Nara Keylovi

25 3 0
                                        

"NARAAAAA!!'' teriakan Mami Ghina menggelegar membuat para penghuni rumah menutup telinga mereka, termasuk gue yang di panggil.

Gue nutup telinga dengan bantal leher yang kebetulan tergantung di tepi ranjang gue. Btw, Nara. That's my name. Nara Keylovi anak Mami Ghina dan Papi Bram, dan seseorang yang baru saja dipanggil oleh seorang ibu jendral penguasa rumah. Siapa lagi kalo bukan Mami Ghina tercinta. 

Pecinta bunga juga Hobby memasak. Apa aja dia masak, termasuk masak-masakan yang kemarin alias ngangetin. Padahal, takut mubazir, dia pernah bilang. 

Di rumah gue biasa dipanggil Nara, ade, neng (ini khusus untuk bi Imas, katanya kalo di kampung anak seusia gue dipanggilnya neng) dan terakhir Key. Yang manggil gue Key cuman Wafi aja, aneh kan? banget.

Segitu dulu perkenalan pada pagi hari ini karna Mami Ghina udah gasabar untuk menyantap mangsanya yaitu gue.

"NARAAAAA!" panggilan kedua terdengar. Kali ini lebih jelas karna tepatnya Mami udah sampai di kamar gue, bahkan udah masuk ke kamar, huh. Here we go again.

"NARA UDAH JAM 7 NARAAA" drama pagi ini di buat oleh gue karna telat bangun yang artinya gue telat ke sekolah. 

"Bangun Naraa, Wafi udah nungguin di bawah dari tadi. Kamu masih enak-enakan tidur" 

Gadis itu mau tidak mau menghentikan aktivitas tidur nya. Menarik bantal leher itu menjauh dari wajah nya. Membangkitkan diri yang nyatanya masih tidak rela untuk berjarak dengan tempat tidurnya.

Kini posisi nya menjadi duduk dengan wajah khas bangun tidur dan rambut yang sudah tak terarah.

Mami Ghina hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak gadis satu - satunya itu yang suka sekali tidur. Sepertinya dulu ia tidak begitu, apa ini sifat Papi bram dulu, batin Mami Ghina. Mami Ghina menarik tangan gadis itu karna sudah geregetan dengan tingkahnya,  menariknya sampai ke dalam toilet. Bahkan gadis itu masih belum sadar dengan tarikan Maminya, tak habis pikir. 

BYURRR

Suara rintikan air keluar dari shower itu. Mami Ghina baru saja menggeser alat shower itu ke arah kanan yang menandakan air itu keluar. Jadilah Nara mandi bersama piyama bear nya itu. 

Gadis itu terkejut. "MAMI DINGINNN" keluhnya.

"Yang cepet mandinya Wafi udah nungguin tuh" Mami Ghina sepertinya tidak peduli dengan keterkejutan anak kesayanganya itu, ia justru menutup pintu toilet dan berjalan keluar dari kamar itu. 

🍀🍀🍀

📍 Meja makan kediaman keluarga Bram Fernando Lovi.

"Mm-mami jahat banget sama Nar-ra" ucap gadis itu dengan terbata - bata. "Jam 7 apaan orang masih jam 6 kur-rang" tambahnya lagi, seolah merasa dibohongi perihal manipulasi jam.

"Kalo nggak kaya gitu, kamu gabakal bangun. Kasian Wafi udah nunggu dari tadi tapi kamu malah enak-enakan tidur" pembelaan dari Mami Ghina.

Nara menatap malas Mami Ghina, mengambil roti coklat itu yang sudah selesai di olesi slay oleh Maminya.

Mami Ghina mengolesi roti yang lain dengan slay yang berbeda, Strawberry. Yang di pastikan ini bukan untuk Nara melainkan Wafi. 

"Lagian anak gadis itu harus bangun pagi Nara. Kamu kalau jam segitu belum bangun gimana mau jadi istri yang baik" sembari memberikan roti itu pada Wafi.

"Makasih tante" jawab seseorang yang ada di samping Nara. Wafi namanya. Lebih tepatnya Wafi Julian. 

"Sudah Mi nanti kita bicarakan soal itu, kalian berangkat sekarang? bukan kah sudah hampir telat?" lerai pria tua yang tak lain Bram Fernando Lovi, Papi Nara tercinta banget nget. 

Nara masih bete, tapi ia harus menghentikan kebetean ini dan buru-buru untuk berangkat ke sekolah, mengingat jam sudah mau menunjukan pukul 7. Terimakasih juga untuk Papi Bram karna berkat beliau perkelahian di meja makan ini berakhir.

"Nara jalan Mi, Paps" ucap nya sambil menyalimi tangan mereka satu persatu. 

"Hati - hati okay" tambah Mami Ghina. Tak lupa memberikan ciuman kening pada anaknya itu.

"Jangan telat makan Nara" petuah Papi Bram yang selalu mengingat kan Nara untuk selalu makan kapan pun, di mana pun. Mencium kening Nara tak lupa pelukan perpisahan khas seorang Papi dan anaknya. 

"Berangkat Tante, Om" ucap Wafi dengan sopan.

"Tolong jaga anak Om Wafi" tak lupa memberikan tepukan pada pundak anak cowok itu. 

Wafi hanya memberi senyuman sebagai jawaban. Dan setelah itu mereka keluar dari perkaraan rumah. 

🍀🍀🍀

Gadis itu melepas seltbealt yang terpasang pada dirinya. "Makasih Wafi"

Wafi mengangguk kan kepala. Sudah terbiasa, baik dalam perjalanan bahkan sampai di dalam sekolah tidak obrolan dari keduanya. Nara memang harus memulainya terlebih dahulu karna jika tidak, dipastikan di antara mereka tidak akan ada pembicaraan.

Nara sudah menahan keresahannya ini selama 1 tahun. Sudah cukup ketidak enakan dia pada Wafi terlampau sangat lama. Sekarang dia harus mengatakan nya.

"Kalo Wafi keberatan untuk antar-jemput Nara, Nara gakpapa kok. Nanti Nara yang bilang ke Bunda untuk gak dijemput lagi sama Wafi" ucap gadis itu tiba - tiba. 

"Nggak" 

Nara tidak mengerti yang dimaksudkan "nggak" itu apa? Wafi ini hobby banget bikin Nara naik darah.

"Nara bisa minta di anter sama Pak Nandi, Wafi" 

Wafi menghadap ke arah gadis itu sekarang. "Gue gak keberatan untuk nganter - jemput lo" ujar Wafi serius.

Nara menjadi kikuk sendiri sekarang, kok udara di sini panas ya? padahal masih pagi loh. Batin Nara.

"Ya- ya Nara gak mau maksa Wafi aja. Nara gak mau bikin Wafi terganggu karna harus jemput dan nganter Nara dulu" 

Wafi menaikan kan alis kirinya yang membuat ketampanan wajahnya bertambah 10 kali lipat "Gue biasa aja, okay"

"Masuk kelas sana!" ujarnya lagi. 

Nara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Nara gaenak sama Wafi tapiii" gadis itu rupanya merasa tidak enak jika harus - terus mengganggu Wafi. 

1 tahun kurang lebih Wafi menjemput dan mengantar Nara. Nara tahu bahwa Bunda nya lah "Ibu Wafi" yang meminta dia untuk mengantar dan menjemput Nara. Bahkan sampai saat ini di kelas 11 Wafi masih saja melakukan hal itu. Nara tidak mau itu membebani Wafi.

Wafi menatap lekat Nara. "Gue gak terbebani key" ujar Wafi serius.

"Gue duluan" setelah itu Wafi keluar dari mobil dan pergi menjauh dari parkiran. Meninggalkan kunci mobilnya begitu saja di mobil, Nara tak habis pikir oleh sahabat, bukan Wafi bukan sahabatnya. Oh, teman dekat banget? atau teman dari sahabat Mami nya?. Whatever, gue gak peduli tapi please, dia gak tau apa kalo gue, Nara Keylovi suka sama temen dari sahabat Maminya! 

Dari SMP bahkan, Wafi sadar atau pura-pura gak tau sih. Atau emang dia beneran gak tahu sama semuanya? tindakan nya ke gue, baik nya ke gue, perhatiannya ke gue. Dia sadar gak sihhh??. Some one help me, confus sama perasaan sendiri tuh nikmat ya. Bikin sakit hati, diri, jiwa, raga. Semua - muanya ikut terlibat.

Huh, sudahlah. Tampaknya tidak ada yang peduli soal perasaan tersembunyi Nara pada Wafi. Biarlah Nara pendam sendiri.

Menarik kunci itu dari stir mobil, menutup pintu dan tak lupa mengkuncinya. Tinit suara mobil itu oh jangan lupakan lampu kuning nya yang juga menyala pertanda mobil itu sudah terkunci.

Menghela nafas sebentar, lalu Nara berjalan menjauhi mobil itu juga. Kali ini dia harus cepat-cepat sampai di kelas karna kalau tidak, dia akan berurusan dengan Bu Delvi. Guru killer Ekonomi SMA Adiwiyata. 

🍀🍀🍀

Selamat Malam para jomblovers. Maaf Naranya ku rombak 100%. Tapi semoga kalian semua suka ya. Aku nulisnya pake hati dan semoga perasaanya juga sampe ke hati kalian. 

Jangan lupa untuk vote nya. Makasih banyak sudah membaca cerita Nara

-Mbull🦋

NARA [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang