38. Berjalan Saat Tidur

8.8K 411 5
                                        

Paviliun timur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Paviliun timur. Tempat sepasang manusia itu berlindung dari teriknya panas dan gemuruh hujan. Malam terasa begitu tenang saat sang empu dengan surai panjang itu memberengut diatas ranjang, sambil memeluk bantal gulingnya erat. Tidak ada pembahasan, malam pertama setelah pernikahan diisi dengan keheningan. Sagara tak banyak bicara begitu pun Hanaya, seharian ini menghabiskan waktu hanya dengan Nana. Tidak menyentuh apapun sampai Sagara menyiapkannya.

Sagara terbaring dengan guling yang membatasi tubuh keduanya. Pria itu sebenarnya enggan, namun melihat Hanaya memohon hanya demi jarak. Sagara jelas tak bisa menolak. Pria itu akhirnya memejamkan mata dengan lampu yang menyala. Pria itu ingat, Hanaya takut kegelapan.

Walaupun ia harus kesilauan. Namun setiap hari tidur bersama Hanaya membuat Sagara mulai terbiasa. Suara nafas keduanya terdengar memenuhi ruangan yang sepi. Hingga menuju tengah malam. Sagara terbangunkan oleh angin yang menyapu kearahnya. Netra elangnya terbuka perlahan, sambil menggosok kasar bayangan mata yang mulai membentuk titik fokus.

Bayangan tubuh Hanaya berdiri pada jendela balkon mereka. Hendak menjatuhkan diri. Sagara jelas bangkit dan berlari, menahan tubuh istrinya yang kemudian jatuh dalam pelukannya.

 Sagara jelas bangkit dan berlari, menahan tubuh istrinya yang kemudian jatuh dalam pelukannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Hanaya...."

"Hanaya..." Pria itu menepuk pipi wanita yang rupanya terlelap. Matanya tertutup namun kakinya mengarah pada jendela yang tak terkunci. Jantung Sagara berdetak dua kali lebih cepat. Menggendong tubuh lemah sang istri pada ranjang mereka. Kali ini pria itu memastikan jendela sudah terkunci beberapa kali sebelum akhirnya memusatkan kekhawatiran pada Hanaya.

Jendela yang terbuka lebar. Dan Hanaya hampir menjatuhkan tubuhnya ke bawah sana. Sagara jelas tak bisa menyembunyikan kepanikan bahkan tubuhnya ikut bergetar merasakan adrenalin yang berpacu kala melihat Hanaya hampir saja tak terengkuh.

"Sleepwalking?"

"Sejak kapan?" Gumam pria itu mendudukkan dirinya di ujung ranjang sambil menggenggam tangan Hanaya yang terasa begitu dingin. Telat satu menit saja, Sagara pasti kehilangan wanita ini.

Ia lantas mengecup genggaman tangan Hanaya. Netranya memejam perlahan sambil terus menggumamkan kata syukur. Nyawa Hanaya masih bisa ia peluk. Pria itu lantas memutuskan untuk tidur dengan posisi duduk sambil terus memegang tangan Hanaya. Takut jika wanita itu akan kembali berjalan dan pergi. Tanpa pengawasan Sagara sendiri.

BLOOM IN ASHESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang