karena kegiatan kecilnya. Beberapa ada yang menatapnya tak percaya, beberapa lainnya hanya menatap sekilas lalu kembali fokus pada orang yang sebenarnya menjadi pusat perhatian mereka.

Iva berjalan dengan pelan dan duduk disamping Jeno yang bahkan tak memandangnya sama sekali.

"Mendingan?" Bisik lelaki itu membuat Iva sedikit terperinjat.

"Lumayan," jawab sang gadis dan mencoba fokus dengan lelaki yang beberapa hari ini menggantikan posisinya.

Seungmin yang mencoba fokus setelah kedatangan Iva, akhirnya berdeham. "Blue print udah gue kasih ke Iva dan ada beberapa revisi. Nanti gue sebar di grup dan coba kalian pelajari." Kata lelaki itu mencoba tegas.

"Satu bulan lagi ya?" Bisik Iva diangguki Jeno. "Bulan depannya lagi juga lo sidang kan?" Tanya Iva membuat Jeno menoleh.

"Santai sih," kata Jeno mengampangkan ujian akhirnya itu. Iva hanya mendengus, seraya menarik napas, gadis itu kembali melihat layar yang menampilkan presentasi kegiatan himpunan mereka.

"Sakha, kapan kesini?" tanya gadis itu tiba-tiba membuat Jeno terkejut dan memandangnya sekilas. Lelaki itu memiringkan kepalanya sesaat seakan berpikir sebelum akhirnya hanya menggelengkan kepalanya kecil. "yakin dia bakal kesini?" tanya Iva lagi, kali ini membuat Jeno mendecih.

"kalo itu, gue juga nggak yakin." jawabnya, Iva menekuk kedua alisnya merasa heran dengan lelaki itu.

"kenapa lo nunggu banget sih?" tanya sang gadis membuat Jeno menatapnya sekilas. 

"nggak tau, hati gue yang bilang tunggu."

mendengar jawaban Jeno, Iva mendecih meremehkan. "padahal dia punya temen lo itu kan?"

"tapi kan mereka udah putus."

"iya sih, tapi apa lo nggak mikir kalo temen lo juga nunggu?"

Jeno terdiam, lelaki itu hanya menundukkan kepalanya sekilas, lantas memainkan kedua tangan kekarnya. "nggak tau juga ya." gumam cowok itu. "mungkin sekarang lo mempertanyakan gue, tapi kalo lo ada di posisi gue pun lo akan berakhir seperti gue."

Iva cukup terdiam sebelum akhirnya menyetujui ucapan Jeno. "iya sih, gue belum merasakan cinta banget kek lo keknya." sahutnya, "dan sebenernya gue mikir dukung-dukung aja dengan rencana lo rebut Sakha ini." Iva sedikit menjeda ucapannya, "tapi, apa nggak bikin terkesan lo memaksa masuk dicerita mereka berdua?"

"maksud lo?"

Iva memiringkan kepalanya, "maksud gue," ia menjeda dengan mata yang menatap Seungmin yang sedang memimpin rapat. "hidup ini kaya cerita kan? dan bagi gue Sakha Renjun udah ada plot masing-masing. mereka udah dalam satu buku, satu cerita dan kertas, jadi gue rasa lo kaya memaksakan untuk masuk diantara mereka."

Mendengar penjelasan panjang lebar gadis tersebut, Jeno hanya bisa mendecih seraya terkekeh. "Emang sekarang masih dalah rangkaian satu cerita?" tanya lelaki itu. Iva terdiam masih menyimak ucapan Jeno. "bagi gue, ini udah buku baru."

Seungmin menutup rapat hari ini, membubarkan para anggota terkecuali Iva dan Jeno yang masih berbincang diantara mereka. Iva tiba-tiba merasa gugup, dengan cepat ia membasahi kembali bibirnya dan menarik lengan bajunya agar tak ada yang dapat melihat bekas luka di kulit putihnya. 

So Far Away Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang