"Right here, Sir."
Pelayan toko itu mengarahkan satu benda pada kedua pemuda. Satu berjalan di depan, seorang lagi mengekori di belakang.
Haechan, yang menjadi buntut perjalanan, sepanjang waktu hanya diam ternganga manakala Jaemin sudah menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan secara langsung.
"Gue nggak nyangka!" pekiknya untuk kesekian kali. "Gue kira lo kerja sama sama Bang Jaehyun tapi rupanya lo solo???" katanya lagi, membuat beberapa pelayan toko melihat kearahnya.
Jaemin tersenyum. Saat ini, beberapa jam sebelum kejadian, ia mengajak kawannya itu untuk membeli sesuatu.
"Emang, dari jaman sekolah lo emang sus tapi gue nggak nyangka." ujar Haechan masih melanjutkan.
Jaemin berdeham, "ya, liat aja nanti." katanya, membuat Haechan sedikit terdiam.
Seorang pelayan itu menunjukkan sesuatu dengan kotak kecil biru beludrunya. Haechan yang melihat benda didalam kotak itu sedikit memberi suara. "Too much. Gue prefer yang minimalis kaya orangnya."
Mendengar saran sang teman, Jaemin hanya tersenyum dan mengiyakan ucapan itu.
-o-
Itulah kejadian beberapa jam lalu. Kini, Haechan lagi-lagi menganga dengan apa yang ia lihat. Semua prediksi dan praduga Jaemin menjadi benar, dan artinya Jaemin hanya tinggal berjalan menyelesaikan semua ini.
Jaemin mendekati pintu ruang tunggu, membuka papan kayu tersebut membuat dua orang di dalamnya menatap kearah mereka.
"Jem?" panggil Renjun yang terkejut melihat kedua temannya berada disini. "Ngapain kalian kesini?"
"Nyusul lah." jawab Jaemin santai.
Lelaki itu kini duduk disebuah kursi, "tadi gue liat Jeno juga tapi dia pergi lagi." katanya, justru membuat Sakha membelalakkan matanya. Haechan yang melihat sikap tenang temannya itu justru membuatnya merasa takut, dengan kaku ia menyapa Sakha seakan mereka baru pertama kali bertemu.
"Gimana, Ren? Rasanya ketemu Sakha lagi?" tanya Jaemin.
Renjun yang masih mencerna setiap keadaan hanya menatap bingung Sakha, Haechan lalu Jaemin sebelum menjawab. "Tunggu, lo udah tau?" tanyanya, dan Jaemin hanya mengangguk halus sukses membuat Renjun mengangkat kedua alisnya.
"Dari kapan?"
Jaemin menghela napas, "jangan marah ke gue, tapi Jeno yang minta nutupin dari lo." katanya. Haechan yang merasa tak enak dengan ekspresi Renjun, membuat ia sedikit mendekat kearah Jaemin.
"Lo tau sendiri, gue cuma bantu cari kabar Teh Sakha selama ini, tapi Jeno tiba-tiba bilang bahwa Teh Sakha kesini dan dia minta buat sembunyiin dari lo." jelas Jaemin begitu tenang. Belum lanjut ia menjelaskan, salah satu panitia membuka pintu, mengintrupsi mereka.
"Kak, kita mulai gladinya?"
Sadar ia masuk diwaktu yang salah, Ia sedikit terkikuk, namun Sakha menganggap ini waktu yang tepat. Iapun dengan cepat menyusul sang panitia dan meninggalkan tiga pemuda itu.
Melihat sang perempuan pergi, Jaemin menitah pada sang teman, "lo ikut aja, Chan." katanya, pada Haechan dan haechanpun menurutinya.
Kini hanya tersisa mereka berdua. Renjun dengan wajah merah padamnya menunjukkan raut amarah yang sudah Jaemin tau. Jujur saja, Jaemin sudah menduga hal ini sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
So Far Away
Fanfiction"Jika kita tidak tertulis dalam satu cerita. Mungkin dikertas lain kita tertulis dalam satu kisah." "Atau mungkin, sebenernya lo harus tulis sendiri cerita lo diatas kertas?" Sequel dari NOONA! Universe. -AU -Hurt -Nonbaku -Semi lokal -Bahasa Cover...
