7.

303 61 0
                                        

"Apa mau mu sialan!" Seru Rosé kepada pria di hadapannya.

Pria itu hanya tersenyum, "tidak banyak Rosé, cukup dengan anak-anak itu musnah saja sudah membuatku bahagia." Ujarnya dengan seringaian kecil.

"Hey, bedebah sialan! Apa kau tidak bisa berfikir secara logis? Ckck, bodoh sekali." Timpal Chaeyoung sembari memasang raut wajah mengejek kepada pria tersebut.

Pria tersebut kemudian tertawa kecil setelah Chaeyoung menyelesaikan kalimat hinaan untuknya, "Waahh, sejak kapan kau pandai membuat orang kesal Chae?" Katanya sembari tersenyum lebar.

"Udah stupid, eh, gila juga ternyata." Namun yang namanya Chaeyoung mana bisa takut kepada orang modelan pria dihadapannya.

"Cepat katakan apa maumu." Ucap Rosé datar.

"Rosé─"

"Aku menyuruhmu mengatakannya saja, jangan memanggil nama ku, sial!" Potong Rosé dengan cepat saat pria tersebut hendak bertele-tele kembali.

"Aih, galak sekali calon istri ku ini." Ucapnya mendramatisir yang langsung mendapat pukulan cantik di dahinya dari Chaeyoung yang kebetulan berdiri didekatnya.

"Jangan sekali-kali lo sebut kembaran gue calon istri lo! Karena nyatanya lo cuma bisa sakitin dia dan ninggalin dia gitu aja! Pantes ga kek gitu disebut calon suami!!??? Pengecut!" Amarah Chaeyoung yang sedari tadi terpendam pun diluapkan kepada pria tersebut.

Rosé hanya memandang datar pria didepannya tanpa berminat untuk berekspresi. Rosé hanya mencoba menutupi sakit hatinya yang membekas karena pria dihadapannya ini. Jika ditanya, apakah sakit? Rosé dengan pasti dan yakin akan menjawab 'ya, sangat sakit' karena memang nyatanya seperti itu. Rosé saja yang terlalu mencintai pria tersebut hingga lupa untuk mencintai dirinya sendiri. Juga Rosé sedang berusaha untuk melupakan pria tersebut dan membuka hati bagi pria lain yang lebih mengerti dirinya.

"Sudah Rosé, ayo putar balik, pasti mereka menunggu kita," ucap Chaeyoung menarik tangan Rosé yang masih terdiam.

"Brengsek." Satu kata yang keluar dari mulut Rosé sebelum pergi dari hadapan pria tersebut. Namun respon tak terduga pria tersebut mampu menghentikan langkah si kembar.

"Siapa yang lebih brengsek Rosé? Kau yang satu atap bersama pria lain? Atau aku yang meninggalkan mu untuk urusan bisnis tanpa kau tahu bisnis apa itu?"

"Tutup mulut mu Kim." Ujar Chaeyoung penuh penekanan.

"Hahahaha, baiklah. Silahkan pergi tuan putri." Pria itu meninggalkan si kembar yang masih mematung untuk masuk kedalam hutan tempat ribuan zombie bersarang.

Tes..

Satu tetes,

Tes..

Dua tetes,

Tes..

Tes..

Tes..

Semakin banyak air mata yang dikeluarkan oleh Rosé, Chaeyoung yang melihat pun segera memeluk kakaknya yang rapuh itu.

"Cukup, jangan menangis dikeadaan seperti ini." Tegas Chaeyoung, tetapi Rosé masih terus menangis tanpa suara didalam dekapannya.

"Sebegitu bencinya ia kepada ku Chae, aku merasa bersalah kepada anak-anak itu.. Aku bodoh." Rosé berujar ditengah isakan kecilnya.

"Berhenti mengatai diri sendiri bodoh!" Tekan Chaeyoung. "Jika kau seperti ini, dia akan senang karena berhasil membuat mu rapuh. Bangkit Rosé, masa depan mu masih jauh. Kau akan dimarahi habis-habisan jika mommy tau anaknya serapuh ini." Chaeyoung terus menggumamkam kata-kata motivasi.

The Virus is Beginning | Treasure13Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang