9. Urusan Hati Yang Belum Selesai

1.1K 267 71
                                        

"Lah, Juli kan emang wisudaannya Jeno?"

Renjun sedikit heran dengan ajakkan Haechan sejak kemarin. Baginya, temannya itu sedikit terkesan memaksa.

"Iya, justru karena wisudaan Jeno, makanya kita kesana juga beberapa minggu sebelum wisudanya, itung-itung liburan."

Sejenak ia terdiam. Tidak ada yang salah dari ucapan lelaki berkulit kemerahan yang terkesan menandakan tubuhnya segar itu. Disisi lain Jaemin hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.

Renjun lagi-lagi mengangkat sebelah alisnya, "apa nggak ganggu Jeno? Kenapa kita nggak dateng aja pas hari H wisuda?"

"Spesial, Ren. Spesial," tekan Haechan yang mulai jengah dengan ucapan temannya itu.

Renjun terkekeh, "iya-iya. Gue ngikut." Finalnya membuat Haechan merangkul hangat sahabatnya itu.

"Nah gitu, fix ya beres kita pada UAS. Kita langsung caw SINGAPORE~" Haechan begitu antusias sehingga sedikit meneriakkan nama negara itu, membuat dua teman lainnya hanya tertawa dan mencoba membungkam mulut lelaki itu.

Tak lama, keasyikan canda tawa mereka terjeda dengan suara ponsel milik Renjun. Lelaki itu mengangkat layarnya melihat nama yang tertera sebelum akhirnya menatap kedua sahabatnya.

"Gue duluan ya, supir gue udah dateng." Ucapnya menggoyangkan layar ponselnya bermaksud menunjukkan.

Jaemin mengangguk, ia dengan pelan mengambil botol minuman beralkohol itu dan menyimpan dibelakang punggungnya. "Tiati," katanya dengan senyum menutupi.

Haechan ikut melambaikan tangannya, "lo terapi?" Tanyanya dijawab gelengan kepala Renjun.

"Besok siang."

"Okay," Haechan menaikkan telapak tangannya sehingga membuat kedua lelaki itu saling beradu tepuk.

Kaki jenjang milik lelaki bernama Huang Renjun ini mulai melangkah menjauhi mereka, masih terus sesekali menengok kebelakang. Renjun tak lupa untuk melambaikan tangan.

"Hah...."

Helaan napas lega terdengar dari Jaemin. Lelaki itu dengan cepat berdiri seraya menenteng botol minuman keras yang ia sembunyikan dari Renjun itu.

Melihat temannya membuang minuman itu pada tempat sampah dihadapannya, Haechan melipat kedua tangannya di dada dan mulai berdecak.

Jaemin kembali menuju kursinya, namun ketika ia kembali duduk ia merasa sangat penasaran pada Haechan yang memaksa Renjun tadi.

"Lo ada rencana apa?"

Lelaki itu bertanya begitu saja dan begitu menjurus.

Haechan yang menyeruput gelasnya, meneguk liquid yang tersisa di kerongkongan.

"Rencana apa, apanya?" Tanyanya berbalik.

Jaemin menatap temannya itu yang kini sudah melipat kedua tangannya di dadanya lagi. "Soal lo ngajak kita dua minggu sebelum wisudaan Jeno."

Haechan terkekeh sinis, "lo bilang acara seminar kampus Jeno itu sebelum wisuda kan?" Tanya lelaki berwajah manis itu.

Jaemin mengangguk dan Haechan melanjutkan, "kalo kita bawa Renjun pas hari seminar itu, artinya kita bisa ketemuin dia sama Teh Sakha. Apa gue salah?"

Temannya itu termenung, tanpa sadar hanya bisa menatap Haechan dengan pupilnya yang melebar.

Ia tak menduga temannya itu mempunyai rencana yang sedemikian rupa.

"Makanya, Jaem. Gue ngajak juga." Kata Haechan dibalas anggukan Jaemin.

Haechan menatap Jaemin dengan mantap, belasan tahun berteman dengan lelaki itu sama halnya dengan Jeno, namun kini ia merasa jauh dari sosok yang selalu menjadi figure dewasa diantara mereka.

So Far Away Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang