03 : butterfly

398 44 8
                                        

typo everywhere

WARNING PLAGIAT DILARANG MENDEKAT !!!

" it's a butterfly?."

🥀

Dibawah jingganya langit sore Devano dan Jovan menyudahi sesi bermain mereka, menghampiri Dinar yang tengah menatap mereka berdua dengan wajah bahagia. Orang-orang yang melihat mereka pasti mengira ketiga nya adalah keluarga kecil yang bahagia, Dinar dan Devano yang terlihat seperti mama dan papa muda mengurus anaknya dengan bahagia.

Devano tengah memangku Jovan duduk di kain yang memang digelar untuk diduduki diatas rerumputan taman,

"Jo turun nak ... duduk sendiri. Kasian om nya capek juga." Titah Dinar pada sang anak

" no ... Jo ingin duduk dipangku om ganteng." Rengek Jovan tak mau.

" nggak papa biarin aja." Kekeh Devano mengelus kepala Jovan dengan lembut.

Devano dan Jovan masih asik bercanda berdua. Sedangkan Dinar asik melihat-lihat sekitarnya kian sepi, entah tiba-tiba hawanya bukan dingin malah terasa gerah. Perembuan cantik itu menggelung rambutnya asal, sehingga tanpa ia sadar satu rajah kupu-kupu terlihat jelas oleh kedua manik kembar Devano.

"It's a butterfly?" Tanya Devano. Membuat dahi sicantik mengernyit bingung, alhasil Devano menepuk leherya sendiri dengan pelan. Mengisyaratkan bahwa ia menanyakan rajah di bawah lehernya.

"Ah ... Ini ?. Iya kupu-kupu." Jawab Dinar singkat.

Devano tersenyum samar melihat tingkah Dinar yang seperti anak kecil kepergok memakan eskrim terlalu banyak.

"Ayo jagoan saatnya kita pulang!" Ucal Devano tiba-tiba sambil memberdirikan Jovan dari pangkuannya.

"Bunda aku mau sama om ganteng." Rengek si kecil melihat sang bunda melas.

"No darling, waktunya pulang. Tadikan udah main sama om ganteng lama banget, sekarang sudah gelap waktunya kembali kerumah oke."

Mendengar jawaban yang tidak sesuai seperti apa yang ia inginkan. Jovan malah menutup wajahnya dengan kedua tangan mungil miliknya. Bocah itu sedang memberi tanda bahwasannya dia sedang merajuk dan pastinya sebentar lagi akan menangis.

"Hei jagoan, nggak boleh nangis dong. Harus nurut sama bunda besok kita main lagi oke." Devano berusa membujuk Jovan untuk nurut pada sang bunda.

---

Devano baru saja sampai dirumah menjelas langit sudah benar-benar gelap, yang pastinya banyak timbul pertanyaan-pertanyaan yang ia terima dari orang rumah. Sebelum masuk kedalam kamarnya,

"dek!!" Panggil seorang perempuan dari luar kamar Devano.

Mau takmau lelaki itu beranjak dari duduknya, membuka pintu kayu berwarna hitam miliknya itu dengan malas,

"Kenapa kak?" Tanya Devano, begitu mengetahui siapa yang berada dibalik pintu kamarnya.

Tanpa mau menjawab pertanyaan adiknya, Anelise. Kakak perempuan Devano itu masuk kedalam kamar adiknya,

" Tumben pulang telat, nggak ngabarin lagi." Ucal Anelise yang kini telah merebahkan badannya di sofa yang ada dikamar Devano.

" Ada urusan penting tadi," Jawab Devano malas melihat kakaknya itu. " Lagian sekali-kali pulang telat nggak masalah kan."

Anelise menatap adiknya curiga, " Urusan penting? serius urusan penting?" Tanya Anelise mentap adiknya sambil mengerutkan dahi.

" Apasih kak, nggak jelas banget lo. Masuk-masuk nanyain hal yang nggak penting, sana-sana gue mau istirahat." Devano mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan kakak-nya yang sangat cerewet itu.

" Kakak tau kok kamu habis main sama cewek terus ada anak kecil juga, jangan-jangan selama ini ... " Omongan Anelise terpotong sebab Devano lebih dahulu berbicara.

" Apa hah!! jangan ngaco ya kalau ngomong." Sanggah Devano kesal pada ucapan kakaknya yang mulai ngelantur.

" Ya abisnya nggak mau cerita, cerita ih itu cewe sama anak kecil tadi siapa." Anelise memainkan alisnya sambil tersenyum jail membuat Devano menghembuskan nafas kasar.

Kadang ia lelah memiliki kakak seperti Anelise yang cerewet banyak mau, suka jahil dan satu lagi suka main kekerasan seperti mencubit dan menampar dirinya seenaknya saja. Devano duduk dipinggir kasur menghadap kakaknya yang ada disofa, menatap Anelise dengan jengkel karna kakaknya ini banyak mau dan sangat kepo.

" Devano cerita kakak nggak boleh berisik jangan nyela omongan Dev, oke deal." ucap

" Oke janji nggak berisik." Anelise mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V dengan senyum yang menjengkelkan bagi Devano.

Setelah Anelise mulai menampak kan wajah seriusnya, baru Devano menceritakan tentang apa yang ingim kakaknya itu ketrahui. Mulai dari pertemuannya dengan Dinar di cafe depan komplek perumahannya, hingga di senja hari ini.

" Oh My Gosh! are you lying?" Anelise menatap adiknya tak percaya, sejujurnya bukan tak percaya tapi ada sedikit rasa khawatir dihatinya sebagai seorang kakak perempuan.

" Udah kan kakak juga udah tau apa yang pengen kakak tau, jadi keluar sana. Nggak usah kepo lagi husss ... hussss ... pergi Dev mau tidur." Devano berdiri dari duduknya menarik kakaknya dengan lembut untuk keluar dari kamarnya.

Begitu kakaknya yang cerewet itu pergi dari kamarnya, baru Devano mengunci rapat-rapat teritori-nya . Rintik air yang turun dari atas langit masih setia untuk tetap jatuh menyapa bumi, cuaca memang tidak bisa diprediksi akhir-akhir ini buktinya. Tadi siang terasa sangat panas dan tadi saat ditaman juga langit masih sangat bersahabat, namun entah kenapa tiba-tiba langit menurun kan hujan untuk bumi.

Kini yang mengganggu pikiran Devano adalah Dinar dan tatto kupu-kupu perempuan itu, gadis itu terlihat sangat lembut, senyumnya begitu menawan dan caranya ia bicara persis mengingatkan Devano pada sosok Naina Nairatna. Gadis yang amat ia cintai tapi terhalang oleh keyakinan.

TBC

Hello nunggu Devano lama ya .... sorry ya lama banget updatenya

komen ya ramein 20 komen lanjut deh hehehe pd banget bakal dapet komen segitu.



Devano - jaehyunTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang