Lies

1.1K 99 3
                                        

Pagi ini Tine merasa ada yang berbeda dari biasanya ketika ia memasuki gedung fakultasnya.
Dia merasa setiap orang yang melihatnya saling berpandangan dan membicarakan sesuatu tentangnya.

Sampai ketiga temannya menghampirinya memberi ucapan selamat.

"Ai Tine! Bisa bisanya kita jadi orang yang tau belakangan! Selamat ya!" ujar Phuak menepuk nepuk punggung Tine.
"Gila ya meung? Ada apaan?" balas Tine lalu menghempaskan tangan Phuak dari pundaknya.
"Lo masih berpura pura gak tahu Tine?" lanjut Ohm.
"Kebangetan teman kita yang satu ini. Kok bisa sih pacaran sama phi Mil ga bilang-bilang kita? Lo udah gak nganggep kita Tine?" sahut Fong.

"Oh itu." raut wajah Tine seketika berubah. Tak nampak raut wajah seseorang yang seharusnya sedang berbahagia.

Perjalanan ke kelas tak membuat Tine menceritakan banyak hal pada teman-temannya.

Sesampainya di kelas, seorang wanita bersama dua rekannya menghampiri Tine membawa setangkai mawar putih, "Ini Tine buat kamu dari phi Mil." ucapnya dengan senyum dan meninggalkannya.

Ada note kecil yang nenempel bertuliskan, "Selamat pagi sayang, semoga mawar ini mencerahkan harimu. Sama seperti kamu yang mewarnai hari-hariku."

Ketiga gadis itu pun saling berbisik satu sama lain, "Romantis banget ya phi Mil. Ada lagi gak ya yang begitu buat kita."
"Stocknya terbatas kayaknya" sahut yang satunya
"Beruntungnya Tine" ujar yang satunya lagi
"Dia nyelamatin dunia kali ya di kehidupan sebelumnya." Mereka pun terus mengatakan hal-hal serupa sambil berlalu keluar kelas.

"Meung! Pagi-pagi udah dapet mawar putih. Mana sweet banget lagi kata-katanya." goda Phuak.
"Udah lah pagi-pagi bikin pikiran aja nih orang-orang. Lagi kenapa berita begini cepet banget sih kesebar" ujar Tine meletakkan kepalanya di meja.

"Phi Mil kayaknya gak sabar ngasih tau dunia kalau lo pacarnya, Tine." jawab Fong yang duduk didepannya.
"Nih nih liat deh di instagram, phi Mil naro foto Tine pake caption 🤍 keren keren."

"Dahlah gue mau tidur." ucap Tine agar teman-temannya berhenti menggodanya. Ia merasa kesal sekaligus menyesali kebodohan atas keputusannya tadi malam.

Ia terlalu sedih melihat Sarawat memeluk Earn didepan matanya sehingga bisa mengambil keputusan bodoh untuk berpacaran dengan Mil.
'
Ai sat meung, Saraleo! Bisa-bisanya kau membohongiku. Bodoh sekali aku percaya kau menyukaiku. Kau pasti saat ini sedang menertawan kebodohanku ya. Berengsek.'  ujar Tine dalam hati

Kelas pagi mereka pun berjalan 2 jam.

Setelah itu, Tine berencana ke asrama. Namun ia melihat Mil didepan kelasnya, bersender memunggungi tembok sambil memainkan hpnya.

Seketika dilihatnya Tine dan teman-temannya keluar kelas. Pandangan mereka pun bertemu.
Tine yang biasanya ingin kabur dari saat-saat seperti itu, kali ini ia merasa harus bertanggung jawab dengan keputusan yang telah ia buat.

Sambil menarik nafas dan mengeluarkannya dengan berat, Tine menghampiri Mil yang berjarak tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.

"Kau tidak ada kelas, phi?"
"Hari ini kosong, aku hanya ingin bertemu dengan kekasihku yang manis." ucapnya mengelus rambut Tine.
"Oh." Kata-kata itu membuatku merasa sangat bersalah. Phi Mil terlalu baik, aku membohonginya. "Aku ingin ke kantin, phi mau ikut?"
"Tentu." jawabnya sambil menggandeng tangan Tine selama berjalan menuju kantin.
Teman-temannya saling bertatapan penuh arti.

Sesampainya di kantin.
"Kau mau pesan apa? Biar aku pesan"
"Pad thai aja, phi. Makasih ya."
"Oke. Sebentar ya." ucap Mil mengusap lembut telapak tangan Tine.
Mil pun berdiri dan berjalan untuk memesan makan.

The Love so Pure ( Sarawat x Tine )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang