Kurang apa sih Sarawat Gunthitanon.
Ganteng gak usah ditanya, pintar standard sih, tajir juga standard, pacar udah perfect banget.
Tapi kenapa masih pengen gebet anak fakultas Hukum, Tine Teepakorn.... kan jadi ribet urusan.
Banyak huru-haranya. Yan...
Mil tersenyum sambil menoleh pada Tine, "Gak usah dikenalin, kita tanding sepakbola kan kemarin. Lagian sesama kapten team masa gak kenal?"
"Oh iya.... Lupa phi." jawab Tine dengan senyum manisnya. "Tapi gapapa, aku senang kamu mempertegas status hubungan kita." jawab Mil seraya mengusap rambut Tine. Tine pun tersenyum menatap kekasihnya.
Senang dengan pemikirannya sendiri, Mil menyapa Sarawat, "Hai, Wat." "Hm. Hai, Mil." "Kau ketua klub musik ya?" tanya Mil. "Ya, seperti itulah." "Sibuk dong? Kapten football iya, ketua klub musik juga iya." puji Mil. "Gak terlalu." jawab Sarawat singkat. Dia tidak suka basa-basi. "Aku titip pacarku yang manis ini dulu ya." goda Mil sambil melihat kekasihnya.
"Hm." Sarawat mengangguk mempertegas jawabannya. "Aku pulang dulu ya, Tine. Nanti aku jemput. Tunggu aku." ucapnya mengelus tangan Tine.
Sarawat memalingkan pandangannya. Dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dia tidak pernah merasa cemburu pada orang lain.
"Krub phi." jawab Tine.
Setelah Mil pergi, Tine pun berjalan menuju para anggota klub berkumpul berlatih musik. Namun dengan cepat, Sarawat menarik Tine pergi ke tempat yang lebih sepi.
Sesampainya di tempat yang sudah tidak ada orang, Sarawat bertanya pada Tine. Pertanyaan yang sudah ada di kepalanya sejak semalam.
"Tine, kenapa kamu menerima Mil? Aku udah bilang kan akan menyelesaikan apapun itu antara aku dan Earn?" tanya Sarawat menyipitkan kedua matanya, meyakinkan Tine.
"Oh gitu?" jawab Tine sambil mengangkat kedua alisnya, hampir beranjak pergi namun tangannya ditahan oleh Sarawat.
"Tine... jangan seperti ini..." pinta Sarawat dengan raut wajah yang sedih. "Lepasin." paksa Tine, tapi Sarawat memegang tangannya dengan kuat. "Nggak, Tine." Sarawat tetap menahannya, "Yang kamu lihat tadi malam itu gak seperti yang kamu bayangin. Aku hampir..."
Tine melepaskan tangannya dari Sarawat, "Kamu benar phi. Aku bodoh. Aku percaya waktu kamu bilang kamu menyukaiku. Aku bodoh karena mudah kamu tipu daya dengan segala ucapanmu. Tapi ngga lagi phi. Aku lelah mengira perasaan kita sama."
Tine hampir mengeluarkan air matanya, namun ia tahan. Akan dicurigai orang-orang nanti pikirnya.
"Lupain semua yang pernah aku katakan padamu, phi. Lupain aku pernah berharap sama kamu." ujar Tine yang dengan susah payah membendung air matanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepanjang latihan musik, Sarawat hanya memperhatikan Tine yang berlatih gitar dengan senior lain. Ia berusaha sekuat tenaga menahan emosinya setiap kali ada orang lain yang mengajari Tine.
Tak tahan dengan pemikiran Tine akan dijemput Mil dan berduaan saja malam ini, ia pergi menghampiri Tine, menariknya dan mengatakan kepada anggota klub yang lain, "Kami pulang duluan. Ada urusan."
Seluruh anggota klub memperhatikan mereka keluar ruangan dengan terperangah.
"Kenapa kau suka sekali mengaturku dan bertindak sesukamu?" ujar Tine kesal. Mereka menuju parkiran ke arah mobil. Sarawat membuka pintu mobilnya mendorong Tine masuk.
Sarawat berputar ke pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil.
"Apa sih yang ada di pikiranmu, phi? Aku....." Sarawat menghentikan Tine dengan ciuman ke bibir Tine. Sudah lama ia menahan diri, tapi pertahanan dirinya roboh saat ini juga.
Tine mendorongnya.
"Apa-apaan..."
Sarawat menciumnya lagi, kali ini Tine tidak bisa menghentikannya, dia sendiri pun makin menikmati ciuman Sarawat.
Perasaannya semakin kuat terhadap Sarawat setiap hari, kali ini ia tidak sanggup menahannya lagi.
Sarawat menghentikan ciumannya, memegang leher Tine, dan menatapnya, "Jangan menghindar dariku, Tine. Hatiku sakit setiap kali kau melakukannya." Ia melanjutkan, "Percaya padaku, aku tidak memiliki perasaan pada Earn seperti yang aku rasakan padamu."
Mereka pun kembali berciuman dengan penuh hasrat didalam mobil. Tine membuka mulutnya mengisyaratkan Sarawat untuk masuk lebih dalam, menguasainya. Sarawat perlahan membuka kancing kemeja Tine, tapi kemudian Tine menghentikannya.
"Phi.... Aku butuh waktu. KITA butuh waktu." Penegasan itu menyadarkan Sarawat.
"Maaf Tine..." Sarawat memundurkan badannya sedikit dan mengusap pipi Tine, "Aku ngerti... Aku akan mengatakan semuanya pada Earn, aku harap kau juga segera mengakhiri hubunganmu dengan Mil. Aku gak akan sanggup harus selalu melihat dia disampingmu." Tine mengangguk.
Drt. Drt. Drt.
HP Tine bergetar, dilihatnya panggilan tersebut yang tak lain dari kekasihnya, "Aku sudah sampai Tine, tapi katanya kau sudah pulang dengan Sarawat. Apa aku perlu khawatir?" tanya Mil.
"Aku sedang dijalan pulang, phi. Aku kurang enak badan dan phi Sarawat mengantarku." "Lain kali bilang padaku Tine, aku cemas. Aku cemas kau sakit, aku juga cemburu kau dengan pria lain." ucapnya jujur, "Baiklah, hati-hati. Kabari aku jika sudah dirumah." "Iya phi. Maaf. Sampai jumpa." Tine menutup telfonnya.
Dari kejauhan. Mil melihat kekasihnya berciuman dengan Sarawat.
Sebenernya dia melihat semuanya daritadi. Dia sudah sampai sekitar 15menit lalu, niatnya menunggu Tine di dekat gedung. Tapi ketika para anggota klub mengatakan Tine pulang dengan Sarawat, dia ingin memastikan apa mereka sudah keluar parkiran atau belum.
Dilihatnya mobil Sarawat masih ada di parkiran, ketika hendak menghampirinya untuk menanyakan Tine, dia tak menyangka melihat pemandangan yang begitu menyakitinya.
Dia tak pernah mengira, pacarnya yang sangat ia sayang, bisa memiliki hubungan dengan orang lain dibelakangnya.
Tapi Mil begitu mencintai Tine, dia akan mempertahankan status hubungannya apapun yang terjadi. Dia tak bisa kehilangan Tine apalagi ketika sekarang dia sudah memilikinya.
Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin Tine terbawa suasana, mungkin ia hanya sedang bingung dengan perasaanya, Tine tidak mungkin mengkhianatinya.
Seberapa kuat ia meyakinkan dirinya sendiri, itu tetap sangat menyakitinya. Ia tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, terlalu ingin mempertahankan seseorang. Padahal dia dikelilingi oleh banyak orang yang menyukainya.
Sebelum berpacaran dengan Tine, dia memiliki seorang kekasih dan cukup lama berpacaran. Tapi ketika ia tahu dirinya diselingkuhi, tanpa pikir panjang ia mengakhiri hubungannya. Tapi kali ini berbeda, Tine berbeda.
'Aku akan memperjuangkanmu Tine. Aku akan mempertahankanmu dan berusaha meyakinkan hatimu, bahwa aku yang terbaik untukmu, Tine. Hanya aku.'
•Jadi kira-kira siapa nih yang nanti perjuangannya bakal memenangkan hati Tine?"