Elsa dan Lina sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Sebelumnya Lina dan Elsa sudah ke rumah sakit untuk memastikan kehamilan Elsa. Dokter Erica sudah memastikan itu dan usia kehamilan Elsa sudah 3 minggu.
Mobil yang membawa Lina masuk ke halaman rumah besarnya disusul oleh mobil yang dikendarai oleh Elsa.
"Ayo, El kita masuk!" Lina menuntun Elsa ke dalam rumah. "Awas hati-hati!"
Elsa memutar bola matanya, menurutnya perlakuan kakaknya sangat berlebihan.
"Ayolah, Kak! Jangan memperlakukan aku seperti ini ... aku hanya hamil bukan sakit parah," protes Elsa.
Lina hanya tersenyum dan mengangguk saja. Sampai di dalam rumah, keduanya melihat Abian sedang berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan. Lina dan Elsa saling bertukar pandang sebelum Lina memutuskan untuk menghampiri suaminya.
"Mas Abi ... ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Lina.
Abian menggeleng, "Tidak Lina! Semuanya tidak dalam keadaan baik-baik saja."
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Lina membawa suaminya duduk di sofa di dekat mereka dan disusul oleh Elsa.
"Lina ...." Abian menggenggam tangan Lina. "Papah sama mamah sudah menyiapkan perempuan lain untuk menjadi ibu dari anak aku."
Lina langsung membekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Secepat itu kah?" Air mata Lina menetes.
"Maaf Lina ... aku juga tidak menduga ini." Abian mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi istrinya. "Aku akan mencari cara untuk menunda ini."
"Oh iya tadi kamu bilang ada kejutan untuk aku ... apa itu?" tanya Abian berusaha mengalihkan pembicaraan.
Lina merogoh tasnya dan mengambil amlop berisi hasil tes kehamilan milik Elsa yang ia ubah menjadi atas namanya.
"Apa ini?" tanya Abian.
"Buka saja," suruh Lina yang langsung diangguki oleh Abian.
Abian membuka dan mulai membaca apa yang tertulis pada kertas putih itu. Senyumnya mulai mengembang saat membaca jika Lina dinyatakan positif hamil.
"Kamu hamil?" tanya Abian dengan rasa bahagia yang luar biasa. "Kita harus beritahukan ini pada keluargaku."
Lina langsung mengangguk. Bukan aku tapi Elsa.
Abian tidak dapat menahan rasa bahagianya lagi, ia pun langsung memeluk tubuh istrinya dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada kening, pipi, dan terakhir pada bibirnya. Rasa bahagianya membuatnya tidak melihat keberadaan Elsa yang sedang duduk di dekat mereka.
Elsa langsung memalingkan wajahnya saat melihat Abian mencium bibir Lina. Entah ada apa dengan dirinya, mendadak timbul rasa iri di dalam hatinya. Elsa mengusap perutnya bersamaan dengan menetesnya cairan bening dari matanya.
Aku yang hamil bukan kak Lina.
"Hoeek ... hoeeek." Elsa merasakan perutnya mual, ia pun segera berlari kamar mandi yang ada di lantai bawah.
Apa yang terjadi pada Elsa membuat Lina dan Abian mengalihkan pandangan mereka. Keduanya langsung menyusul Elsa untuk melihat keadaanya.
"Elsa ... kamu baik-baik saja?" Lina mengetuk pintu kamar mandi.
Lina merasa cemas dan rasa cemas itu makin bertambah saat Elsa tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
"Elsa ... buka pintunya!" teriak Lina.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mencintai Suami Kakakku (Tamat)
RomanceKehadiran seorang anak bagi pasangan suami-istri memanglah hal paling di dambakan. Tidak pernah terbayangkan di dalam benak Elsa Maheswari jika kakak kandungnya sendiri, Lina Maheswari memintanya untuk melahirkan seorang anak dari benih suaminya. I...